W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for the ‘berita wisata’ Category

1
Jul

MENGISI LIBURAN MENJELAJAH ALAM

Posted in berita wisata  by wisatanews on July 1st, 2009

Liburan sekolah telah tiba. Meski bertepatan pelaksanaan Pemilu Presiden 2009, namun niat dan minat berwisata untuk menghilangkan kejenuhan dan rutinitas sehari-hari, tak boleh kendur. Belum tahu kemana harus berwisata? Ternyata di pinggiran Ibukota Jakarta, ada beberapa alternatif wisata alam yang tak kalah asyiknya untuk dijelajahi. Back to nature, pilihan berwisata yang tepat dalam menghabiskan waktu liburan.

Wisata alam memang sampai kini masih menjadi primadona. Selain kualitas udara yang segar, bersih, sejuk juga dapat mengenal lingkungan, kehidupan alam yang memiliki pesona luar biasa. Pertimbangan lain berwisata alam karena memiliki sederetan obyek wisata yang tak akan ada habisnya. Ada kawasan hutan lindung, kawah gunung berapi, perkebunan, air terjun, air panas dan bumi perkemahan yang semua destinasi itu ada di seputaran Jakarta
Keberadaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memang sudah tak asing lagi. Beragam obyek wisata kebudayaan, kesenian, sejarah, museum, tempat rekreasi dan wisata alam yang sejuk, tak habis dinikmati dalam tempo sehari. Apalagi tempat wisata di Jakarta Timur, kini sudah memiliki Desa Wisata yang dilengkapi penginapan murah bernuansa pedesaan, bersahabat dengan alam.
Berdiri di atas lahan seluas 3,5 hektare, Desa Wisata menyediakan tempat istirahat berkapasitas hingga 450 orang. Konsep rumah inap ini dilengkapi kamar tidur dan fasilitas lain yang membuat wisatawan semakin betah. Awalnya tempat itu diperuntukkan bagi pelajar di Tanah Air yang ingin berwisata budaya di Taman Mini. Namun wisatawan juga banyak tertarik untuk menginap, menikmati kesejukan udara pinggiran Ibukota.
Bosan berwisata di TMII, bisa langsung ke Taman wisata Mekarsari merupakan salah satu tujuan wisata dalam negeri. Beragam wahana tumbuhan bisa ditemukan di taman buah yang terletak di kawasan Cileungsi, Bogor. Berwisata sambil mengenal berbagai tanaman buah sekaligus menikmati buah-buahan segar, juga dapat belajar bercocok tanam.
Dengan tiket terjangkau, wisatawan dapat mengenal jenis tanaman yang jumlahnya mencapai hampir 1.500. Mekarsari adalah kebun buah-buahan tropis terkomplet di Indonesia bahkan terlengkap di dunia. Bahkan, di lokasi wisata ini wisatawan bisa mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mengenal berbagai tanaman. Sementara Rumah Pohon di tengah-tengah areal Mekarsari memberikan kepuasan tersendiri bagi pengunjung yang hendak bermalam. Mereka juga dapat berkeliling menggunakan bus yang telah disediakan sambil menikmati area wisata seluas 264 hektare.
Mirip dengan Mekarsari, ada wisata agro di Citeruep Bogor, Kebun Wisata Pasir Mukti. Obyek wisata ini menjadi tujuan wisata favorit anak-anak, terutama saat liburan sekolah. Karena dilengkapi beberapa kegiatan wisata yang ditujukan bagi anak-anak seperti menanam padi, memandikan kerbau, menangkap ikan, dan memberi makan bebek.
Namun, buat orang dewasa pun banyak yang bisa dilakukan di tempat luas yang penuh hamparan dan berbagai tanaman ini, wisatawan juga berkeliling melihat kebun anggrek dan lahan kebun buah serta tanaman obat, jalan-jalan di sawah, bermain air di kali. Di kawasan ini, juga restoran dengan menu masakan tradisional yang sangat memuaskan.
Obyek wisata lain, ada Kampoeng Wisata Cinangneng, di kawasan Kecamatan Ciampea, Bogor. Di tempat ini, kebiasaan dan adat isitiadat masyarakat desa sampai sekarang masih tetap terpelihara, seperti wayang kulit, tarian adat Sunda, hidangan khas kampung, serta upacara dan ritual bertani dan berkebun dapat Anda jumpai secara lengkap dari zaman ke zaman.
