W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for the ‘destinasi’ Category

1
Jul

WISATA MERAKYAT DI ISTANA RAKYAT

Posted in destinasi  by wisatanews on July 1st, 2009

Wisata gratis yang merakyat jadi obat di saat kondisi ekonomi melambat. Sejak akhir Mei 2008, Istana Kepresidenan Jakarta membuka pintu lebar-lebar bagi rakyatnya yang ingin berwisata. Meski dibuka hanya weekend, tapi sambutan rakyat sangat hangat. Apalagi tak dipungut bayaran. Istana Kepresidenan kini jadi Istana Rakyat, pada Sabtu dan Ahad.
Sekat-sekat penghambat masuk ke Istana Negara kini tak ada lagi, setelah Presiden SBY membuka gembok pintu istana, bagi rakyat yang ingin melihat langsung kondisi riil istana. Sekaligus rakyat bisa tahu dan bangga memiliki bangunan warisan bersejarah yang masih tetap berdiri tegak dengan ratusan koleksi benda sejarah, yang terjaga sempurna.
Dalam catatan, pintu istana pernah dibuka pertama kali oleh Presiden KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Namun kembali dilarang setelah adanya penggantian presiden baru. Padahal, di negara lain, Istana Kepresidenan atau kerajaan, seperti Gedung Buckingham Palace, sudah memiliki program tur istana dengan konsep yang jelas, terjadwal, dan kemudahan birokrasi.
Kini rakyat kembali bersyukur, Istana dibuka untuk wisatawan, untuk rakyat, apalagi tak ada pungutan sepeser pun alias gratis. Meski hanya dibuka pada setiap Sabtu dan Minggu, mulai pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB, namun antusias masyarakat Ibukota dan sekitarnya, harus diacungi jempol.
Birokrasi berwisata Istana cukup sederhana. Datang langsung membawa kartu tanda penduduk, berpakaian rapi, tak boleh pakai kaos, tak boleh celena pendek, pakai sepatu, tak boleh bawa kamera, dan bersikap sopan. Wisatawan langsung masuk ke Gedung Sekretaris Negara (Sekneg) dan sudah ada tenda panitia yang menyambut ramah untuk didata identitasnya.
Setelah menunggu giliran pemberangkatan di ruang tunggu, wisatawan bisa melihat-lihat toko cinderamata Istana dengan menjual aneka souvenir seperti kaos, gantungan kunci, topi, korek api, stiker, pulpen, jam, arloji, tremos, cangkir, payung yang semuanya berlogo Istana.
Setelah ada panggilan, setiap rombongan akan diangkut dengan bus kapasitas 20 hingga 25 orang dengan seorang pemandu. Bus melaju ke dalam lingkungan Sekneg dan berhenti di gedung Serba Guna yang disulap mirip gedung bioskop untuk menyaksikan sejarah Istana Merdeka, yang dibangun tahun 1873, pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Louden dan selesai tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Johan Willem van Landsbarge.
Bangunan bergaya arsitektur Yunani Kuno, berdiri di atas tanah seluas 2.400 meter persegi, dirancang arsitek Drossares. Istana ini dikenal dengan Istana Gambir. Karena masa awal pemerintahan RI, istana ini jadi saksi sejarah dilakukannya penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Republik Indonesia Serikat diwakili Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kerajaan Belanda diwakili A.H.J Lovink, Wakil Tinggi Mahkota di Indonesia.
Setelah penandatanganan naskah kedaulatan Republik Indonesia Serikat, bendera merah putih dikibarkan menggantikan bendera Belanda, bersamaan dengan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dan pekik merdeka oleh bangsa Indonesia. Sejak saat itu, nama Istana Gambir diganti menjadi Istana Merdeka.
Setelah 17 menit duduk manis di bioskop nonton film dokumenter, lantas berjalan kaki menuju pintu masuk ke halaman Istana Merdeka, yang sebelumnya melalui alat metal detektor. Wisatawan akan disambut pohon besar yang rindang, teduh dan suasananya begitu sejuk dan bikin ngantuk. Pohon itu diberi nama pohon Ki Hujan. Di lingkungan Istana seluas 6,8 hektar ini ada 84 jenis pohon, bahkan ada pohon yang langka.
