DESTINASI BEKAS PERANG DUNIA DI BIAK, RUSAK
MERAWAT itu memang tidak gampang. Buktinya, tugu bersejarah yang sudah dibangun susah-susah oleh tentara negara adidaya, Amerika Serikat pada tahun 1945, kini kondisinya malah memprihatikan. Rusak.
Padahal, di bekas lokasi perang sekutu di Biak, Kabupaten Biak Numfor Papua itu, memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Kemenangan tentara AS bersama sekutu saat melawan bala tentara Jepang pada Perang Dunia Kedua, merupakan simbol sejarah dunia yang tak ternilai harganya.
Sayangnya, simbol kemenangan yang diwujudkan dalam sebuah Tugu Perang kondisinya sudah tak terawat, juga kurang mendapat perhatian. Begitu juga peningalan benda sejarah perang masa lalu itu mengalami nasib yang sama.
Padahal, jika ditangani serius, dirawat dengan baik dan dipelihara secara sukarela, bisa menjadi obyek wisata sejarah yang memiliki nilai yang tak terkira harganya.
Lebih dari itu, tugu itu bisa dipromosikan ke negara adi kuasa dan sekutunya, termasuk negara Jepang yang dilakukan dengan promosi secara rutin, plus propaganda yang menarik dan publikasi yang menyebutkan masih ada peninggalan bekas perang tentara AS dan jepang di Biak. Apalagi, dibumbui informasi menarik serta data pelengkap lainnya, sehingga menimbulkan daya tarik.
Apalagi, di kawasan ini masih banyak tersebar peninggalan sejarah tentara sekutu, Jepang bahkan Belanda seperti bangkai kapal perang, bangkai pesawat terbang juga ada goa Binsari Jepang di Kampung Sumberker, Tugu UNTEA di jalan Hangtuah komplek Pangkalan TNI AL Biak.
Selain itu, ada objek sejarah tugu perang dunia II di Pulau Numfor, monument perang dunia II Paray Distrik Biak Kota, tugu Pepera di Jalan Sriwijaya Ridge Distrik Samofa. Sementara objek sejarah lainnya berupa tugu 14 Maret di Jalan Sorido Distrik Biak Kota sebagai simbol perjuangan pemuda Biak melawan kolonial Belanda.
Nasib tugu perang Pasific di Biak, kini telah rusak. Bagian atasnya pecah dan hilang. Yang menyedihkan lagi, oleh warga sekitar di Jalan Pramuka dipakai untuk menjemur pakaian, menjemur kasur. Menyedihkan memang. Haruskah peninggalan sejarah perang dunia itu, menjadi papan nama. (endy)