<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>W I S A T A N E W S</title>
	<atom:link href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz</link>
	<description>informasi dunia pariwisata Indonesia</description>
	<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 02:59:16 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>WISATA MERAKYAT DI ISTANA RAKYAT</title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/07/01/wisata-merakyat-di-istana-rakyat/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/07/01/wisata-merakyat-di-istana-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 02:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[destinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Wisata gratis yang merakyat jadi obat di saat kondisi ekonomi melambat. Sejak akhir Mei 2008, Istana Kepresidenan Jakarta membuka pintu lebar-lebar bagi rakyatnya yang ingin berwisata. Meski dibuka hanya weekend, tapi sambutan rakyat sangat hangat. Apalagi tak dipungut bayaran. Istana Kepresidenan kini jadi Istana Rakyat, pada Sabtu dan Ahad.
Sekat-sekat penghambat masuk ke Istana Negara kini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/07/wisata-istana-3-dok-sekneg.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-202" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/07/wisata-istana-3-dok-sekneg.jpg" alt="" width="500" height="752" /></a>Wisata gratis yang merakyat jadi obat di saat kondisi ekonomi melambat. Sejak akhir Mei 2008, Istana Kepresidenan Jakarta membuka pintu lebar-lebar bagi rakyatnya yang ingin berwisata. Meski dibuka hanya weekend, tapi sambutan rakyat sangat hangat. Apalagi tak dipungut bayaran. Istana Kepresidenan kini jadi Istana Rakyat, pada Sabtu dan Ahad.<br />
Sekat-sekat penghambat masuk ke Istana Negara kini tak ada lagi, setelah Presiden SBY membuka gembok pintu istana, bagi rakyat yang ingin melihat langsung kondisi riil istana. Sekaligus rakyat bisa tahu dan bangga memiliki bangunan warisan bersejarah yang masih tetap berdiri tegak dengan ratusan koleksi benda sejarah, yang terjaga sempurna.<br />
Dalam catatan, pintu istana pernah dibuka pertama kali oleh Presiden KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Namun kembali dilarang setelah adanya penggantian presiden baru. Padahal, di negara lain, Istana Kepresidenan atau kerajaan, seperti Gedung Buckingham Palace, sudah memiliki program tur istana dengan konsep yang jelas, terjadwal, dan kemudahan birokrasi.<br />
Kini rakyat kembali bersyukur, Istana dibuka untuk wisatawan, untuk rakyat, apalagi tak ada pungutan sepeser pun alias gratis. Meski hanya dibuka pada setiap Sabtu dan Minggu, mulai pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB, namun antusias masyarakat Ibukota dan sekitarnya, harus diacungi jempol.<br />
Birokrasi berwisata Istana cukup sederhana. Datang langsung membawa kartu tanda penduduk, berpakaian rapi, tak boleh pakai kaos, tak boleh celena pendek, pakai sepatu, tak boleh bawa kamera, dan bersikap sopan. Wisatawan langsung masuk ke Gedung Sekretaris Negara (Sekneg) dan sudah ada tenda panitia yang menyambut ramah untuk didata identitasnya.<br />
Setelah menunggu giliran pemberangkatan di ruang tunggu, wisatawan bisa melihat-lihat toko cinderamata Istana dengan menjual aneka souvenir seperti kaos, gantungan kunci, topi, korek api, stiker, pulpen, jam, arloji, tremos, cangkir, payung yang semuanya berlogo Istana.<br />
Setelah ada panggilan, setiap rombongan akan diangkut dengan bus kapasitas 20 hingga 25 orang dengan seorang pemandu. Bus melaju ke dalam lingkungan Sekneg dan berhenti di gedung Serba Guna yang disulap mirip gedung bioskop untuk menyaksikan sejarah Istana Merdeka, yang dibangun tahun 1873, pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Louden dan selesai tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Johan Willem van Landsbarge.<br />
Bangunan bergaya arsitektur Yunani Kuno, berdiri di atas tanah seluas 2.400 meter persegi, dirancang arsitek Drossares. Istana ini dikenal dengan Istana Gambir. Karena masa awal pemerintahan RI, istana ini jadi saksi sejarah dilakukannya penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Republik Indonesia Serikat diwakili Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kerajaan Belanda diwakili A.H.J Lovink, Wakil Tinggi Mahkota di Indonesia.<br />
Setelah penandatanganan naskah kedaulatan Republik Indonesia Serikat, bendera merah putih dikibarkan menggantikan bendera Belanda, bersamaan dengan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dan pekik merdeka oleh bangsa Indonesia. Sejak saat itu, nama Istana Gambir diganti menjadi Istana Merdeka.<br />
Setelah 17 menit duduk manis di bioskop nonton film dokumenter, lantas berjalan kaki menuju pintu masuk ke halaman Istana Merdeka, yang sebelumnya melalui alat metal detektor. Wisatawan akan disambut pohon besar yang rindang, teduh dan suasananya begitu sejuk dan bikin ngantuk. Pohon itu diberi nama pohon Ki Hujan. Di lingkungan Istana seluas 6,8 hektar ini ada 84 jenis pohon, bahkan ada pohon yang langka.<br />
Pohon Ki Hujan atau trembesi sendiri jumlahnya ada sekitar 9 pohon, yang sudah ada sejak tahun 1870, malah pohon itu berdiri kokoh sebelum Istana ini dibangun. Di samping itu, ada pohon sawo manila, kol bandam atmim, kaliandra, tangkolo, mahoni, sawo duren, soga, bungur besar sampai pohon kelapa sawit pun tumbuh. Juga yang tak kalah menariknya ada pohon katus yang dimasukkan dalam dua rumah kaca. Kaktus ini hadiah dari Ratu Monaco Grace Kelly untuk Ibu Tien Soeharto.<br />
Selain merasakan kesejukan saat masuk ke halaman Istana Merdeka, juga kedamaian karena terdapat masjid tua &#8216;Baiturrahman&#8217;, yang dibangun tahun 1958 oleh aritektur Sudarsono, yang juga membangun Wisma Negara, yang dulu diperuntukkan buat penginapan tamu-tamu negara dari penjuru dunia, karena keterbatasan hotel pasca Proklamasi Kemerdekaan<br />
Setelah melihat masjid tua, kaki terus melangkah ke depan Istana Merdeka. Dan seorang fotografi Istana menyapa kedatangan rombongan sekaligus menata rombongan untuk difoto bersama di tangga istana. Hasil jepretan itu nanti dapat dibeli ketika mau meninggalkan Istana.<br />
Tangga depan istana dijaga dua petugas Paspampres, yang berpakaian Merah Putih dengan memegang senjata laras panjang. Mereka berdiri di trap tangga paling atas dengan wajah menatap arah Monas. Tangga itu terbuat dari batu mamer yang jumlahnya 16 tangga dengan panjang 21 meter. Di tangga depan Istana Merdeka ini, biasanya digunakan para menteri untuk potret bersama dengan presiden setelah dilantik menjadi menteri.<br />
Setelah menapaki tangga, di pintu barat Istana Merdeka pasti disambut patung perunggu hulubalang membawa kotak. Sebuah pemandangan menakjubkan ketika kaki menginjak masuk Istana pasti disambut dua lampu kristal besar seberat 500 kg asal Cekoslovakia, yang mengelantung di tengah ruangan. Juga lukisan timbul yang terdapat di langit-langit dan dindingnya. Bahkan, di bawah lampu kristal terhampar karpet buatan tangan asal Persia, yang dikerjakan selama 5 tahun. Karpet ini sudah ada sejak jaman Bung Karno. Saking tuanya, karpet itu hukumnya &#8216;haram&#8217; diinjak, kecuali saat ada penyambutan tamu negara.<br />
Juga ada sepasang gading gajah warna putih bersih, yang usianya setelah presiden masuk ke Istana Merdeka tahun 1949, setelah lama hidup di pengasingan. Selain itu, puluhan beragam benda-benda koleksi peninggalan Presiden pertama Bung Karno. Ada piring hias porselin. Ada jambangan porselin dari Dinasti Meiji Jepang juga buatan China pada abad XIX. Ada lagi patung perunggu penunggang kuda dari Hongaria. Ada vas bunga dari Korea Utara.<br />