Pohon Ki Hujan atau trembesi sendiri jumlahnya ada sekitar 9 pohon, yang sudah ada sejak tahun 1870, malah pohon itu berdiri kokoh sebelum Istana ini dibangun. Di samping itu, ada pohon sawo manila, kol bandam atmim, kaliandra, tangkolo, mahoni, sawo duren, soga, bungur besar sampai pohon kelapa sawit pun tumbuh. Juga yang tak kalah menariknya ada pohon katus yang dimasukkan dalam dua rumah kaca. Kaktus ini hadiah dari Ratu Monaco Grace Kelly untuk Ibu Tien Soeharto.
Selain merasakan kesejukan saat masuk ke halaman Istana Merdeka, juga kedamaian karena terdapat masjid tua ‘Baiturrahman’, yang dibangun tahun 1958 oleh aritektur Sudarsono, yang juga membangun Wisma Negara, yang dulu diperuntukkan buat penginapan tamu-tamu negara dari penjuru dunia, karena keterbatasan hotel pasca Proklamasi Kemerdekaan
Setelah melihat masjid tua, kaki terus melangkah ke depan Istana Merdeka. Dan seorang fotografi Istana menyapa kedatangan rombongan sekaligus menata rombongan untuk difoto bersama di tangga istana. Hasil jepretan itu nanti dapat dibeli ketika mau meninggalkan Istana.
Tangga depan istana dijaga dua petugas Paspampres, yang berpakaian Merah Putih dengan memegang senjata laras panjang. Mereka berdiri di trap tangga paling atas dengan wajah menatap arah Monas. Tangga itu terbuat dari batu mamer yang jumlahnya 16 tangga dengan panjang 21 meter. Di tangga depan Istana Merdeka ini, biasanya digunakan para menteri untuk potret bersama dengan presiden setelah dilantik menjadi menteri.
Setelah menapaki tangga, di pintu barat Istana Merdeka pasti disambut patung perunggu hulubalang membawa kotak. Sebuah pemandangan menakjubkan ketika kaki menginjak masuk Istana pasti disambut dua lampu kristal besar seberat 500 kg asal Cekoslovakia, yang mengelantung di tengah ruangan. Juga lukisan timbul yang terdapat di langit-langit dan dindingnya. Bahkan, di bawah lampu kristal terhampar karpet buatan tangan asal Persia, yang dikerjakan selama 5 tahun. Karpet ini sudah ada sejak jaman Bung Karno. Saking tuanya, karpet itu hukumnya ‘haram’ diinjak, kecuali saat ada penyambutan tamu negara.
Juga ada sepasang gading gajah warna putih bersih, yang usianya setelah presiden masuk ke Istana Merdeka tahun 1949, setelah lama hidup di pengasingan. Selain itu, puluhan beragam benda-benda koleksi peninggalan Presiden pertama Bung Karno. Ada piring hias porselin. Ada jambangan porselin dari Dinasti Meiji Jepang juga buatan China pada abad XIX. Ada lagi patung perunggu penunggang kuda dari Hongaria. Ada vas bunga dari Korea Utara.
Malah lukisan Pangeran Diponegoro hasil karya Basoeki Abdullah yang dibuat tahun 1949, juga ada lukisan ‘Penangkapan Diponegoro’ yang dilukis pelukis Raden Saleh yang dibuat tahun 1857, yang masih tetap dijaga warnanya dan lukisan ini menjadi saksi sejarah. Karena Raden Saleh melukis saat kuliah di Belanda dan lukisan ini dihadiahkan kepada orang Belanda yang menjadi sahabatnya. Dan 100 tahun kemudian, Desember 1949, saat Belanda mengakui kemerdekaan RI dan menandatangani surat perjanjian di Istana Merdeka, Ratu Yuliana menghadiahkan kembali lukisan itu ke Bung Karno.
Juga ada lukisan Jenderal Sudirman. Ada Lukisan Imam Bonjol karya Harjadi. Ada lukisan Gajahmada yang dibuat Henk Ngantung tahun 1950. Ada lukisan Dr. Cipto Mangunkusomo yang dibuat Sudarno tahun 1951. Dan masih banyak lagi koleksi sejarah yang masih terpelihara.
Keberadaan Istana Merdeka memang diperuntukkan acara formal kenegaraan seperti tempat peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus, yang pertama kali digelar di Istana Merdeka pada 1950. Dan untuk pagelaran Parade Senja, serta jamuan makan bagi tamu penting lainnya. ”Selain itu, Istana Merdeka untuk upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan Duta Besar negara-negara sahabat,” ucap Fitria, pemandu wisata.
