W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for the ‘wisata hutan’ Category

2
Jan

MONUMEN HIDUP HUTAN TROPIS

Posted in wisata hutan  by wisatanews on January 2nd, 2009

BERJARAK sekitar satu kilometer dari pinggir Jalan Lintas Kalimantan pada poros utara yang membelah Taman Nasional Kutai (TNK), Kalimantan Timur, terdapat sebuah kawasan menakjubkan, sebuah pohon ulin berusia 1.000 tahun yang masih hidup, berdiri tegak menyapa setiap wisatawan.
Bayangan semula, pohon raksasa itu akan menjulang tinggi mencapai 50-60 meter. Namun, ternyata hanya setinggi 25 meter karena batangnya terpotong oleh sambaran petir pada 1920-an.
Kawasan itu kini dikembangkan oleh Balai Taman Nasional Kutai sebagai kawasan obyek wisata alam. Pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) tua, memang layak dijadikan tujuan wisata untuk mengingatkan pentingnya merawat lingkungan.
Pohon tua itu bukan sembarang kayu ulin atau dikenal kayu besi karena ukurannya mencapai 3-4 kali batang pohon ulin biasa. Keberadaan pohon ulin raksasa itu sepertinya menjadi “monumen hidup” tentang nasib hutan tropis di Kalimantan Timur dan kelestarian kayu besi di Indonesia.
Kian langkanya kayu ulin di Kaltim khususnya dan wilayah Kalimantan umumnya terlihat dari keberadaan di pasaran, terutama pada kios bangunan.
Dari luas kawasan hutan/lahan Kalimantan Timur yang diperkirakan mencapai 17 juta hektare, sekitar tiga juta hektare mengalami kerusakan parah. Data Departemen Kehutanan menyebutkan laju kerusakan hutan di Kaltim sekitar 250 ribu hektare per tahun.
Data Lembaga Swadaya Masyarakat yang merujuk kepada foto satelit lembaga peneliti asing menyebutkan angka lebih besar. Data kerusakan hutan yang dirilis kalangan LSM lebih besar dari data Departemen Kehutanan.
Misalnya, Departemen Kehutanan menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia sekitar dua juta hektare per tahun, sementara Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) merilis angka 3,5 juta hektare per tahun.
Terlepas dari silang pendapat itu, kenyataannya kayu ulin serta berbagai jenis kayu tropis ekonomis tinggi seperti kapur dan tengkawang kini kian langka dan mahal harganya.
“Salah satu faktor penyebab kerusakan hutan selain oleh industri kehutanan baik resmi maupun gelap (illegal logging) adalah kebakaran hutan, lagi-lagi faktor manusia yang dominan,” kata Iman Suramanggala, pemerhati bidang kehutanan.
Pendiri LSM bidang penelitian dan pengkajian kehutanan “Pioner” itu mengatakan perlu langkah nyata menyelamatkan hutan tropis dengan pengawasan ketat terhadap pembalakan liar serta rehabilitasi dan reboisasi.
“Upaya penyelamatan hutan melalui reboisasi dan rehabilitasi belum seimbang dengan kerusakan hutan. Laju kerusakan hutan mencapai jutaan hektare per tahun namun upaya pemulihan kembali hanya puluhan ribu hektare per tahun yang benar-benar berhasil,” kata dia.
Harga yang mahal serta permintaan yang tinggi menyebabkan kayu ulin terus diburu. Di Taman Nasional Kutai, kondisinya kini seperti “meregang maut” karena jumlah peladang liar serta penjarah hutan kian menjadi-jadi.
Data Balai Taman Nasional Kutai menyebutkan sedikitnya 700 warga merambah kawasan di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur itu. Warga yang diduga berasal dari Kutai Barat, Samarinda, dan Kutai Kartanegara itu merambah kawasan yang diperkirakan mencapai 600 hektare.
Mitra Taman Nasional Kutai yang terdiri atas sejumlah perusahaan perkayuan, migas dan batu bara sempat membangun pagar besi sebagai pembatas. Namun, pagar besi itu tidak terlihat lagi.
Balai Taman Nasional Kutai bersama mitranya juga melakukan berbagai program rehabilitasi dan reboisasi kawasan di pinggir jalan raya yang gundul itu. Namun, para perambah juga membabat pohon penghijauan dan reboisasi untuk merabilitasi lahan-lahan kritis pada pinggir jalan tersebut.
Keberadaan kawasan konservasi itu sudah ditetapkan sejak zaman Kesultanan Kutai, dilanjutkan sampai sekarang sesuai Surat Keputusan Menteri Pertanian No 736/1982 dengan luas 200 ribu hektare. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 325/1995 menyebutkan luas taman itu menjadi 198.629 hektare.
Perusakan kawasan itu menjadi-jadi sejak masa otonomi daerah pada 2000 sampai kini. Bahkan, untuk satu tahun terakhir diperkirakan bebannya kian berat menghadapi ulah para perambah dan peladang yang masuk ke kawasan itu.
Balai Taman Nasional Kutai mengaku tidak berdaya menghadapi para perambah dan peladang karena personelnya terbatas sementara jumlah “pendatang haram” terus bertambah sehingga butuh dukungan politik Pemda Kutai Timur.
Data Balai Taman Nasional Kutai menyebutkan, sampai 2004 kebakaran akibat kelalaian manusia telah merusak sekitar 146.080 hektare atau 80 persen luas kawasan itu. Kerusakan itu diperparah oleh pembalakan liar dan perambahan, terbukti selama 2001-2004 jumlah kayu ilegal yang disita mencapai 246.082 meter kubik.
Balai memperkirakan kerugian negara mencapai Rp271,6 miliar. Data ini belum termasuk kasus pada 2007-2008. Padahal, pengembangbiakan kayu ulin sangat sulit dan butuh perlakukan khusus karena pohon ini tidak bisa tumbuh pada semua kawasan hutan Biasanya tumbuh pada dataran tinggi dengan tanah berpasir.
Pengembangbiakan benih sangat sulit. Buah pohon ini sama kerasnya dengan kayu ulin sehingga untuk membelahnya hanya bisa digergaji karena mata kampak yang tajam pun akan mental. Sehingga pengembangiakannya hanya dengan cara indukan.
Apabila perusakan hutan terus terjadi tanpa diimbangi upaya serius penyelamatan, ulin raksasa di Taman Nasional Kutai akan menjadi “monumen hidup” yang tersisa. (a/foto ist)