Malah lukisan Pangeran Diponegoro hasil karya Basoeki Abdullah yang dibuat tahun 1949, juga ada lukisan &#8216;Penangkapan Diponegoro&#8217; yang dilukis pelukis Raden Saleh yang dibuat tahun 1857, yang masih tetap dijaga warnanya dan lukisan ini menjadi saksi sejarah. Karena Raden Saleh melukis saat kuliah di Belanda dan lukisan ini dihadiahkan kepada orang Belanda yang menjadi sahabatnya. Dan 100 tahun kemudian, Desember 1949, saat Belanda mengakui kemerdekaan RI dan menandatangani surat perjanjian di Istana Merdeka, Ratu Yuliana menghadiahkan kembali lukisan itu ke Bung Karno.<br />
Juga ada lukisan Jenderal Sudirman. Ada Lukisan Imam Bonjol karya Harjadi. Ada lukisan Gajahmada yang dibuat Henk Ngantung tahun 1950. Ada lukisan Dr. Cipto Mangunkusomo yang dibuat Sudarno tahun 1951. Dan masih banyak lagi koleksi sejarah yang masih terpelihara.<br />
Keberadaan Istana Merdeka memang diperuntukkan acara formal kenegaraan seperti tempat peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus, yang pertama kali digelar di Istana Merdeka pada 1950. Dan untuk pagelaran Parade Senja, serta jamuan makan bagi tamu penting lainnya. &#8221;Selain itu, Istana Merdeka untuk upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan Duta Besar negara-negara sahabat,&#8221; ucap Fitria, pemandu wisata.<br />
Karena itu, selain hall besar juga ada ruangan tunggu tamu Duta Besar Negara. Ada ruang Kredensial yang digunakan presiden untuk menerima surat kepercayan dari para duta besar. Juga ada ruang resepsi yang ukurannya lebih besar. Ruangan ini digunakan untuk menjamu para tamu negara. Hal menarik lainnya, terdapat satu ruangan di istana yang pantang dimasuki. Bukan karena mistis, penuh rahasia tapi karena ruangan ini menjadi tempat penyimpanan bendera pusaka dan lembaran asli naskah proklamasi sehingga harus dijaga kelembabannya. Ruang penyimpanan bendera ini merupakan bekas kamar tidur Bung Karno.<br />
Puas berada di dalam Istana Merdeka, selanjutnya kita diajak melintasi taman di belakang Istana Merdeka, yang nampak bersih, terawat dan indah karena dihiasi patung-patung kecil yang jumlahnya puluhan dengan berbagai model. Termasuk sebuah patung petapa tua berusia 300 tahun terbuat dari kayu dan tidak dimakan rayap.<br />
Di taman, juga terdengar suara-suara burung yang khas. &#8221;Burung-burung ini dulunya dikandangin, tapi waktu Ibu Mega jadi presiden, burung-burung ini dilepas bebas. Anehnya, mereka enggak kabur, malah berkembang biak,&#8221; ungkap Fitria polos.<br />
Di pinggir taman ada gazebo atau dulu di zaman Belanda disebut ”kupal” tempat untuk pemain musik pada pesta kebun. Di era Soekarno, Kupal dipakai tempat belajar atau home schooling bagi anak-anak Presiden, salah satu yang ikut mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Era Susilo Bambang Yudhoyono, Gazebo sering digunakan untuk pertemuan informal.<br />
Saat berjalan melawati taman yang indah, nampak Kantor Kepresidenan, bagian belakang Istana Negara juga wisma negara. Istana Negara kini menjadi tempat Presiden dan Ibu Ani tinggal.  Sejarah Istana Negara yang dibangun tahun 1796, semula untuk kediaman pribadi seorang warga negara Belanda J.A van Braam.  Tahun 1816 bangunan ini diambil alih pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jendral Belanda. Karenanya pada masa itu istana ini disebut juga sebagai Hotel Gubernur Jendral. Mulanya bangunan yang berarsitektur gaya Yunani kuno itu bertingkat dua, namun pada tahun 1848 bagian atasnya dibongkar, dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang, tanpa perubahan yang berarti. Luas bangunan ini lebih kurang 3.375 meter persegi.<br />
Sesuai  fungsi istana ini, pajangan serta hiasannya cenderung memberi suasana sangat resmi. Bahkan kharismatik. Ada dua buah cermin besar peninggalan pemerintah Belanda, disamping hiasan dinding karya pelukis - pelukis besar, seperti Basoeki Abdoellah. Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara. Diantaranya ketika Jendral de Kock menguraikan rencananya kepada Gubernur Jendral Baron van der Capellen untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Juga saat Gubernur Jendral Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Setelah kemerdekaan, tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.<br />
Istana Negara berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, diantaranya menjadi tempat penyelenggaraan acara - acara yang bersifat kenegaraan, seperti pelantikan pejabat - pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah, dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasioal, dan tempat jamuan kenegaraan.<br />
Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih kurang 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Negara sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan Negara.<br />
Dari wisata kepresidenan, memang hanya Istana Negara yang tertutup bagi kunjungan wisatawan. Karena Istana Negara menjadi tempat tinggal Presiden. Memang dari enam presiden yang memimpin Negara ini, hanya tiga presiden yang mendiami Istana, yakni Presiden Sukarno, Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Inilah rumah rakyat, rumah bangsa yang kini menjadi tujuan wisata. (endy)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/07/01/wisata-merakyat-di-istana-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MENGISI LIBURAN MENJELAJAH ALAM</title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/07/01/mengisi-liburan-menjelajah-alam/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/07/01/mengisi-liburan-menjelajah-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 02:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[berita wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Liburan sekolah telah tiba. Meski bertepatan pelaksanaan Pemilu Presiden 2009, namun niat dan minat berwisata untuk menghilangkan kejenuhan dan rutinitas sehari-hari, tak boleh kendur. Belum tahu kemana harus berwisata? Ternyata di pinggiran Ibukota Jakarta, ada beberapa alternatif wisata alam yang tak kalah asyiknya untuk dijelajahi. Back to nature, pilihan berwisata yang tepat dalam menghabiskan waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Liburan sekolah telah tiba. Meski bertepatan pelaksanaan Pemilu Presiden 2009, namun niat dan minat <a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/07/green-house-melon1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-198" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/07/green-house-melon1-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a>berwisata untuk menghilangkan kejenuhan dan rutinitas sehari-hari, tak boleh kendur. Belum tahu kemana harus berwisata? Ternyata di pinggiran Ibukota Jakarta, ada beberapa alternatif wisata alam yang tak kalah asyiknya untuk dijelajahi. Back to nature, pilihan berwisata yang tepat dalam menghabiskan waktu liburan.</p>
<p>Wisata alam memang sampai kini masih menjadi primadona. Selain kualitas udara yang segar, bersih, sejuk juga dapat mengenal lingkungan, kehidupan alam yang memiliki pesona luar biasa. Pertimbangan lain berwisata alam karena memiliki sederetan obyek wisata yang tak akan ada habisnya. Ada kawasan hutan lindung, kawah gunung berapi, perkebunan, air terjun, air panas dan bumi perkemahan yang semua destinasi itu ada di seputaran Jakarta<br />
Keberadaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memang sudah tak asing lagi. Beragam obyek wisata kebudayaan, kesenian, sejarah, museum, tempat rekreasi dan wisata alam yang sejuk, tak habis dinikmati dalam tempo sehari. Apalagi tempat wisata di Jakarta Timur, kini sudah memiliki Desa Wisata yang dilengkapi penginapan murah bernuansa pedesaan, bersahabat dengan alam.<br />
Berdiri di atas lahan seluas 3,5 hektare, Desa Wisata menyediakan tempat istirahat berkapasitas hingga 450 orang. Konsep rumah inap ini dilengkapi kamar tidur dan fasilitas lain yang membuat wisatawan semakin betah. Awalnya tempat itu diperuntukkan bagi pelajar di Tanah Air yang ingin berwisata budaya di Taman Mini. Namun wisatawan juga banyak tertarik untuk menginap, menikmati kesejukan udara pinggiran Ibukota.<br />
Bosan berwisata di TMII, bisa langsung ke Taman wisata Mekarsari merupakan salah satu tujuan wisata dalam negeri. Beragam wahana tumbuhan bisa ditemukan di taman buah yang terletak di kawasan Cileungsi, Bogor. Berwisata sambil mengenal berbagai tanaman buah sekaligus menikmati buah-buahan segar, juga dapat belajar bercocok tanam.<br />
Dengan tiket terjangkau, wisatawan dapat mengenal jenis tanaman yang jumlahnya mencapai hampir 1.500. Mekarsari adalah kebun buah-buahan tropis terkomplet di Indonesia bahkan terlengkap di dunia. Bahkan, di lokasi wisata ini wisatawan bisa mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mengenal berbagai tanaman. Sementara Rumah Pohon di tengah-tengah areal Mekarsari memberikan kepuasan tersendiri bagi pengunjung yang hendak bermalam. Mereka juga dapat berkeliling menggunakan bus yang telah disediakan sambil menikmati area wisata seluas 264 hektare.<br />
Mirip dengan Mekarsari, ada wisata agro di Citeruep Bogor, Kebun Wisata Pasir Mukti. Obyek wisata ini menjadi tujuan wisata favorit anak-anak, terutama saat liburan sekolah. Karena dilengkapi beberapa kegiatan wisata yang ditujukan bagi anak-anak seperti menanam padi, memandikan kerbau, menangkap ikan, dan memberi makan bebek.<br />
Namun, buat orang dewasa pun banyak yang bisa dilakukan di tempat luas yang penuh hamparan dan berbagai tanaman ini, wisatawan juga berkeliling melihat kebun anggrek dan lahan kebun buah serta tanaman obat, jalan-jalan di sawah, bermain air di kali. Di kawasan ini, juga restoran dengan menu masakan tradisional yang sangat memuaskan.<br />
Obyek wisata lain, ada Kampoeng Wisata Cinangneng, di kawasan Kecamatan Ciampea, Bogor. Di tempat ini, kebiasaan dan adat isitiadat masyarakat desa sampai sekarang masih tetap terpelihara, sepe<a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/07/kano-di-danau-mekarsari1.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-199" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/07/kano-di-danau-mekarsari1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>rti wayang kulit, tarian adat Sunda, hidangan khas kampung, serta upacara dan ritual bertani dan berkebun dapat Anda jumpai secara lengkap dari zaman ke zaman.<br />
Kehidupan harmoni yang eksotik inilah yang menjadi daya tarik di Kampung Wisata ini yang membuktikan bahwa Tradisi dan Modernisasi dapat berdampingan dan terpelihara dengan baik. Selain menawarkan keindahan dan pesona alam, seperti pegunungan, sungai, kebun dan indahnya hamparan petak sawah yang menjalin indah, flora dan faunanya serta kombinasi antara kegiatan alami pedesaan dengan program-program wisata budaya yang menarik, menyehatkan, serta dapat diikuti oleh semua orang.<br />
Dan, tempat ini pun menyuguhkan berbagai aktifitas yang sangat mendidik bagi keluarga terutama putra-putri Anda. Ini dapat dirasakan dan dinikmati dengan tawaran yang disuguhkan seperti bagaimana cara menanam, memelihara dan mendapatkan hasil dari berbagai tumbuh-tumbuhan.<br />
Juga ada kawasan pemandian air panas di Gunung Pancar, Sentul Bogor. Selain pemandian umum, di kawasan ini ada resor and spa Giritirta Hot Spring. Banyak paket spa yang ditawarkan dengan harga terjangkau yang dilengkapi berbagai pilihan perawatan mulai Hot Spring Hydrotherapy, massage, scalp treatment, facial, body scrub, dan manicure-pedicure.<br />
Namun bila ingin berendam saja, disewakan ruang-ruang kolam air panas yang memiliki gazebo dan dilengkapi shower. Ruang berpemandangan alam ini berkapasitas hingga 5 orang. Selain pemandangan alam desa yang menyejukkan mata. Kawasan ini memang terpencil dan susah ditempuh, namun perjalanan akan terobati dengan suasana pedesaan yang belum pernah dirasakan bagi wisatawan yang beraktifitas di perkotaan.<br />
Obyek wisata lain yang tak kalah menarik, pemandian air hangat Tirta Sanita di Desa Ciseang Parung Bogor juga dilengkapi taman wisata yang teduh. Air hangat dari Bukit Pekapuran yang mengalir di dalam kompleks wisata ini. Air hangat ini mengandung garam, kapur dan belerang sehingga sangat cocok untuk penyegaran tubuh atau menurut masyarakat sekitar dapat menyembuhkan penyakit rematik, asam urat serta penyakit kulit.<br />
Air yang bersuhu sekitar 35-40 derajat Celsius itu dialirkan melalui selang-selang dan ditampung dalam 14 bak kamar mandi dan 12 bak mandi VIP. Bak yang ada di desain seperti bath up sehingga pengunjung dapat berendam dengan leluasa. Dan suhu air yang tak terlalu panas sangat nyaman untuk berendam, asalkan airnya tidak terminum sebab airnya sangat asin.<br />
Lebih dekat lagi dari Jakarta, ada kawasan wisata alam bernama Tanah Tinggal di Ciputat Tanggerang, dekat dengan Jakarta Selatan. Destinasi ini memiliki fasilitas wisata alam mulai dari permainan anak-anak, kolam renang, flying fox, hingga berlayar dengan kano, yang dapat dinilkmati di antara rindangnya pepohonan berusia lebih dari 20 tahun. Berbagai pohon menjulang ke angkasa, seperti pohon beringin dan pohon bodhi.<br />
Pohon bodhi merupakan tanaman langka yang telah berumur hampir 30 tahun. Konon, pohon ini merupakan tempat Sang Buddha bersemedi dan mendapat pencerahan hidup. Oleh karena itu, pengelola menempatkan sebuah patung Buddha di bawahnya. Pohon ini memiliki struktur tinggi besar yang berbeda dengan pohon beringin yang relatif pendek dan memiliki akar menggantung di sepanjang batangnya.<br />
Di Tanah Tinggal juga memiliki kolam renang yang berusia 27 tahun. Meski umurnya lebih dari seperempat abad, kolam ini tetap terjaga kebersihannya. Kolam yang berbentuk daun (sesuai simbol Tanah Tingal) itu,  dikelilingi pepohonan yang rindang.<br />
Obyek lainnya ada sejumlah pohon langka, seperti pohon randu (pohon penghasil kapas) karena kini varietasnya tinggal sedikit.<br />
Tak jauh dari situ, ada sebuah danau mini yang biasa digunakan untuk bermain kano. Dan destinasi seluas 10 hektar ini, masih memliki berbagai obyek untuk dijelajahi. Tertarik? (endy poerwanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/07/01/mengisi-liburan-menjelajah-alam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DESTINASI MUNA JAUH DARI PUBLIKASI</title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/destinasi-muna-jauh-dari-publikasi/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/destinasi-muna-jauh-dari-publikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 06:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[destinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[INGIN berwisata dengan suasana berbeda, unik, menarik, eksotik, jawabannya hanya ada di Muna. Kota kecil di kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sulteng). Sejumlah destinasi primadona ditawarkan ke wisatawan. Sayang lemahnya promosi dan publikasi, membuat destinasi Muna terpinggirkan, terlupakan dari peta pariwisata Indonesia. Padahal potensinya luar biasa.