Karena itu, selain hall besar juga ada ruangan tunggu tamu Duta Besar Negara. Ada ruang Kredensial yang digunakan presiden untuk menerima surat kepercayan dari para duta besar. Juga ada ruang resepsi yang ukurannya lebih besar. Ruangan ini digunakan untuk menjamu para tamu negara. Hal menarik lainnya, terdapat satu ruangan di istana yang pantang dimasuki. Bukan karena mistis, penuh rahasia tapi karena ruangan ini menjadi tempat penyimpanan bendera pusaka dan lembaran asli naskah proklamasi sehingga harus dijaga kelembabannya. Ruang penyimpanan bendera ini merupakan bekas kamar tidur Bung Karno.
Puas berada di dalam Istana Merdeka, selanjutnya kita diajak melintasi taman di belakang Istana Merdeka, yang nampak bersih, terawat dan indah karena dihiasi patung-patung kecil yang jumlahnya puluhan dengan berbagai model. Termasuk sebuah patung petapa tua berusia 300 tahun terbuat dari kayu dan tidak dimakan rayap.
Di taman, juga terdengar suara-suara burung yang khas. ”Burung-burung ini dulunya dikandangin, tapi waktu Ibu Mega jadi presiden, burung-burung ini dilepas bebas. Anehnya, mereka enggak kabur, malah berkembang biak,” ungkap Fitria polos.
Di pinggir taman ada gazebo atau dulu di zaman Belanda disebut ”kupal” tempat untuk pemain musik pada pesta kebun. Di era Soekarno, Kupal dipakai tempat belajar atau home schooling bagi anak-anak Presiden, salah satu yang ikut mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Era Susilo Bambang Yudhoyono, Gazebo sering digunakan untuk pertemuan informal.
Saat berjalan melawati taman yang indah, nampak Kantor Kepresidenan, bagian belakang Istana Negara juga wisma negara. Istana Negara kini menjadi tempat Presiden dan Ibu Ani tinggal.  Sejarah Istana Negara yang dibangun tahun 1796, semula untuk kediaman pribadi seorang warga negara Belanda J.A van Braam.  Tahun 1816 bangunan ini diambil alih pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jendral Belanda. Karenanya pada masa itu istana ini disebut juga sebagai Hotel Gubernur Jendral. Mulanya bangunan yang berarsitektur gaya Yunani kuno itu bertingkat dua, namun pada tahun 1848 bagian atasnya dibongkar, dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang, tanpa perubahan yang berarti. Luas bangunan ini lebih kurang 3.375 meter persegi.
Sesuai  fungsi istana ini, pajangan serta hiasannya cenderung memberi suasana sangat resmi. Bahkan kharismatik. Ada dua buah cermin besar peninggalan pemerintah Belanda, disamping hiasan dinding karya pelukis - pelukis besar, seperti Basoeki Abdoellah. Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara. Diantaranya ketika Jendral de Kock menguraikan rencananya kepada Gubernur Jendral Baron van der Capellen untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Juga saat Gubernur Jendral Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Setelah kemerdekaan, tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.
Istana Negara berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, diantaranya menjadi tempat penyelenggaraan acara - acara yang bersifat kenegaraan, seperti pelantikan pejabat - pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah, dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasioal, dan tempat jamuan kenegaraan.
Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih kurang 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Negara sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan Negara.
Dari wisata kepresidenan, memang hanya Istana Negara yang tertutup bagi kunjungan wisatawan. Karena Istana Negara menjadi tempat tinggal Presiden. Memang dari enam presiden yang memimpin Negara ini, hanya tiga presiden yang mendiami Istana, yakni Presiden Sukarno, Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Inilah rumah rakyat, rumah bangsa yang kini menjadi tujuan wisata. (endy)