Kehidupan harmoni yang eksotik inilah yang menjadi daya tarik di Kampung Wisata ini yang membuktikan bahwa Tradisi dan Modernisasi dapat berdampingan dan terpelihara dengan baik. Selain menawarkan keindahan dan pesona alam, seperti pegunungan, sungai, kebun dan indahnya hamparan petak sawah yang menjalin indah, flora dan faunanya serta kombinasi antara kegiatan alami pedesaan dengan program-program wisata budaya yang menarik, menyehatkan, serta dapat diikuti oleh semua orang.
Dan, tempat ini pun menyuguhkan berbagai aktifitas yang sangat mendidik bagi keluarga terutama putra-putri Anda. Ini dapat dirasakan dan dinikmati dengan tawaran yang disuguhkan seperti bagaimana cara menanam, memelihara dan mendapatkan hasil dari berbagai tumbuh-tumbuhan.
Juga ada kawasan pemandian air panas di Gunung Pancar, Sentul Bogor. Selain pemandian umum, di kawasan ini ada resor and spa Giritirta Hot Spring. Banyak paket spa yang ditawarkan dengan harga terjangkau yang dilengkapi berbagai pilihan perawatan mulai Hot Spring Hydrotherapy, massage, scalp treatment, facial, body scrub, dan manicure-pedicure.
Namun bila ingin berendam saja, disewakan ruang-ruang kolam air panas yang memiliki gazebo dan dilengkapi shower. Ruang berpemandangan alam ini berkapasitas hingga 5 orang. Selain pemandangan alam desa yang menyejukkan mata. Kawasan ini memang terpencil dan susah ditempuh, namun perjalanan akan terobati dengan suasana pedesaan yang belum pernah dirasakan bagi wisatawan yang beraktifitas di perkotaan.
Obyek wisata lain yang tak kalah menarik, pemandian air hangat Tirta Sanita di Desa Ciseang Parung Bogor juga dilengkapi taman wisata yang teduh. Air hangat dari Bukit Pekapuran yang mengalir di dalam kompleks wisata ini. Air hangat ini mengandung garam, kapur dan belerang sehingga sangat cocok untuk penyegaran tubuh atau menurut masyarakat sekitar dapat menyembuhkan penyakit rematik, asam urat serta penyakit kulit.
Air yang bersuhu sekitar 35-40 derajat Celsius itu dialirkan melalui selang-selang dan ditampung dalam 14 bak kamar mandi dan 12 bak mandi VIP. Bak yang ada di desain seperti bath up sehingga pengunjung dapat berendam dengan leluasa. Dan suhu air yang tak terlalu panas sangat nyaman untuk berendam, asalkan airnya tidak terminum sebab airnya sangat asin.
Lebih dekat lagi dari Jakarta, ada kawasan wisata alam bernama Tanah Tinggal di Ciputat Tanggerang, dekat dengan Jakarta Selatan. Destinasi ini memiliki fasilitas wisata alam mulai dari permainan anak-anak, kolam renang, flying fox, hingga berlayar dengan kano, yang dapat dinilkmati di antara rindangnya pepohonan berusia lebih dari 20 tahun. Berbagai pohon menjulang ke angkasa, seperti pohon beringin dan pohon bodhi.
Pohon bodhi merupakan tanaman langka yang telah berumur hampir 30 tahun. Konon, pohon ini merupakan tempat Sang Buddha bersemedi dan mendapat pencerahan hidup. Oleh karena itu, pengelola menempatkan sebuah patung Buddha di bawahnya. Pohon ini memiliki struktur tinggi besar yang berbeda dengan pohon beringin yang relatif pendek dan memiliki akar menggantung di sepanjang batangnya.
Di Tanah Tinggal juga memiliki kolam renang yang berusia 27 tahun. Meski umurnya lebih dari seperempat abad, kolam ini tetap terjaga kebersihannya. Kolam yang berbentuk daun (sesuai simbol Tanah Tingal) itu,  dikelilingi pepohonan yang rindang.
Obyek lainnya ada sejumlah pohon langka, seperti pohon randu (pohon penghasil kapas) karena kini varietasnya tinggal sedikit.
Tak jauh dari situ, ada sebuah danau mini yang biasa digunakan untuk bermain kano. Dan destinasi seluas 10 hektar ini, masih memliki berbagai obyek untuk dijelajahi. Tertarik? (endy poerwanto)