 Luar Biasa lantaran obyek wisata di Muna, tidak ditemukan di daerah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>INGIN<a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/06/muna.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-191" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/06/muna-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a> berwisata dengan suasana berbeda, unik, menarik, eksotik, jawabannya hanya ada di Muna. Kota kecil di kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sulteng). Sejumlah destinasi primadona ditawarkan ke wisatawan. Sayang lemahnya promosi dan publikasi, membuat destinasi Muna terpinggirkan, terlupakan dari peta pariwisata Indonesia. Padahal potensinya luar biasa.<br />
 Luar Biasa lantaran obyek wisata di Muna, tidak ditemukan di daerah lain apalagi di belahan dunia. Seperti Gua Liang Kobori atau gua bertulis di Desa Liangkabori Kecamatan Lohia, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari ibukota Muna. Dengan kondisi geografis alamnya yang menantang berupa karang atoll, batuan karst, panorama alam yang masih hijau perawan, ternyata di kawasan ini terdapat 21 gua, yang unik dan menarik.<br />
 Gua Liang Kobori memiliki lebar 30 meter, tinggi 5 meter dengan kedalaman 50 meter ini, menyimpan berbagai misteri peradaban kehidupan manusia zaman dulu, dulu kala. Bahkan kehidupan masa lalu, tergambar jelas di dalam dinding gua yang dihiasi berbagai relief lukisan tangan peninggalan purbakala dari peradaban neolitik. Ada lebih dari 130 goresan  tangan berwarna merah dengan motif perahu, bintang, orang bermain layang-layang, orang menari, orang sedang berburu rusa, seorang menaiki seekor gajah, gambar matahari, gambar pohon kelapa , gambar binatang ternak seperti sapi, kuda dan masih banyak gambar relief lainnya.<br />
 Goresan-goresan itu masih orisinil, utuh, terawat dan terjaga jangan sampai dirusak tangan-tangan jahil. Bahkan, bentuk dan kecemerlangan warnanya  hingga kini masih menjadi misteri, terutama bahan tinta yang digunakan manusia purba dalam melukis di dinding gua. Budayawan Muna, Landoles mencermati lukisan relief itu menggunakan bahan tanah liat dicampur getah pohon, yang melekat di sekitar gua. Kuasnya menggunakan sejenis alang-alang yang diikat menyerupai kuas.<br />
 Daya tarik lain di dalam gua, terdapat terowongan alami sepanjang 20 meter. Didalamnya terdapat stalaktif bahkan tetesan air dari atap gua, yang menetes setiap detik sehingga menimbulkan bunyi dentingan air yang memukau. Warna langit-langit gua  juga khas,  agak kehitam-hitaman bekas mirip bekas perapian manusia purba, untuk mengusir hawa dingin dan tempat memaksa.<br />
 Selain wisata gua, Muna juga punya Danau Laut Napabale yang menakjubkan. Keunikan alam ini karena air laut terjebak cincin karang yang akhirnya membentuk cawan. Air berkubang luas dilingkari bukit-bukit karang yang tinggi dan terjal. Bukit rimbun menghijau nan kokoh seperti benteng penjaga napabale yang mirip lukisan vagina alam. Napabale yang terletak di tebing tinggi Lohia, dekat pantai dengan pemandangan Selat Buton. Dari kejauhan, nampak air laut mengalir lewat gua-gua kecil di kaki bukit karang. Ada tiga karang besar yang ditumbuhi pepohonan liar. Bentuknya seperti tube fallopi, dan tempat ini menjadi lorong jutaan berbagai spesies ikan laut yang hidup di Selat Buton.<br />
 Danau ini juga ada terowongan alami di bawah kaki bukit yang menghubungkan danau Laut Napabale dengan lautan di Selat Buton. Panjang terowongan kurang lebih 50 Meter dan Lebar sekitar 15 Meter. Untuk melintasi terowongan itu, harus menunggu air laut surut karena jika air pasang, terowongan Napabale tertutup air. Dari terowongan gua karang bisa berjalan kaki sambil menikmati batuan karang stalakmit dan stalaktik yang eksotik. Terowongan itu  menuju tepi pantai yang pemandangannya begitu indah serta hamparan pasir yang bersih alami.<br />
 Obyek wisata lain yang tak kalah menarik, batu berbentuk kapal di Raha.  Menurut cerita batu itu berasal dari kapal Sawerigading yang terdampar dan akhirnya membatu. Selain itu, bagi yang gemar Diving bisa menyelam di laut dalam sambil mencari uang logam, benda antik peninggalan kapal asing yang tenggelam ratusan tahun yang lampau. Destinasi lain, Air Terjun Kalima-lima yang memiliki ketinggian 30 meter. Juga ada Danau Montonuno yang airnya jernih yang dikeliling hutan yang alami.<br />
 Yang tak kalah menarik,  ada layang-layang tradisional peninggalan sejarah yang masih terawat baik. Keunikan layangan ini terbuat dari bahan alami seperti, daun kolope dari tumbuhan ubi hutan, bambu rami dan benang yang terbuat dari serat nanas hutan. Bentuk layang-layang ini mirip dengan relief yang  tergores pada dinding gua liang kobori.<br />
 Selain itu Muna punya atraksi adu kuda. Pogeraha Adara atau adu kekuatan kuda ini sudah lama melekat di masyarakat Muna, sudah menjadi bagian kebudayaan yang tak pernah ditinggalkan. Setiap tahun sedikitnya tiga kali atraksi Adu Kuda digelar di lapangan terbuka Kecamatan Lawa, sekitar 20 km dari Raha, kota Kabupaten Muna.<br />
 Atraksi menarik peninggalan raja-raja Muna di era pergerakan. Masa lalu, adu kuda dipertontonkan oleh Raja-raja Muna jika kedatangan tamu penting dari Jawa atau daerah lain. Pertunjukan adu kuda itu dimaksudkan sebagai penghormatan kepada tamu. Kini digelar secara rutin bertepatan hari-hari besar.<br />
 Atraksi ini dimulai dengan memunculkan kuda-kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan yang berbadan besar dan garang. Di tempat lain, dimunculkan juga seekor kuda jantan yang fisiknya sama besar. Kuda jantan itu akan segera berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina yang ada di tempat terpisah. Sementara kuda jantan yang ditugasi memimpin sejumlah kuda betina, pasti marah jika melihat kuda jantan asing dalam kelompoknya. Dalam posisi seperti itulah peristiwa pertarungan kuda terjadi. Sungguh menarik.<br />
 Jika ingin ke Muna, lebih baik bulan Juni karena Pemerintah Daerah bekerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata akan menggelar Festival Layang-layang Internasional, yang dihadiri pengemar layangan dari penjuru tanah air,  juga mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Amerika Serikat, Jepang, Korea, bahkan Jerman. &#8221;Kami akan terus gencar mempromosikan Muna, karena selama ini obyek wisata Muna belum terpubliksasi. Kewajiban kami untuk menggairahkan destinasi Muna,&#8221; kata Suriansyah Siregar, Kasubdit Promisi Tujuan Wisata III Depbudpar (endy poerwanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/destinasi-muna-jauh-dari-publikasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PARIWISATA ACEH BERBENAH DARI CITRA</title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/pariwisata-aceh-berbenah-dari-citra/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/pariwisata-aceh-berbenah-dari-citra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 06:06:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[destinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[ CITRA negatif sebagai daerah tak aman, daerah konflik sempat melekat. Dampaknya, pariwisata Aceh terpuruk. Grafik kunjungan wisatawan ke daerah dengan sebutan titik Kilometer nol Indonesia, benar-benar nol. Kondisi itu diperparah adanya bencana Tsunami, 26 Desember 2004 - yang meluluhlantakan roh kehidupan Aceh. Citra Aceh bertambah parah.