29
Jun

DESTINASI MUNA JAUH DARI PUBLIKASI

Posted in destinasi  by wisatanews on June 29th, 2009

INGIN berwisata dengan suasana berbeda, unik, menarik, eksotik, jawabannya hanya ada di Muna. Kota kecil di kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sulteng). Sejumlah destinasi primadona ditawarkan ke wisatawan. Sayang lemahnya promosi dan publikasi, membuat destinasi Muna terpinggirkan, terlupakan dari peta pariwisata Indonesia. Padahal potensinya luar biasa.
 Luar Biasa lantaran obyek wisata di Muna, tidak ditemukan di daerah lain apalagi di belahan dunia. Seperti Gua Liang Kobori atau gua bertulis di Desa Liangkabori Kecamatan Lohia, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari ibukota Muna. Dengan kondisi geografis alamnya yang menantang berupa karang atoll, batuan karst, panorama alam yang masih hijau perawan, ternyata di kawasan ini terdapat 21 gua, yang unik dan menarik.
 Gua Liang Kobori memiliki lebar 30 meter, tinggi 5 meter dengan kedalaman 50 meter ini, menyimpan berbagai misteri peradaban kehidupan manusia zaman dulu, dulu kala. Bahkan kehidupan masa lalu, tergambar jelas di dalam dinding gua yang dihiasi berbagai relief lukisan tangan peninggalan purbakala dari peradaban neolitik. Ada lebih dari 130 goresan  tangan berwarna merah dengan motif perahu, bintang, orang bermain layang-layang, orang menari, orang sedang berburu rusa, seorang menaiki seekor gajah, gambar matahari, gambar pohon kelapa , gambar binatang ternak seperti sapi, kuda dan masih banyak gambar relief lainnya.
 Goresan-goresan itu masih orisinil, utuh, terawat dan terjaga jangan sampai dirusak tangan-tangan jahil. Bahkan, bentuk dan kecemerlangan warnanya  hingga kini masih menjadi misteri, terutama bahan tinta yang digunakan manusia purba dalam melukis di dinding gua. Budayawan Muna, Landoles mencermati lukisan relief itu menggunakan bahan tanah liat dicampur getah pohon, yang melekat di sekitar gua. Kuasnya menggunakan sejenis alang-alang yang diikat menyerupai kuas.
 Daya tarik lain di dalam gua, terdapat terowongan alami sepanjang 20 meter. Didalamnya terdapat stalaktif bahkan tetesan air dari atap gua, yang menetes setiap detik sehingga menimbulkan bunyi dentingan air yang memukau. Warna langit-langit gua  juga khas,  agak kehitam-hitaman bekas mirip bekas perapian manusia purba, untuk mengusir hawa dingin dan tempat memaksa.
 Selain wisata gua, Muna juga punya Danau Laut Napabale yang menakjubkan. Keunikan alam ini karena air laut terjebak cincin karang yang akhirnya membentuk cawan. Air berkubang luas dilingkari bukit-bukit karang yang tinggi dan terjal. Bukit rimbun menghijau nan kokoh seperti benteng penjaga napabale yang mirip lukisan vagina alam. Napabale yang terletak di tebing tinggi Lohia, dekat pantai dengan pemandangan Selat Buton. Dari kejauhan, nampak air laut mengalir lewat gua-gua kecil di kaki bukit karang. Ada tiga karang besar yang ditumbuhi pepohonan liar. Bentuknya seperti tube fallopi, dan tempat ini menjadi lorong jutaan berbagai spesies ikan laut yang hidup di Selat Buton.
 Danau ini juga ada terowongan alami di bawah kaki bukit yang menghubungkan danau Laut Napabale dengan lautan di Selat Buton. Panjang terowongan kurang lebih 50 Meter dan Lebar sekitar 15 Meter. Untuk melintasi terowongan itu, harus menunggu air laut surut karena jika air pasang, terowongan Napabale tertutup air. Dari terowongan gua karang bisa berjalan kaki sambil menikmati batuan karang stalakmit dan stalaktik yang eksotik. Terowongan itu  menuju tepi pantai yang pemandangannya begitu indah serta hamparan pasir yang bersih alami.
 Obyek wisata lain yang tak kalah menarik, batu berbentuk kapal di Raha.  Menurut cerita batu itu berasal dari kapal Sawerigading yang terdampar dan akhirnya membatu. Selain itu, bagi yang gemar Diving bisa menyelam di laut dalam sambil mencari uang logam, benda antik peninggalan kapal asing yang tenggelam ratusan tahun yang lampau. Destinasi lain, Air Terjun Kalima-lima yang memiliki ketinggian 30 meter. Juga ada Danau Montonuno yang airnya jernih yang dikeliling hutan yang alami.
 Yang tak kalah menarik,  ada layang-layang tradisional peninggalan sejarah yang masih terawat baik. Keunikan layangan ini terbuat dari bahan alami seperti, daun kolope dari tumbuhan ubi hutan, bambu rami dan benang yang terbuat dari serat nanas hutan. Bentuk layang-layang ini mirip dengan relief yang  tergores pada dinding gua liang kobori.
 Selain itu Muna punya atraksi adu kuda. Pogeraha Adara atau adu kekuatan kuda ini sudah lama melekat di masyarakat Muna, sudah menjadi bagian kebudayaan yang tak pernah ditinggalkan. Setiap tahun sedikitnya tiga kali atraksi Adu Kuda digelar di lapangan terbuka Kecamatan Lawa, sekitar 20 km dari Raha, kota Kabupaten Muna.
 Atraksi menarik peninggalan raja-raja Muna di era pergerakan. Masa lalu, adu kuda dipertontonkan oleh Raja-raja Muna jika kedatangan tamu penting dari Jawa atau daerah lain. Pertunjukan adu kuda itu dimaksudkan sebagai penghormatan kepada tamu. Kini digelar secara rutin bertepatan hari-hari besar.
 Atraksi ini dimulai dengan memunculkan kuda-kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan yang berbadan besar dan garang. Di tempat lain, dimunculkan juga seekor kuda jantan yang fisiknya sama besar. Kuda jantan itu akan segera berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina yang ada di tempat terpisah. Sementara kuda jantan yang ditugasi memimpin sejumlah kuda betina, pasti marah jika melihat kuda jantan asing dalam kelompoknya. Dalam posisi seperti itulah peristiwa pertarungan kuda terjadi. Sungguh menarik.
 Jika ingin ke Muna, lebih baik bulan Juni karena Pemerintah Daerah bekerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata akan menggelar Festival Layang-layang Internasional, yang dihadiri pengemar layangan dari penjuru tanah air,  juga mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Amerika Serikat, Jepang, Korea, bahkan Jerman. ”Kami akan terus gencar mempromosikan Muna, karena selama ini obyek wisata Muna belum terpubliksasi. Kewajiban kami untuk menggairahkan destinasi Muna,” kata Suriansyah Siregar, Kasubdit Promisi Tujuan Wisata III Depbudpar (endy poerwanto)