29
Jun

GROBOGAN, KAYA OBYEK MISKIN WISATAWAN

Posted in berita wisata  by wisatanews on June 29th, 2009

 JANGAN tanya soal obyek wisata di Grobogan. Karena kota kabupaten di Jawa Tengah ini, memang kaya dengan obyek. tervata ada sembilan destinasi yang cukup potensi untuk dikunjungi. Sayang meski kaya obyek, namun jumlah kunjungan wisatawan masih sangat miskin. Yang lebih miskin lagi, hingga kini belum ada investor yang mau menanamkan modalnya di wilayah ini.
 ”Kami menyadari dengan banyaknya wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) yang datang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengurangi pengangguran dan nama Grobogan akan diperhitungkan di tingkat nasional,” ungkap Sastro Wibowo, tokoh masyarakat Grobogan.
 Saat ini Pemda Grobogan terus aktif menjual obyek wisatanya dengan melakukan promosi secara gencar melalui publikasi di media, ikut pameran wisata, juga membuat profil obyek wisata melalui video visual dalam bentuk VCD dan DVD. Selain itu, daya tarik wisata Grobogan ditawarkan kepada investor nasional, untung-untung jika investor asing sehingga bisa untuk menggairahkan pertumbuhan ekonomi di daerah. ”Terus terang saat ini ada hotel namun belum ada hotel berbintang yang memadai, juga belum ada restorant skala nasional,” tandasnya.
     Sembilan objek wisata di Grobogan yang potensial antara lain Bledug Kuwu, Waduk Kedung Ombo, Goa Macan dan Goa Lawa, air terjun Widuri, Api Abadi Mrapen, Makam Ki Ageng Selo, Ki Ageng Joko Tarub, dan Ki Ageng Lembu Peteng. Kawasan objek wisata Bledug Kuwu di Kradenan seluas 6 hektare ini memiliki keunikan, karena letupan lumpur setinggi delapan meter dan mengandung air garam bisa bermanfaat untuk bahan pembuatan garam dengan kualitas yang baik.
     Bahkan, konon ceritanya adanya Bledug Kuwu disebabkan lobang yang menghubungkan tempat Bledug Kuwu dengan Samudra Selatan, karena zaman dahulu Joko Linglung anak dari Aji Soko yang berujud ular naga melakukan perjalanan dari Laut Selatan menuju kerajaan Modang Kamolan melalui bawah tanah, sehingga muncul lumpur di Kerajaan Modang Kamolan tersebut.
     Objek wisata itu cukup menarik apabila dikelola profesional. Untuk itu, ia berharap ada investor yang tertarik menanamkan modalnya mengelola objek wisata di Grobogan, kendati saat ini pendapatan sektor pariwisata masih minim,
     Ia menyebutkan, pendapatan sektor pariwisata tahun 2004 hanya mampu menghasilkan Rp50 juta, tahun 2005 meningkat menjadi Rp63 juta dan tahun 2006 menghimpun masukan Rp65 juta. Padahal, setiap tahun melalui APBD Kabupaten Grobogan dianggarkan dana sekitar Rp100 juta untuk merawat objek wisata. Tertarik Investasi? (endy)