 Ditambah lagi, dulu sempat mendapat julukan daftar hitam - sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> CITRA negatif sebagai daerah tak aman, daerah konflik sempat melekat. <a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/06/aceh-masjid.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-188" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/06/aceh-masjid-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Dampaknya, pariwisata Aceh terpuruk. Grafik kunjungan wisatawan ke daerah dengan sebutan titik Kilometer nol Indonesia, benar-benar nol. Kondisi itu diperparah adanya bencana Tsunami, 26 Desember 2004 - yang meluluhlantakan roh kehidupan Aceh. Citra Aceh bertambah parah.<br />
 Ditambah lagi, dulu sempat mendapat julukan daftar hitam - sebagai destinasi yang tak layak dikunjungi, karena daerah itu berada di lempengan bumi penyebab Tsunami, juga isu turis wajib berjilbab dan sweeping KTP bagi mereka yang bukan beragama Islam. Isu seperti ini sengaja dibangun pihak tertentu demi kepentingan politik tertentu. Dan pihak tertentu menginginkan Aceh tidak dimasuki wisatawan asing sehingga kasus pelanggaran HAM, ketidakadilan, kasus lain tetap tertutup bagi dunia internasional.<br />
 Kini, pemerintah provinsi Aceh bersama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) berupaya bangkit dari keterpurukan, dari isu tak jelas sumbernya. Aceh berbenah diri menghilangkan citra buruk. Menggaungkan suara, mengibarkan bendera dan membuka mata dunia bahwa Aceh sebagai destinasi yang layak dan aman untuk dikunjungi. Bahkan menjamin tak ada gangguan dari pengacau keamanan. Situasi damai pasca lahirnya MoU Pemerintah RI-GAM, 15 Agustus 2005, begitu terasa saat ini. Aman, nyaman, damai dan kesan semrawut sudah tak ada lagi.<br />
 &#8221;Saya yang jamin kalau semua daerah di Aceh aman. Saya ini mantan petinggi GAM. Kami sesama anggota GAM bertekad menjaga Aceh dari gangguan keamanan. Juga bertekad memajukan pembangunan Aceh, termasuk pariwisata. Kami ingin memberdayakan potensi wisata di Aceh yang melimpah, yang selama ini terpendam, belum pernah dipromosikan,&#8221; ucap Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Irwandi Yusuf.<br />
 Melimpah? Ternyata, kenyataan memang demikian. Aceh memiliki sederetan daftar wisata pantai yang mempesona dan menjadi andalannya. Pantai Dakuta, Pantai Meuraksa Pantai 14,5 7,0 Meraksa Syamt. Bayu, Pantai Iboih, Pantai Klah,<br />
Pantai Ulee Lheue dan Pantai Lhoknga, kedua pantai ini namanya jadi perguncingan dunia karena sebagai pantai yang berhadapan langsung dengan laut lepas yang menjadi sumber utama datangnya tsunami. Namun demikian, kedua pantai ini masih indah dilihat, bahkan tertata secara alami. Bahkan, pantai Ulee Lheue punya sejarah panjang, saat Belanda datang melalui pantai, mencaplok tanah rakyat dan menyatakan perang dengan rakyat Aceh.<br />
 Wisata alam di Aceh juga alami. Ada air terjun Seumirah, pemandian alam Kr. sawang juga Pusat Latihan Gajah (PLG). Juga ada wisata sejarah yang masih terpelihara. Wisatawan dapat menikmati peninggalan rumah Cut Meutia, pahlawan wanita dari Aceh, dan makam para penjajah Belanda yang tertata rapi dengan papan nama orang Belanda yang tewas di Aceh pada masa perjuangan Indonesia. Juga ada kompleks Makam Raja Muhammad, Makam Raja Syuhada Cot plieng, Makam Malikussaleh Dan Keluarga Dan Perdana Menteri, Makam Ratu AL-A&#8217;la Binti Malikul Dhahir, yang menunjukkan bahwa Aceh pernah memiliki kerajaan Islam yang besar di tanah air ini.<br />
 Di sisi lain, Aceh memiliki wisata bahari yang terpendam. Tenggok Pulau Rubiah di Sabang yang memiliki pemandangan yang menawan. Bahkan Pulau ini disebut-sebut sebagai Balinya Aceh. Malah lebih dari Bali, karena lingkungan alamnya masih perawan, lautnya sangat tenang sehingga sangat cocok untuk diving, snorkling, swiming dan fishing. Wisata bahari lainnya, Ujung Kareung yang memiliki pemandangan laut yang superindah. Sayanyam masih minim fasilitas sehingga wisatawan harus pindah menginap di Gapang atau Iboh, yang juga mengandalkan wisata pantai.<br />
 Wisata budaya Aceh juga unik, menarik. Kota tanah Rencong ini memiliki tarian budaya yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia, yakni tarian Saman, tarian Seudati dan tari Mesuseukat. Apalagi pakaian Aceh yang khas dan senjata Rencong juga menjadi souvenir yang memikat. Bahkan, Wisata relegi, rohani, spiritual yang kuat dan melekat. Dan Mesjid Raya Baiturrahman. &#8220;Jika ke Banda Aceh, belum masuk dan shalat di mesjid ini tentu belum afdhol,&#8221; kata Aulia Husni Putra, pejabat di Pemprov NAD.<br />
 Daya tarik wisata lainnya, sisa-sisa keganasan Tsunami kini menjadi primadona obyek wisata baru, yang menarik untuk dikunjungi. Untuk mendatangi objek wisata peninggalan tsunami yang ada di seputaran pantai Banda Aceh ini, cukup mudah. Wisatawan bisa menyewa taksi, atau jika ingin menghemat biaya bisa naik becak motor yang menjadi kendaraan angkutan khas Banda Aceh.<br />
 Obyek wisata itu, Masjid Ulee Lheue yang masih utuh digempur tsunami. Kapal PLTD Apung yang terdorong ke daratan dan sampai kini masih berada di atas rumah penduduk Gampong Punge Blang Cut, jaraknya sejauh 4 Km dari Pelabuhan Ulee Lheue. Di kapal apung yang sudah tidak difungsikan ini, wisatawan bisa naik ke atas geladak setinggi lebih kurang 20 meter, karena di sisi tongkang sudah dibuat tangga besi lengkap dengan pagar hingga ke geladak untuk memudahkan wisatawan menaikinya.<br />
 Dari atas geladak kapal, wisatawan bisa menyaksikan pemandangan luas ke berbagai belahan kota di Banda Aceh. Tampak jelas, betapa jauhnya jarak pantai dengan lokasi kapal apung terdampar. Wisatawan juga bisa membayangkan betapa berbahayanya gelombang tsunami. Bahkan, di sekitar kapal terdampar di atap rumah ini, masih terlihat jelas sisa-sisa dinding dan atap bangunan milik warga yang hancur diterjang gelombang dasyat.<br />
 Kapal nelayan di atas rumah sisa tsunami lainnya yang juga banyak dikunjungi yakni kapal di atas rumah yang berlokasi di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam. Wisatawan bisa menyaksikan akibat dari gelombang tsunami yang melanda daerah itu. Kapal nelayan yang pada awalnya ditambatkan di dermaga pantai Aceh, terbawa arus hingga lebih kurang tiga kilometer ke daratan. Sewaktu terjadi tsunami, 165 orang selamat dari terjangan gelombang karena menyelamatkan diri ke atas kapal. Kini, di depan rumah tempat kapal ini bertengger sudah dibangun sebuah jembatan layang agar wisatawan bisa menyaksikan dari dekat kondisi kapal nelayan.<br />
 Juga ada Monumen Tsunami dibangun di atas lahan seluas 7,8 hektare, yang lokasinya di pinggir Jalan Banda Aceh-Meulaboh, Aceh Barat. Monumen ini memiliki struktur khas, tinggi dan besar, bentuk ukuran tugu mengikuti pola angka &#8220;26-12-2004&#8243;. Angka 26 menunjukkan banyaknya garis lengkung di dasar tugu, 12 adalah banyaknya ombak pada tugu, dan 2004, banyaknya riak kecil dari keseluruhan ombak pada tugu.<br />
 Dan yang tak kalah menariknya, ada kuburan massal Meuraxa dan Labaru yang mengubur sedikitnya 46.800 jenazah korban tsunami. Lokasi kuburan yang menjdi saksi bisu tsunami ini sekitar enam kilometer dari pusat kota Banda Aceh atau beberapa ratus meter dari bibir Pantai Ulle Lheue. Inilah destinasi yang paling menyayat hati.  Negeri Serambi Mekkah juga akan mengembangkan wisata gerilya. Beberapa lokasi menarik bekas perjalanan para gerilya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dijual ke wisatawan. Selama turis bergerilya akan menikmati panorama pemandangan alam yang indah. Gua-gua tempat persembunyian gerilyawan yang masih terpelihara. Menerobos hutan rimba yang menakjubkan. Menyusuri sungai yang alami. Dan menyaksian pohon buah-buahan, yang selama konflik dipakai sebagai menu pengisi perut bagi para gerilyawan<br />
 &#8221;Saya harapkan tahun ini, wisata gerilya sudah mulai dibuka untuk wisatawan. Wisata gerilya juga dikembangkan di daerah-daerah di Aceh, dan akan menjadi wisata unggulan. Karena wisatawan pasti akan tertarik sekaligus akan merasakan masa-masa sulit yang terjadi pada masa lalu,&#8221; ungkap Gubernur bertitel dokter dan terampil menerbangkan pesawat terbang.<br />
 Mengembangkan wisata gerilya tidak malah membuat wisatawan takut? &#8221;Saya jamin pasti aman. Tidak perlu ada rasa takut bagi wisatawan untuk datang. Aceh sekarang bukan Aceh yang dulu. Kini sudah berubah total seratus delapan puluh derajat, tak percaya buktikan saja,&#8221; tambah Gubernur serius sambil membutikan di Aceh sejak musibah tsunami kini masih ada 7.000 relawan (NGO) dari 150 negara yang membantu rakyat Aceh, dan mereka aman-aman saja.<br />
 Keberadaan relawan asing diharapkan menjadi duta promosi gratis bagi pariwisata Aceh. Harapan ini memang tak berlebihan, mengingat mereka sudah paham, tahu kondisi dan potensi pariwisata di Aceh. Juga, sudah mengetahui adat istidat, budaya, sopan santun dan rasa hormat warga Aceh saat menerima tamu dari negara lain.<br />
 Memang pariwisata Aceh bangkit, namun sayang kebangkitan itu masih terganjal dengan lemahnya promosi, dan penyampaian informasi yang terbatas karena anggaran untuk itu sangat kecil. Hambatan lainnya, masih adanya larangan orang asing mengunjungi Aceh berdasarkan peraturan darurat militer yang dibuat tahun 2003, yang hingga kini belum dicabut. Sehingga orang mengira Aceh masih tidak aman. Padahal Aceh sekarang sudah pulih, sudah damai.<br />
 Persoalan lain, perlunya penerbangan pesawat asing langsung ke Aceh. Dan penambahan jumlah penerbangan nasional dari penjuru kota besar untuk menyinggahi Aceh. Untuk itu, regulasi atau izin dari pemerintah pusat agar memberikan kebebasan, jangan malah memasungnya. Sebuah kata harapan klasik, jika promosi dan izin penerbangan langsung ke Aceh dibuka, jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh pasti grafiknya naik. Namun kapan? (endy poerwanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/pariwisata-aceh-berbenah-dari-citra/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GROBOGAN, KAYA OBYEK MISKIN WISATAWAN</title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/grobogan-kaya-obyek-miskin-wisatawan/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/grobogan-kaya-obyek-miskin-wisatawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 06:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[berita wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[ JANGAN tanya soal obyek wisata di Grobogan. Karena kota kabupaten di Jawa Tengah ini, memang kaya dengan obyek. tervata ada sembilan destinasi yang cukup potensi untuk dikunjungi. Sayang meski kaya obyek, namun jumlah kunjungan wisatawan masih sangat miskin. Yang lebih miskin lagi, hingga kini belum ada investor yang mau menanamkan modalnya di wilayah ini.