29
Jun

PARIWISATA ACEH BERBENAH DARI CITRA

Posted in destinasi  by wisatanews on June 29th, 2009

 CITRA negatif sebagai daerah tak aman, daerah konflik sempat melekat. Dampaknya, pariwisata Aceh terpuruk. Grafik kunjungan wisatawan ke daerah dengan sebutan titik Kilometer nol Indonesia, benar-benar nol. Kondisi itu diperparah adanya bencana Tsunami, 26 Desember 2004 - yang meluluhlantakan roh kehidupan Aceh. Citra Aceh bertambah parah.
 Ditambah lagi, dulu sempat mendapat julukan daftar hitam - sebagai destinasi yang tak layak dikunjungi, karena daerah itu berada di lempengan bumi penyebab Tsunami, juga isu turis wajib berjilbab dan sweeping KTP bagi mereka yang bukan beragama Islam. Isu seperti ini sengaja dibangun pihak tertentu demi kepentingan politik tertentu. Dan pihak tertentu menginginkan Aceh tidak dimasuki wisatawan asing sehingga kasus pelanggaran HAM, ketidakadilan, kasus lain tetap tertutup bagi dunia internasional.
 Kini, pemerintah provinsi Aceh bersama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) berupaya bangkit dari keterpurukan, dari isu tak jelas sumbernya. Aceh berbenah diri menghilangkan citra buruk. Menggaungkan suara, mengibarkan bendera dan membuka mata dunia bahwa Aceh sebagai destinasi yang layak dan aman untuk dikunjungi. Bahkan menjamin tak ada gangguan dari pengacau keamanan. Situasi damai pasca lahirnya MoU Pemerintah RI-GAM, 15 Agustus 2005, begitu terasa saat ini. Aman, nyaman, damai dan kesan semrawut sudah tak ada lagi.
 ”Saya yang jamin kalau semua daerah di Aceh aman. Saya ini mantan petinggi GAM. Kami sesama anggota GAM bertekad menjaga Aceh dari gangguan keamanan. Juga bertekad memajukan pembangunan Aceh, termasuk pariwisata. Kami ingin memberdayakan potensi wisata di Aceh yang melimpah, yang selama ini terpendam, belum pernah dipromosikan,” ucap Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Irwandi Yusuf.
 Melimpah? Ternyata, kenyataan memang demikian. Aceh memiliki sederetan daftar wisata pantai yang mempesona dan menjadi andalannya. Pantai Dakuta, Pantai Meuraksa Pantai 14,5 7,0 Meraksa Syamt. Bayu, Pantai Iboih, Pantai Klah,
Pantai Ulee Lheue dan Pantai Lhoknga, kedua pantai ini namanya jadi perguncingan dunia karena sebagai pantai yang berhadapan langsung dengan laut lepas yang menjadi sumber utama datangnya tsunami. Namun demikian, kedua pantai ini masih indah dilihat, bahkan tertata secara alami. Bahkan, pantai Ulee Lheue punya sejarah panjang, saat Belanda datang melalui pantai, mencaplok tanah rakyat dan menyatakan perang dengan rakyat Aceh.
 Wisata alam di Aceh juga alami. Ada air terjun Seumirah, pemandian alam Kr. sawang juga Pusat Latihan Gajah (PLG). Juga ada wisata sejarah yang masih terpelihara. Wisatawan dapat menikmati peninggalan rumah Cut Meutia, pahlawan wanita dari Aceh, dan makam para penjajah Belanda yang tertata rapi dengan papan nama orang Belanda yang tewas di Aceh pada masa perjuangan Indonesia. Juga ada kompleks Makam Raja Muhammad, Makam Raja Syuhada Cot plieng, Makam Malikussaleh Dan Keluarga Dan Perdana Menteri, Makam Ratu AL-A’la Binti Malikul Dhahir, yang menunjukkan bahwa Aceh pernah memiliki kerajaan Islam yang besar di tanah air ini.
 Di sisi lain, Aceh memiliki wisata bahari yang terpendam. Tenggok Pulau Rubiah di Sabang yang memiliki pemandangan yang menawan. Bahkan Pulau ini disebut-sebut sebagai Balinya Aceh. Malah lebih dari Bali, karena lingkungan alamnya masih perawan, lautnya sangat tenang sehingga sangat cocok untuk diving, snorkling, swiming dan fishing. Wisata bahari lainnya, Ujung Kareung yang memiliki pemandangan laut yang superindah. Sayanyam masih minim fasilitas sehingga wisatawan harus pindah menginap di Gapang atau Iboh, yang juga mengandalkan wisata pantai.
 Wisata budaya Aceh juga unik, menarik. Kota tanah Rencong ini memiliki tarian budaya yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia, yakni tarian Saman, tarian Seudati dan tari Mesuseukat. Apalagi pakaian Aceh yang khas dan senjata Rencong juga menjadi souvenir yang memikat. Bahkan, Wisata relegi, rohani, spiritual yang kuat dan melekat. Dan Mesjid Raya Baiturrahman. “Jika ke Banda Aceh, belum masuk dan shalat di mesjid ini tentu belum afdhol,” kata Aulia Husni Putra, pejabat di Pemprov NAD.
 Daya tarik wisata lainnya, sisa-sisa keganasan Tsunami kini menjadi primadona obyek wisata baru, yang menarik untuk dikunjungi. Untuk mendatangi objek wisata peninggalan tsunami yang ada di seputaran pantai Banda Aceh ini, cukup mudah. Wisatawan bisa menyewa taksi, atau jika ingin menghemat biaya bisa naik becak motor yang menjadi kendaraan angkutan khas Banda Aceh.