17
Mar

OH..YA NASIB GEDUNG TUA DI JAKARTA

Posted in berita wisata  by wisatanews on March 17th, 2009

NASIB gedung-gedung tua peninggalan sejarah yang tersebar di Ibukota, semakin merana. Selain tak terawat dengan baik, kondisinya juga tak sempurna. Yang menyedihkan lagi, satu persatu cagar budaya itu pindah tangan. Di tangan pemilik baru, bangunan asli dibongkar dan dibangun sebuah bangunan gaya modern yang menghilangkan nilai-nilai sejarah, menghilangkan landscap masa lalu, mengilangkan budaya.
Sudah banyak contoh soalnya, salah satunya bangunan rumah tua di kawasan Palmerah, yang bersebelahan dengan Gedung Kompas. Dimana ada sebuah rumah tua milik orang Tionghoa, yang dulu ada papan nama cagar budaya yang dipatok Pemda Jakarta Selatan. Namun kini bangunan dijual dan dibongkar total, lalu dibangun gedung baru dengan nama Gedung Pers Pancasila. Sengaja memakai lebel pers dengan asumsi tak ada yang berani memasalahkannya, mengutik-utiknya. Gila benar.
Begitu juga di kawasan Jalan Hayamwuruk, Gajahmada dan kawasan kota, dimana gedung-gedung tua itu berubah konsep gaya masa lalu. Ada  yang bagian depannya sudah dirombak, ada yang sudah dibongkar, ada yang ditutupi papan reklame, ada yang dibiarkan kumuh, ada yang dipagar seng, ada yang ditempel pengumuman dijual. Ada-ada saja ulah manusia yang tak pernah menghargai peninggalan sejarah, tak pernah memiliki jiwa melestarikan, tak pernah bersyukur dengan era masa lalu.
Keserahkahan, ketamakan, ketidakpedulian, kehilangan jiwa patriotisme memang kini sudah mengangkar kuat di era kapitalisme. Masa lalu sudah dianggap dari bagian perjalanan hidup yang tak berlaku lagi di era masa kini. Indikasi ini memang tak berlebihan malah semakin kuat dengan hilangnya gedung-gedung tua peninggalan sejarah. Lalu siapa yang peduli?
Sejarahwan, hanya bisa komentar tanpa bisa berbuat banyak. Swasta jelas tak diharapkan lagi, kepentingan bisnis diutamakan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan ada posisi tawar menawar yang dikedepankan, menguntungkan atau tidak? Prospek atau proyek buang-buang uang? Pokoknya banyak pertimbangannya lah. Karena itu ya jangan berharap.
Pemerintah, naga-naganya juga susah dengan alasan klasik yakni anggaran terbatas mana mungkin uang negara dibelikan aset bangunan tua yang tak jelas peruntukannya, apalagi hanya untuk melestarikan wah jauh dari harapan. Juga mau ditukar guling, juga gulingnya siapa? karena swasta pasti melihat ada prospeknya nggak, boleh dibongkar nggak, ada nilai hong shuinya yang baik tidak? ya pokoknya banyak pertimbangan.
Jadi, bagaimana melestarikan bangunan peninggalan sejarah itu? mungkin salah satu solusinya ya meringankan pajak bagi pemilik gedung-gedung tua di Ibu Kota. Tujuannya, agar pemilik gedung terdorong melakukan perawatan terhadap gedung-gedung yang tergolong bangunan cagar budaya. Pemilik gedung bisa menyisihkan anggarannya untuk membeli cat, membeli paku, membeli pembersih lantai, membeli pengharum ruangan, membeli setangkai pohon agar tambah hijau, membeli apa sajalah yang untuk melestarikannya.
Keringanan pajak sebagai insentif memang selayaknya sudah diberikan. Memang pernah ada keinginan kuat untuk meringankan beban pajak bagi pemilik bagunan tua. Sayangnyam keinginan itu terkendala UU perpajakan yang belum memungkinkan. Padahal, keringanan pajak itu juga untuk merangsang para pemilik gedung tua untuk melakukan perawatan, sehingga pelestarian bangunan cagar budaya bisa terus dilaksanakan.
Solusi lainnya butuh langkah kreatif, profesional ditambah sentuhan jiwa seni tinggi untuk mengelola bangunan tua menjadi obyek wisata. Juga kepedulian biro perjalanan wisata (BPW) untuk peduli memasarkan obyek wisata peninggalan sejarah.
Di negara kapitalis seperti Singapura, Jerman, Italia, Inggris, Jepang dan negara lain di Eropa, eksestensi bangunan tua cagar budaya benar-benar dilindungi, benar dimanfaatkan untuk menjadi destinasi, benar-benar dilestarikan, benar-benar diatur dengan undang-undang yang sangat ketat. Dan masyarakatnya memiliki kesedaran yang tinggi untuk melindunginya. Bagaimana dengan kita? (endy)