 &#8221;Kami menyadari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/06/bledug-kuwu.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-185" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/06/bledug-kuwu-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a> JANGAN tanya soal obyek wisata di Grobogan. Karena kota kabupaten di Jawa Tengah ini, memang kaya dengan obyek. tervata ada sembilan destinasi yang cukup potensi untuk dikunjungi. Sayang meski kaya obyek, namun jumlah kunjungan wisatawan masih sangat miskin. Yang lebih miskin lagi, hingga kini belum ada investor yang mau menanamkan modalnya di wilayah ini.<br />
 &#8221;Kami menyadari dengan banyaknya wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) yang datang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengurangi pengangguran dan nama Grobogan akan diperhitungkan di tingkat nasional,&#8221; ungkap Sastro Wibowo, tokoh masyarakat Grobogan.<br />
 Saat ini Pemda Grobogan terus aktif menjual obyek wisatanya dengan melakukan promosi secara gencar melalui publikasi di media, ikut pameran wisata, juga membuat profil obyek wisata melalui video visual dalam bentuk VCD dan DVD. Selain itu, daya tarik wisata Grobogan ditawarkan kepada investor nasional, untung-untung jika investor asing sehingga bisa untuk menggairahkan pertumbuhan ekonomi di daerah. &#8221;Terus terang saat ini ada hotel namun belum ada hotel berbintang yang memadai, juga belum ada restorant skala nasional,&#8221; tandasnya.<br />
     Sembilan objek wisata di Grobogan yang potensial antara lain Bledug Kuwu, Waduk Kedung Ombo, Goa Macan dan Goa Lawa, air terjun Widuri, Api Abadi Mrapen, Makam Ki Ageng Selo, Ki Ageng Joko Tarub, dan Ki Ageng Lembu Peteng. Kawasan objek wisata Bledug Kuwu di Kradenan seluas 6 hektare ini memiliki keunikan, karena letupan lumpur setinggi delapan meter dan mengandung air garam bisa bermanfaat untuk bahan pembuatan garam dengan kualitas yang baik.<br />
     Bahkan, konon ceritanya adanya Bledug Kuwu disebabkan lobang yang menghubungkan tempat Bledug Kuwu dengan Samudra Selatan, karena zaman dahulu Joko Linglung anak dari Aji Soko yang berujud ular naga melakukan perjalanan dari Laut Selatan menuju kerajaan Modang Kamolan melalui bawah tanah, sehingga muncul lumpur di Kerajaan Modang Kamolan tersebut.<br />
     Objek wisata itu cukup menarik apabila dikelola profesional. Untuk itu, ia berharap ada investor yang tertarik menanamkan modalnya mengelola objek wisata di Grobogan, kendati saat ini pendapatan sektor pariwisata masih minim,<br />
     Ia menyebutkan, pendapatan sektor pariwisata tahun 2004 hanya mampu menghasilkan Rp50 juta, tahun 2005 meningkat menjadi Rp63 juta dan tahun 2006 menghimpun masukan Rp65 juta. Padahal, setiap tahun melalui APBD Kabupaten Grobogan dianggarkan dana sekitar Rp100 juta untuk merawat objek wisata. Tertarik Investasi? (endy)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/06/29/grobogan-kaya-obyek-miskin-wisatawan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>OH..YA NASIB GEDUNG TUA DI JAKARTA</title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/ohya-nasib-gedung-tua-di-jakarta/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/ohya-nasib-gedung-tua-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 13:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[berita wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[NASIB gedung-gedung tua peninggalan sejarah yang tersebar di Ibukota, semakin merana. Selain tak terawat dengan baik, kondisinya juga tak sempurna. Yang menyedihkan lagi, satu persatu cagar budaya itu pindah tangan. Di tangan pemilik baru, bangunan asli dibongkar dan dibangun sebuah bangunan gaya modern yang menghilangkan nilai-nilai sejarah, menghilangkan landscap masa lalu, mengilangkan budaya.