 Obyek wisata itu, Masjid Ulee Lheue yang masih utuh digempur tsunami. Kapal PLTD Apung yang terdorong ke daratan dan sampai kini masih berada di atas rumah penduduk Gampong Punge Blang Cut, jaraknya sejauh 4 Km dari Pelabuhan Ulee Lheue. Di kapal apung yang sudah tidak difungsikan ini, wisatawan bisa naik ke atas geladak setinggi lebih kurang 20 meter, karena di sisi tongkang sudah dibuat tangga besi lengkap dengan pagar hingga ke geladak untuk memudahkan wisatawan menaikinya.
 Dari atas geladak kapal, wisatawan bisa menyaksikan pemandangan luas ke berbagai belahan kota di Banda Aceh. Tampak jelas, betapa jauhnya jarak pantai dengan lokasi kapal apung terdampar. Wisatawan juga bisa membayangkan betapa berbahayanya gelombang tsunami. Bahkan, di sekitar kapal terdampar di atap rumah ini, masih terlihat jelas sisa-sisa dinding dan atap bangunan milik warga yang hancur diterjang gelombang dasyat.
 Kapal nelayan di atas rumah sisa tsunami lainnya yang juga banyak dikunjungi yakni kapal di atas rumah yang berlokasi di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam. Wisatawan bisa menyaksikan akibat dari gelombang tsunami yang melanda daerah itu. Kapal nelayan yang pada awalnya ditambatkan di dermaga pantai Aceh, terbawa arus hingga lebih kurang tiga kilometer ke daratan. Sewaktu terjadi tsunami, 165 orang selamat dari terjangan gelombang karena menyelamatkan diri ke atas kapal. Kini, di depan rumah tempat kapal ini bertengger sudah dibangun sebuah jembatan layang agar wisatawan bisa menyaksikan dari dekat kondisi kapal nelayan.
 Juga ada Monumen Tsunami dibangun di atas lahan seluas 7,8 hektare, yang lokasinya di pinggir Jalan Banda Aceh-Meulaboh, Aceh Barat. Monumen ini memiliki struktur khas, tinggi dan besar, bentuk ukuran tugu mengikuti pola angka “26-12-2004″. Angka 26 menunjukkan banyaknya garis lengkung di dasar tugu, 12 adalah banyaknya ombak pada tugu, dan 2004, banyaknya riak kecil dari keseluruhan ombak pada tugu.
 Dan yang tak kalah menariknya, ada kuburan massal Meuraxa dan Labaru yang mengubur sedikitnya 46.800 jenazah korban tsunami. Lokasi kuburan yang menjdi saksi bisu tsunami ini sekitar enam kilometer dari pusat kota Banda Aceh atau beberapa ratus meter dari bibir Pantai Ulle Lheue. Inilah destinasi yang paling menyayat hati.  Negeri Serambi Mekkah juga akan mengembangkan wisata gerilya. Beberapa lokasi menarik bekas perjalanan para gerilya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dijual ke wisatawan. Selama turis bergerilya akan menikmati panorama pemandangan alam yang indah. Gua-gua tempat persembunyian gerilyawan yang masih terpelihara. Menerobos hutan rimba yang menakjubkan. Menyusuri sungai yang alami. Dan menyaksian pohon buah-buahan, yang selama konflik dipakai sebagai menu pengisi perut bagi para gerilyawan
 ”Saya harapkan tahun ini, wisata gerilya sudah mulai dibuka untuk wisatawan. Wisata gerilya juga dikembangkan di daerah-daerah di Aceh, dan akan menjadi wisata unggulan. Karena wisatawan pasti akan tertarik sekaligus akan merasakan masa-masa sulit yang terjadi pada masa lalu,” ungkap Gubernur bertitel dokter dan terampil menerbangkan pesawat terbang.
 Mengembangkan wisata gerilya tidak malah membuat wisatawan takut? ”Saya jamin pasti aman. Tidak perlu ada rasa takut bagi wisatawan untuk datang. Aceh sekarang bukan Aceh yang dulu. Kini sudah berubah total seratus delapan puluh derajat, tak percaya buktikan saja,” tambah Gubernur serius sambil membutikan di Aceh sejak musibah tsunami kini masih ada 7.000 relawan (NGO) dari 150 negara yang membantu rakyat Aceh, dan mereka aman-aman saja.
 Keberadaan relawan asing diharapkan menjadi duta promosi gratis bagi pariwisata Aceh. Harapan ini memang tak berlebihan, mengingat mereka sudah paham, tahu kondisi dan potensi pariwisata di Aceh. Juga, sudah mengetahui adat istidat, budaya, sopan santun dan rasa hormat warga Aceh saat menerima tamu dari negara lain.
 Memang pariwisata Aceh bangkit, namun sayang kebangkitan itu masih terganjal dengan lemahnya promosi, dan penyampaian informasi yang terbatas karena anggaran untuk itu sangat kecil. Hambatan lainnya, masih adanya larangan orang asing mengunjungi Aceh berdasarkan peraturan darurat militer yang dibuat tahun 2003, yang hingga kini belum dicabut. Sehingga orang mengira Aceh masih tidak aman. Padahal Aceh sekarang sudah pulih, sudah damai.
 Persoalan lain, perlunya penerbangan pesawat asing langsung ke Aceh. Dan penambahan jumlah penerbangan nasional dari penjuru kota besar untuk menyinggahi Aceh. Untuk itu, regulasi atau izin dari pemerintah pusat agar memberikan kebebasan, jangan malah memasungnya. Sebuah kata harapan klasik, jika promosi dan izin penerbangan langsung ke Aceh dibuka, jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh pasti grafiknya naik. Namun kapan? (endy poerwanto)