17
Mar

WOC TANDINGAN DIGELAR LSM

Posted in berita wisata  by wisatanews on March 17th, 2009

SEJUMLAH Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi-organisasi nelayan nasional dan internasional akan membuat pertemuan tandingan untuk membahas isu-isu yang tidak diagendakan dalam Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC).
Pertemuan tandingan ini sangat penting untuk mendesakkan agenda-agenda rakyat yang cenderung dilupakan dan diabaikan dalam WOC. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertama WOC yang akan berlangsung di Manado, Sulawesi Utara, tanggal 11-15 Mei 2009
Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nahdian Furqan di Jakarta, Senin (16/3), mengatakan, Pemerintah Indonesia cenderung mengabaikan substansi dari permasalahan sesungguhnya di sektor kelautan, seperti kerusakan ekosistem pesisir dan terumbu karang, dan lebih diarahkan untuk pembangunan skema pendanaan bagi isu penyelamatan perubahan iklim melalui sektor kelautan.
Kerusakan ekosistem pesisir dan terumbu karang, kata Berry, lebih banyak disebabkan perbuatan manusia, seperti dampak dari proyek-proyek reklamasi pantai, pencemaran industri, limbah pertambangan, eksploitasi sumber daya kelautan yang berlebihan, dan pencurian ikan penggunaan bahan peledak, di mana semuanya itu tidak mendapat tindakan tegas dari pemerintah.
Berry mengatakan, sebagai tuan rumah, Indonesia mesti mampu menggiring perundingan-perundingan WOIC yang menguntungkan bagi Indonesia, bagi penyelamatan wilayah pesisir dan kelautan yang lebih konkret dan riil bagi keselamatan kehidupan rakyat, dan keberlanjutan jasa pelayanan lingkungan .
Walhi bersama jaringan LSM yang mengusung isu pesisir dan kelautan lainnya, organisasi-organisasi nelayan nasional dan internasional, akan membuat pertemuan tandingan untuk mendesakkan agenda-agenda rakyat yang tidak diagendakan dalam pertemuan WOC nanti.
Sebelumnya, Koordinator Program Adaptasi Perubahan Iklim dan Energi WWF Indonesia Ari Muhammad mengatakan, Indonesia dinilai masih belum siap menghadapi negosiasi terhadap sejumlah isu-isu perubahan iklim yang berhubungan dengan kelautan dengan negara-negara lainnya.
Alasannya, Pemerintah Indonesia hingga saat ini belum memiliki data kajian ilmiah yang resmi seputar dampak perubahan iklim di sektor kelautan. Dia mencontohkan, saat ini belum ada hitung-hitungan yang pasti, berapa tingkat penyerapan karbon dioksida (CO2) oleh laut Indonesia, kemudian ancaman kenaikan permukaan air laut terhadap eksistensi pulau-pulau di Tanah Air. (SP)

23
Feb

BIOSKOP DI BANDUNG, WISATA HIBURAN ‘BERSEJARAH’