Sudah banyak contoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>NASIB gedung-gedung tua peninggalan sejarah yang tersebar di Ibukota, semakin merana. Selain tak terawat dengan baik, kondisinya juga tak sempurna. Yang menyedihkan lagi, satu persatu cagar budaya itu pindah tangan. Di tangan pemilik baru, bangunan asli dibongkar dan dibangun sebuah bangunan gaya modern yang menghilangkan nilai-nilai sejarah, menghilangkan landscap masa lalu, mengilangkan budaya.<br />
Sudah banyak contoh soalnya, salah satunya bangunan rumah tua di kawasan Palmerah, yang bersebelahan dengan Gedung Kompas. Dimana ada sebuah rumah tua milik orang Tionghoa, yang dulu ada papan nama cagar budaya yang dipatok Pemda Jakarta Selatan. Namun kini bangunan dijual dan dibongkar total, lalu dibangun gedung baru dengan nama Gedung Pers Pancasila. Sengaja memakai lebel pers dengan asumsi tak ada yang berani memasalahkannya, mengutik-utiknya. Gila benar.<br />
Begitu juga di kawasan Jalan Hayamwuruk, Gajahmada dan kawasan kota, dimana gedung-gedung tua itu berubah konsep gaya masa lalu. Ada  yang bagian depannya sudah dirombak, ada yang sudah dibongkar, ada yang ditutupi papan reklame, ada yang dibiarkan kumuh, ada yang dipagar seng, ada yang ditempel pengumuman dijual. Ada-ada saja ulah manusia yang tak pernah menghargai peninggalan sejarah, tak pernah memiliki jiwa melestarikan, tak pernah bersyukur dengan era masa lalu.<br />
Keserahkahan, ketamakan, ketidakpedulian, kehilangan jiwa patriotisme memang kini sudah mengangkar kuat di era kapitalisme. Masa lalu sudah dianggap dari bagian perjalanan hidup yang tak berlaku lagi di era masa kini. Indikasi ini memang tak berlebihan malah semakin kuat dengan hilangnya gedung-gedung tua peninggalan sejarah. Lalu siapa yang peduli?<br />
Sejarahwan, hanya bisa komentar tanpa bisa berbuat banyak. Swasta jelas tak diharapkan lagi, kepentingan bisnis diutamakan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan ada posisi tawar menawar yang dikedepankan, menguntungkan atau tidak? Prospek atau proyek buang-buang uang? Pokoknya banyak pertimbangannya lah. Karena itu ya jangan berharap.<br />
Pemerintah, naga-naganya juga susah dengan alasan klasik yakni anggaran terbat<a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/cagar-budaya1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-178" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/cagar-budaya1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>as mana mungkin uang negara dibelikan aset bangunan tua yang tak jelas peruntukannya, apalagi hanya untuk melestarikan wah jauh dari harapan. Juga mau ditukar guling, juga gulingnya siapa? karena swasta pasti melihat ada prospeknya nggak, boleh dibongkar nggak, ada nilai hong shuinya yang baik tidak? ya pokoknya banyak pertimbangan.<br />
Jadi, bagaimana melestarikan bangunan peninggalan sejarah itu? mungkin salah satu solusinya ya meringankan pajak bagi pemilik gedung-gedung tua di Ibu Kota. Tujuannya, agar pemilik gedung terdorong melakukan perawatan terhadap gedung-gedung yang tergolong bangunan cagar budaya. Pemilik gedung bisa menyisihkan anggarannya untuk membeli cat, membeli paku, membeli pembersih lantai, membeli pengharum ruangan, membeli setangkai pohon agar tambah hijau, membeli apa sajalah yang untuk melestarikannya.<br />
Keringanan pajak sebagai insentif memang selayaknya sudah diberikan. Memang pernah ada keinginan kuat untuk meringankan beban pajak bagi pemilik bagunan tua. Sayangnyam keinginan itu terkendala UU perpajakan yang belum memungkinkan. Padahal, keringanan pajak itu juga untuk merangsang para pemilik gedung tua untuk melakukan perawatan, sehingga pelestarian bangunan cagar budaya bisa terus dilaksanakan.<br />
Solusi lainnya butuh langkah kreatif, profesional ditambah sentuhan jiwa seni tinggi untuk mengelola bangunan tua menjadi obyek wisata. Juga kepedulian biro perjalanan wisata (BPW) untuk peduli memasarkan obyek wisata peninggalan sejarah.<br />
Di negara kapitalis seperti Singapura, Jerman, Italia, Inggris, Jepang dan negara lain di Eropa, eksestensi bangunan tua cagar budaya benar-benar dilindungi, benar dimanfaatkan untuk menjadi destinasi, benar-benar dilestarikan, benar-benar diatur dengan undang-undang yang sangat ketat. Dan masyarakatnya memiliki kesedaran yang tinggi untuk melindunginya. Bagaimana dengan kita? (endy)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/ohya-nasib-gedung-tua-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PESONA DANAU SINGKARAK YANG MAKIN SEMARAK</title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/pesona-danau-singkarak-yang-makin-semarak/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/pesona-danau-singkarak-yang-makin-semarak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 13:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[INGIN menikmati perpaduan panorama keindahan alam yang alami, yang menarik, yang mempesona? Danau Singkarak di provinsi Sumatera Barat (Sumbar) salah satu jawabannya. Karena di beberapa sudut danau Singkarak, masih bisa terlihat kecantikan alam yang tersembunyi. Dan sebuah keindahan panorama yang masih terkubur.
Memang tak bisa dipungkiri, pemandangan di sekitar obyek wisata alam ini begitu menawan. Begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/danau-kembar.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-174" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/danau-kembar.jpg" alt="" width="200" height="133" /></a>INGIN menikmati perpaduan panorama keindahan alam yang alami, yang menarik, yang mempesona? Danau Singkarak di provinsi Sumatera Barat (Sumbar) salah satu jawabannya. Karena di beberapa sudut danau Singkarak, masih bisa terlihat kecantikan alam yang tersembunyi. Dan sebuah keindahan panorama yang masih terkubur.</p>
<p>Memang tak bisa dipungkiri, pemandangan di sekitar obyek wisata alam ini begitu menawan. Begitu fantastis. Mata ini tak bosan melihat hamparan air kebiruan yang jernih dengan riak-riak kecil mengiringinya. Juga, butiran pasir halus yang membentang di bibir danau. Di tengah danau, perahu kecil milik nelayan sedang mengarungi danau yang tenang, tempat bersemayam aneka jenis ikan. Juga hilir mudik perahu motor atau becak danau yang disewakan bagi wisatawan.<br />
Pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang tepian danau menjadi pembatas antara daratan dan air. Bahkan beberapa sudut ada areal persawahan yang menghijau, membuat suasana semakin tentram. Apalagi, hamparan Bukit Barisan melatarbelakanginya tanpa batas, dan dari kejahuan bisa disaksikan Gunung Singgalang dan  Marapi yang berdiri gagah seolah menjaga ketenangan danau ini.<br />
Lingkungan yang asri, hawanya yang sejuk, suasananya yang tenang, damai, aman dan nyaman menjadi pesona bagi yang mengunjunginya. Pesona Danau Singkarak, memang tak pernah habis kalau diceritakan. Karenanya danau terbesar kedua di Sumatera, setelah danau Toba menjadi primadona bagi Sumbar menjadi daerah tujuan wisata unggulan, sekaligus menjadi destinasi pelengkap bagi wisatawan yang berwisata ke provinsi.<br />
Pelengkap? Ya, memang Sumbar kaya obyek wisata seperti Danau Maninjau, Danau Diatas dan Dibawah, Danau Talang,  Lembah Anai, Panorama Ngarai Sianok, Benteng Fort de Kock, Jam Gadang, Pantai Air Manis, Pantai Muaro, Pantai Caroline, Harau, Gunuang Merah Putih, Sulit Air dan lainnya. Sehingga, Danau Singkarak menjadi tempat persingahan maupun center point bagi wisatawan untuk tamasya ke destinasi lain di wilayah ini.<br />
Lokasi Danau seluas 129.70 Km2 ini juga sangat strategis, berada di pinggir jalan antara Kabupaten Tanah Datar dan Solok. Lantaran lokasinya mudah dijangkau, sehingga wisatawan dapat menikmati pemandangan dari sisi yang dikehendaki di pinggir danau yang berliku-liku. Bahkan wisatawan yang datang menggunakan kendaraan pribadi bisa menikmati keindahannya dari atas mobilnya.<br />
Dari Bandara Minangkabau Padang ditempuh hanya sekitar 1,5 jam-2 jam dengan angkutan umum yang tarifnya sekitar Rp 25.000 sampai Rp 30.000. Juga, jika berkereta dari Padang melalui simpang tiga pekan Solok, pasti melewati danau ini. Dan bila menyusur dari Bukittinggi yang telaknya hanya sekitar 36 Km dari Bukittinggi, akan melewati banjaran gunung yang terbungkam di sebelah kiri jalan. Di kaki gunung, suasana petak-petak sawah dipenuhi anak-anak padi yang terliuk-liuk dihembus sang bayu.<br />
Selain tempat berwisata yang mengasyikkan, Danau Singkarak juga digunakan sebagai tempat olahraga (sport tourism) seperti di darat bisa untuk jalan santai, jogging, senam. Di danau untuk olahraga berenang, fishing, dayung dan olahraga udara seperti paragliding, terjun bebas, parasailing, paralayang yang melayang di udara bebas dengan pemandangan yang indah. Apalagi, Danau yang terletak pada ketinggian 36,5 meter dengan suasana berbukit maka sangat cocok untuk paralayang.<br />
Memang kini, aktivitas Danau Singkarak semakin semarak. Apalagi, berbagai event nasional dan internasional mulai digelar di kawasan danau ini. Bahkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) bekerjasama Pemprov Sumbar menggelar lomba balap sepeda pertama kali di kawasan Danau Singkarak bertitel &#8216;Tour of Singkarak 2009&#8242;, yang akan digelar 30 April hingga 3 Mei 2009.<br />