20
Feb

PESONA WAHANA DANAU MEKARSARI

Posted in destinasi  by wisatanews on February 20th, 2009

WAHANA Danau Mekarsari atau Danau Cipicung di area Taman Wisata Mekarasi Cibubur, yang menyajikan berbagai permainan dan hiburan yang kreatif, ternyata banyak diminati wisatawan nusantara yang berwisata dalam mengisi Liburan Puasa, terutama pada Sabtu dan Minggu.
”Bahkan saat Liburan Lebaran pun banyak wisatawan yang menikmati fasilitas yang menjadi andalan wisata di Mekarsari,” ungkap Public Relations Mekarsari Catherina W. Day. 
Dijelaskan berbagai permainan modern yang penuh andrenalin dan tantangan di air, seperti Floating Donat, Giant Bubble, Kano, Becak Air, Aqua Bike dan berbagai sarana hiburan air  lainnya, selalu menjadi sasaran utama bagi pengunjung, setelah berkeliling menikmati wisata kebun di Mekarsari.
”Memang wahana danau Mekarsari saat ini menjadi salah satu andalan wisata di Mekarsari. Dan ke depan terus dilakukan perubahan-perubahan agar wisatawan yang datang tidak merasa bosan dengan permainan air yang ada,” tambahnya.
Danau seluas lebih 27 hektar dengan kedalaman 25-30 meter ini memiliki potensi pengembangan yang luar biasa secara sosial, ekonomi dan ekologi. Saat ini saja, kata Chaterina, dengan pemanfaatan yang belum mencapai 5 persen, Danau Mekarsari mampu menyedot perhatian pengunjung yang ingin menikmati permainan air.
Sejak dibuka pada tahun 1995 oleh presiden Soeharto, Taman Wisata Mekarsari yang dikelola PT Mekar Unggul Sari telah banyak mengalami metamorfosis. Taman Wisata yang dulu dikenal dengan nama Taman Buah Mekarsari ini sempat diperkirakan ditutup karena berbagai persoalan. Namun, setelah berbaikan manajemen dipengelolaannya sedikit demi sedikit Mekarsari mengalami perubahan menuju perbaikan.
Sejak masa Kulminasi (2004), Taman Wisata Mekarsari mengacu pada konsep 4Si, yakni Konservasi, Reboisasi, Edukasi dan Rekreasi. Sikap konsistensi ini membawa hasil berupa peingkatan jumlah pengunjung dari tahun ke tahun yang berkisar 30 persen. Bahkan pada masa liburan sekolah dan week end jumlha itu naik menjadi 50 persen.
Pastinya Taman Wisata Mekarsari sedang berbenah dan terus melakukan perkembangan sehingga kepuasan pengunjung dalam belajar dan bermain di Mekarsari bisa optimal. (endy)

17
Dec

LASKAR PELANGI TERANGI DESTINASI BELITUNG

Posted in destinasi  by wisatanews on December 17th, 2008

MOMENTUM kesuksesan film Laskar Pelangi, membawa berkah bagi Kabupaten Belitung. Berkah tak hanya mendongkrak popularitas nama daerah, juga berhasil menjunjung pariwisata Belitung. Tak bisa dipungkiri Belitung memang kaya obyek wisata menarik, unik, eksotik punya daya tarik.

Sayang, hanya karena lemahnya promosi, kurangnya publikasi, belum ditangani serius, tak ada lokomotif penggerak ditambah rendahnya investor yang masuk, menyebabkan pariwisata Belitung kurang beruntung.
Untungnya, berkat film layar lebar ‘Laskar Pelangi’ juga video klip Nidji, yang lokasi syuting berlatar belakang destinasi di Belitung, ternyata membawa angin perubahan bagi daerah yang dulu dikenal sebagai penghasil timah dan lada.
Kini Belitung, dengan gagah berani menyambut wisatawan lewat sambutan ‘Selamat Datang di Bumi Laskar Pelangi’. Dampaknya, wisatawan mulai berdatangan. Mereka terbuai keindahan alam yang mempesona. Pantai indah dengan bebatuan yang menawan, pasir putih bersih, pulau-pulau kecil bertebaran dimana-mana, laut yang bebas pencemaran, terumbu karang yang menerawang alami, keanekaragaman flora, fauna serta kekayaan tradisi, budaya yang berbeda.
Yang lebih mengembirakan lagi, jarak antara satu obyek wisata dengan lainnya berdekatan, sehingga wisatawan akan merasa puas. Apalagi jarak tempuh Jakarta - Tanjungpandan hanya ditempuh dalam waktu 50 menit.
Untuk Jalur laut, pelayaran kapal feri cepat (Jet Foil), Pangkal Pinang (Bangka)–Tanjung Pandan (Belitung) dua kali sehari dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Tersedia pula pelayaran dengan kapal cepat angkutan sungai danau dan penyeberangan (ASDP), Belitung–Sunda Kelapa Jakarta.
Dari bandara Hanadjoeddin, bisa city tour lebih dulu di kota Tanjunpandang, menyaksikan Rumah Tuan Kuasa, yakni rumah penguasa timah tempo doeloe, Museum Belitung, Monumen Perjuangan, Kapal Keruk Ceruduk, situs-situs kejayaan tambah timah serta pantai pendam untuk menikmati sunset yang membuat kenangan tersendiri.
Dan, ada pemandian alam “Tirta Merundang Indah” di Desa Air Seruk, Kecamatan Sijuk, 15 km dari Tanjung Pandan. Mudah dicapai dengan berbagai jenis kendaraan, sekitar 30 menit dari Kota Tanjung Pandan. Di Sijuk juga ada pantai terkenal, pantai Tanjung Tinggi.
Pantai ini sangat indah dan unik dengan pasir putih dan susunan bebatuan menawan, yang jarang dijumpai di tempat lain bahkan di Bali sekalipun. Apalagi, pantainya diapit dua semenanjung. Pantai berpasir putih dengan ratusan batu granit besar yang tersebar di kedua semenanjung juga laut di depan pantai.
Ukuran granit mulai dari beberapa meter kubik hingga ratusan meter kubik lebih besar dari sebuah bangunan sebesar rumah. Bentuk dari batu-batu besar juga unik, sebagian membentuk gua, yang dapat digunakan berteduh selama hujan. Batu-batu itu bertumpuk satu sama lain membentuk obyek yang menarik. Batu-batu itu terletak di atas pasir putih. Di antara susunan batu itu terdapat celah-celah yang bisa dilewati manusia. Namun, waspada tetap penting karena di kedalaman air setinggi 40 sentimeter pun dapat ditemukan ubur-ubur bening berkepala sebesar bola basket dengan tentakel panjang.
Pantai Tanjung Tinggi memang indah karena airnya terlihat bening hingga tembus ke dasar dengan gradasi warna biru tua ke biru muda lalu transparan saat menyentuh pasir putih di tepian. Tidak ada ombak sama sekali, hingga permukaan airnya tenang seakan memiliki daya magis yang mampu menarik siapapun membasahkan kaki. Lokasinya hanya berjarak 30 kilometer utara Tanjung Pandan.
Belitung juga banyak memiliki kawasan pantai yang indah. Misalnya Pantai Tanjungkelayang.