Posted in berita wisata  by wisatanews on February 23rd, 2009

FILM dan bioskop muncul pertama kali pada dekade-dekade awal abad ke-20, yang merupakan ikon modern dari seni hiburan. Tak lama dari proses pengenalannya, bioskop kemudian segera merambah ke segenap penjuru dunia, mengisi waktu luang orang-orang kota saat itu. Ikon modernitas hiburan tersebut kemudian sampai di salah satu kota yang kita kenal punya segudang kreatifitas, Bandung, 100 tahun lalu, sekitar tahun 1907.
Saat itu dua bioskop pertama berdiri di Alun-alun Bandung dalam bangunan tenda semi permanen yang cukup besar. Bioskop-bioskop tersebut adalah ‘De Crown Bioscoop’ milik seorang bernama Helant dan ‘Oranje Electro Bioscoop’ milik Michel.
Pertunjukan perdana bioskop-bioskop tersebut berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan. De Crown Bioscoop adalah yang tampil lebih dulu. Oranje Electro Bioscoop menyusul tepat seminggu kemudian dengan pertunjukan perdananya pada Sabtu malam, 1 Desember 1907.
Tenda-tenda bioskop tersebut dihias sedemikian rupa dengan dekorasi bendera dan umbul-umbul. Pada salah satu sisi bagian dalam tenda terpampang sebuah layar besar di mana gambar diproyeksikan. Sisi-sisi lainnya ditempeli poster-poster film unggulan yang akan  diputar. Lantai tenda tersebut dilapisi vloer dan alas semacam tikar. Walau sarana  pertunjukan film terbilang masih sederhana, tenda bioskop ini tampil cukup menghebohkan untuk ukuran seabad lalu.
Saat itu film yang diputar tentu masih bisu. Karena itu, Michel sang pemilik bioskop menyediakan sebuah orgel-elektrik yang besar sebagai instrumen pengiring gambar-gambar bisu yang ditampilkan. Pertunjukan film dimulai pukul tujuh malam. Namun, beberapa waktu sebelumnya, suara musik dari orgel Oranje Electro Bioscoop telah terdengar meramaikan atmosfer alun-alun. Musik dari orgel tersebut segera menarik perhatian publik untuk datang ke Oranje Electro Bioscoop.
Ruang pertunjukan di bioskop zaman itu dibagi menjadi beberapa kelas dengan harga karcis yang bervariasi. Karcis kelas I yang dijual lebih mahal tentu, diperuntukkan bagi orang Eropa atau mungkin pribumi dari kalangan menak, kelas II, untuk kalangan Timur asing dan pribumi dari kalangan menengah, dan kelas III atau IV untuk kalangan menengah bawah. Pilihan lain untuk menonton film dengan tarif jauh lebih murah adalah di ‘feesterrein’ (taman hiburan rakyat).

Dari Tenda ke Gedung

Tahun-tahun berikutnya, bioskop di Bandung berkembang dari bentuk tenda semipermanen, lantas beralih ke bangunan permanen yang juga masih sangat sederhana. Bioskop-bioskop permanen yang kemudian muncul di antaranya adalah Elita Biograph, Varia Park, dan Oriental Show di Alun-alun Timur; Alhambra Bioscoop di Kompa-Suniaraja; Orion Bioscoop di Kebonjati; Vogelpoel Bioscoop di Braga-Naripan; serta Deca Bioscoop yang bertempat tepat di belakang kantor pos pusat, Banceuy.
Saat itu bioskop-bioskop lazim tampil sebagai bagian dari sebuah gedung kesenian atau yang saat itu dikenal sebagai ‘roemah koemedie’. Film dalam bioskop adalah salah satu bentuk pertunjukan yang ditawarkan di suatu ‘roemah koemedie’, di samping pertunjukan-pertunjukan konvensional seperti ‘koemedie stamboel’, tonil, konser orkes musik, dan sebagainya.
Menjelang akhir dasawarsa 1910-an, bioskop-bioskop di Bandung mulai dibangun dengan bangunan khusus yang dirancang sebagai gedung bioskop. Di Alun-alun Timur, Elita Biograph dan Oriental Show dirombak menjadi bangunan yang jauh lebih memadai dan tampil utuh dengan bentuk standar sebuah gedung bioskop zaman itu.
Bioskop-bioskop terus berkembang dari jumlah dan fasilitasnya. Pada pertengahan 1920-an, di Braga yang saat itu merupakan pemusatan hiburan kalangan Eropa, dibangun Concordia Bioscoop (populer sebagai Majestic Theater), bioskop elite berstandardisasi Eropa.