Tour Singkarak ini, terdiri lima etape didahului dengan mengelilingi kota Padang, etape II adalah Padang-Bukittinggi sejauh 92,3 km, Bukittinggi-Sawahlunto sejauh 85,1 km, Sawahlunto-Danau Singkarak 90,2 km dan terakhir adalah etape V Danau Singkarak-Danau kembar (danau atas dan bawah) lalu kembali ke Danau Singkarak sepanjang 188 km.<br />
Dirjen Pemasaran Depbudpar Sapta Nirwandar menilai Danau Singkarak memang menarik sekali. Dengan dipopulerkannya potensi danau itu melalui ajang balapan sepeda Tour of Singkarak, pada saatnya nanti daerah wisata Danau Singkarak akan menjadi perhatian wisatawan dunia. Tour of Singkarak yang mengambil rute mengelilingi kota-kota wisata dan sejumlah danau di Sumbar, diikuti 15 tim pembalap nasional dan internasional.<br />
Selain pemandangan yang indah, Danau Singkarak juga memiliki keistimewaan yang lebih dibandingkan danau lainnya di dunia. Mengingat, Danau air tawar ini terdapat 19 jenis ikan-ikan seperti ikan asang, piyek, balingka, baung, dan ikan Sasau, yang konon dapat mencapai ukuran berat hingga 8 kg. Juga ada spesies ikan langka yang mungkin hanya satu-satunya di dunia. Spesies ini bernama ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis).<br />
Ikan ini hanya hidup di Danau Singkarak, tidak dapat dibudidayakan di luar habitat aslinya, apalagi di akuarium, kolam, bahkan dalam jala terapung yang ada di Danau Singkarak sekalipun. Bentuk ikan bilih mirip teri, namun hidup di air tawar. Karenannya, ikan Bilih menjadi salah satu makanan khas Sumatera Barat. Biasanya ikan Bilih digoreng kering dan dicocol dengan sambal hijau.<br />
Oleh warga sekitar, ikan ini menjadi sumber mata pencarian. Namun, karena ikannya makin langka, harganya pun lumayan bervariasi. Para nelayan di Danau Singkarak, ikan itu dijual dengan harga Rp 15.000 per kilogram. Akan tetapi, kalau sudah masuk ke pasar, harganya meningkat menjadi Rp 50.000 per kilogram. Anda dapat pula menikmati hidangan di sekitar Danau Singkarak, karena ada warga yang membuka rumah makan dengan menu andalan ikan bilih.<br />
Mau menuju ke Danau Singkarak, tak akan mengalami kesulitan dalam transportasi darat. Apalagi setelah Padang memiliki Bandara yang baru. Bandara Minangkabau bertaraf internasional dioperasikan sejak 22 Juli 2005, memiliki desain arsitektur tradisional Minangkabau. Ciri khas Bagonjong atau atap berbentuk tanduk, interior terminal penumpang yang dihiasi ukiran Minangkabau tradisional, begitu kuat dan melekat menghiasi bandara ini<br />
Bandara Minangkabau terletak 23 km dari pusat Kota Padang, kini sudah disinggagi sekitar 14 pesawat terbang setiap harinya dengan rute yang menghubungan Padang dengan Jakarta, Medan, Batam dan Pekanbaru untuk domestik, sedangkan untuk pelayanan transportasi udara ke luar negeri (internasional) yaitu Singapura dan Kuala Lumpur.<br />
Hingga kini, tercatat sepuluh maskapai penerbangan nasional dan dua maskapai penerbangan asing beroperasi di Bandara Internasional Minangkabau, yang dapat menampung pesawat berbadan lebar seperti A 330 atau MD 11.<br />
Sebagai bandara internasional, sudah dilengkapi berbagai fasilitas seperti landasan pacu (runway) 2.750  x  45 m2, Landasan penghubung (taxiway) 2 x 30 m2  dan 1 x 23 m2, Apron pesawat penumpang 315 x 120 m2 (8 bh pesawat B 737), Apron perawatan pesawat udara dan      PKP-PK dengan Category IX. Juga Garbarata (Aviobridge) sebanyak 2 buah. (endy/artikel ini juga saya muat di AVIASI, tabloid penerbangan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/pesona-danau-singkarak-yang-makin-semarak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/172/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/172/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 12:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/172/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/kapan-a1.gif"><img class="alignnone size-medium wp-image-170" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/kapan-a1.gif" alt="" width="200" height="200" /></a><a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/kapan-b1.gif"><img class="alignnone size-medium wp-image-171" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/kapan-b1.gif" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/172/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>WOC TANDINGAN DIGELAR LSM</title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/woc-tandingan-digelar-lsm/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/woc-tandingan-digelar-lsm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 12:28:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[berita wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[SEJUMLAH Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi-organisasi nelayan nasional dan internasional akan membuat pertemuan tandingan untuk membahas isu-isu yang tidak diagendakan dalam Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC).
Pertemuan tandingan ini sangat penting untuk mendesakkan agenda-agenda rakyat yang cenderung dilupakan dan diabaikan dalam WOC. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertama WOC yang akan berlangsung di Manado, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/logo_woc1.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-165" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/03/logo_woc1.gif" alt="" width="278" height="268" /></a>SEJUMLAH Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi-organisasi nelayan nasional dan internasional akan membuat pertemuan tandingan untuk membahas isu-isu yang tidak diagendakan dalam Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC).<br />
Pertemuan tandingan ini sangat penting untuk mendesakkan agenda-agenda rakyat yang cenderung dilupakan dan diabaikan dalam WOC. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertama WOC yang akan berlangsung di Manado, Sulawesi Utara, tanggal 11-15 Mei 2009<br />
Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nahdian Furqan di Jakarta, Senin (16/3), mengatakan, Pemerintah Indonesia cenderung mengabaikan substansi dari permasalahan sesungguhnya di sektor kelautan, seperti kerusakan ekosistem pesisir dan terumbu karang, dan lebih diarahkan untuk pembangunan skema pendanaan bagi isu penyelamatan perubahan iklim melalui sektor kelautan.<br />
Kerusakan ekosistem pesisir dan terumbu karang, kata Berry, lebih banyak disebabkan perbuatan manusia, seperti dampak dari proyek-proyek reklamasi pantai, pencemaran industri, limbah pertambangan, eksploitasi sumber daya kelautan yang berlebihan, dan pencurian ikan penggunaan bahan peledak, di mana semuanya itu tidak mendapat tindakan tegas dari pemerintah.<br />
Berry mengatakan, sebagai tuan rumah, Indonesia mesti mampu menggiring perundingan-perundingan WOIC yang menguntungkan bagi Indonesia, bagi penyelamatan wilayah pesisir dan kelautan yang lebih konkret dan riil bagi keselamatan kehidupan rakyat, dan keberlanjutan jasa pelayanan lingkungan .<br />
Walhi bersama jaringan LSM yang mengusung isu pesisir dan kelautan lainnya, organisasi-organisasi nelayan nasional dan internasional, akan membuat pertemuan tandingan untuk mendesakkan agenda-agenda rakyat yang tidak diagendakan dalam pertemuan WOC nanti.<br />
Sebelumnya, Koordinator Program Adaptasi Perubahan Iklim dan Energi WWF Indonesia Ari Muhammad mengatakan, Indonesia dinilai masih belum siap menghadapi negosiasi terhadap sejumlah isu-isu perubahan iklim yang berhubungan dengan kelautan dengan negara-negara lainnya.<br />
Alasannya, Pemerintah Indonesia hingga saat ini belum memiliki data kajian ilmiah yang resmi seputar dampak perubahan iklim di sektor kelautan. Dia mencontohkan, saat ini belum ada hitung-hitungan yang pasti, berapa tingkat penyerapan karbon dioksida (CO2) oleh laut Indonesia, kemudian ancaman kenaikan permukaan air laut terhadap eksistensi pulau-pulau di Tanah Air. (SP)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/03/17/woc-tandingan-digelar-lsm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/02/26/162/</link>
		<comments>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/02/26/162/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 04:27:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisatanews</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/02/26/162/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/02/lunamaya-200x200-a3.gif"><img class="alignnone size-medium wp-image-160" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/02/lunamaya-200x200-a3.gif" alt="" width="200" height="200" /></a><a href="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/02/lunamaya-200x200-b1.gif"><img class="alignnone size-medium wp-image-161" src="http://wisatanews.indonesiatravel.biz/files/2009/02/lunamaya-200x200-b1.gif" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatanews.indonesiatravel.biz/2009/02/26/162/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
<script type="text/javascript">
var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www.");
document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E"));
</script>
<script type="text/javascript">
try {
var pageTracker = _gat._getTracker("UA-8553892-1");
pageTracker._trackPageview();
} catch(err) {}</script>