Batu Granit

Selain keindahan yang mempesona, pantai yang jaraknya 27 kilometer dari Tanjungpandan, terdapat batu granit berukuran besar. Uniknya, karena terkikis air laut, muncul relief-relief di batu granit. Karena keindahan alamnya, masyarakat Belitung percaya bahwa pulau-pulau merekalah yang dipilih peri-peri kahyangan ketika akan mandi cahaya Bulan.
Keindahan alam juga tampak di Selat Nasik, kecamatan di Pulau Mendanau, sekitar dua jam pelayaran dari Tanjung Pandan ke arah barat. Di sana ada atraksi menarik “Nundak” ikan tenggiri, memancing ikan tenggiri sambil mendayung perahu. Perairan Selat Nasik, potensial budidaya rumput laut dan ikan kerapu.
Karena itu, Kecamatan Selat Nasik ditetapkan sebagai etalase perikanan dan kelautan Kawasan Barat Indonesia oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Selat Nasik punya beberapa macam kesenian tradisional yang terus dilestarikan, musik stambul pajar, permainan lesong panjang dan begubang. Ada rumah tradisional dengan arsitektur yang usianya 100 tahun lebih.
Sedikitnya ada delapan pulau kecil tak berpenghuni yang masuk Desa Tanjung Binga, Kecamatan Sijuk, yang terkenal dengan keindahan alam, pantai, dan bentuk alamiah batu granit yang memesona. Pulau itu adalah Pulau Burung seluas 12 hektar dengan kebun kelapa dan bukit kecil di tengah pulau. Dinamakan Pulau Burung karena di satu sudut pantai terdapat batu granit setinggi 20 meter yang menyerupai burung.
Di Pulau Lengkuas terdapat mercusuar yang dibangun pada masa Belanda tahun 1882. Perairan di sekitar pulau ini banyak terdapat karang laut yang indah sehingga dijadikan objek menyelam oleh wisatawan. Pulau lainnya adalah Pulau Babi, Pegadaran, Lutung, Kera, Jukung, Jenang, Pulau Batu Berlayar dan Pulau Burung.
Di Belitung, wisatawan petualang bisa menikmati ombak laut sambil memancing malam hari dengan perahu bagan nelayan di Selat Gaspar yang memisahkan Pulau Bangka dengan Belitung. Caranya, bisa ikut nelayan atau menyewa bagan berikut awaknya. Memancing di Selat Gaspar adalah obyek wisata eksklusif yang ditawarkan Belitung. Saat ini penduduk Belitung dan orang Jakarta pada akhir pekan memancing di laut dengan kapal sendiri atau menyewa perahu.
Ada pula ekosistem kerangas yang langka, hanya terdapat di sedikit lokasi, satu di antaranya di Belitung. Lantai hutan yang putih pucat dan suhu panas dengan lebih dari satu jenis tumbuhan pemangsa serangga (karnivora), seperti kantong semar yang oleh masyarakat Belitung disebut ketakong atau kemidokan.
Selain keindahan alam, Pulau Belitung juga memiliki daya tarik seni-budaya. Masyarakat suku Sawang di sana memiliki upacara yang disebut buang jong. Upacara yang berlangsung dua hari-dua malam menjelang musim angin barat (sekitar Agustus atau November) ini bertujuan memohon perlindungan kepada Yang Mahakuasa agar terhindar dari bencana ketika mengarungi lautan untuk menangkap ikan. Bentuk acaranya adalah melarung perahu kecil berisi sesajian dan rumah-rumahan ke laut lepas.
Untuk wisata kuliner yang terkenal adalah mie Belitung, sambel serai, sambel lingkongh dan terasi Belitung yang kesohor. Tertarik?  (endy)