Masa Kejayaan

Dalam era film bersuara pada 1930-an, bioskop-bioskop di Bandung makin mengalami kemajuan. saat itu bioskop-bioskop di Bandung dikuasai satu jaringan besar Elita Concern yang dikelola seorang ‘Raja Bioskop’ bernama F.F.A. Buse.
Pada masa itu gedung-gedung bioskop baru yang megah dengan arsitektur yang khas, lengkap dengan fasilitas mutakhir, gencar didirikan oleh F.F.A. Buse. Elita Biograph dan Oriental Show di Alun-alun Timur dibangun ulang dalam rupa gedung besar yang modern dengan corak art-deco yang kental.
Dengan bangunan barunya, Elita Biograph bahkan dikenal sebagai salah satu dari dua bioskop terbaik di negeri ini saat itu. Pembaruan fasilitas dan daya tarik dilakukan pula pada bioskop-bioskop Elita Concern lainnya.
Bioskop baru pun terus dibangun. Di kawasan Pecinan muncul Roxy Theater, Oranje Bioscoop, dan Oranje Park. Sementara di wilayah timur muncul Rivoli Theater di Kosambi dan Liberty Bioscoop di Cicadas.
Dalam mengagumi kemegahan gedung serta standar kualitas bioskop-bioskop di Bandung, Gravin de Réthy, seorang bangsawan Belgia yang berkunjung ke kota ini pada 1930-an sempat bertutur, ‘Zoo’n welverzorgd theater moest Brussel hebben’ (Bioskop-bioskop seperti ini sepantasnya ada di Brussel). Komentar Gravin de Réthy menggambarkan bahwa kemajuan bioskop-bioskop di Bandung paling tidak telah menyentuh standar kualitas bioskop di kota-kota besar dunia, seperti Brussel.
Kegemerlapan gedung-gedung bioskop Elita Concern, berimbang dengan animo masyarakat Bandung. Pada masa Hindia Belanda dulu, bioskop dan ‘feesterrein’ di Bandung tidak pernah sepi pengunjung. Pada akhir pekan bahkan orang harus berebut agar tidak kehabisan karcis.

Lain Dulu Lain Sekarang

Sebagian besar artefak sisa kejayaan bioskop di Bandung masa Hindia Belanda telah punah berganti menjadi bangunan-bangunan baru. Sedikit sisa yang masih bisa kita temukan saat ini adalah bangunan bekas Majestic Theater (sempat bernama Gedung AACC) di Jalan Braga, yang pada masa pasca-kemerdekaan sempat bertahan sebagai bioskop dengan nama Bioskop Dewi.
Saat ini Jalan Braga sendiri tengah di renovasi oleh Pemda Bandung, demi menjaga peninggalan wisata masa lalunya. Di Kosambi masih berdiri pula bangunan bekas Rivoli Teater, yang sekarang digunakan sebagai gedung kesenian Rumentang Siang. Sementara di Alun-alun Selatan masih berdiri bangunan bekas bioskop Radio City milik J.F.W. de Kort yang beroperasi sejak awal 1940-an.
Berbeda dengan dulu, di masa sekarang bioskop seolah memang tidak lagi bisa dikenali melalui rupa fisiknya. Bioskop-bioskop masa kini lazim tampil sebagai bagian dari bangunan besar pusat belanja. Rupa dari sebuah bioskop kini menjadi pelengkap dalam kompleks ‘town square’, mal atau plaza. Tak ada lagi bioskop dalam ‘gedung bioskop’. Tak ada lagi penanda jejak zaman yang dibuat dalam rupa gedung bioskop. (kapanlagi.com)

20
Feb

SUAKA MARGATSATWA MUARA ANGKE MENYEDIHKAN

Posted in berita wisata  by wisatanews on February 20th, 2009

Kondisi obyek wisata Taman Suaka Margasatwa Muara Angke di Jakarta Utara, menyedihkan. Aneka macam sampah organik, limbah industri apalagi sampah kiriman banjir, memenuhi kawasan ekowisata yang selama ini dimanfaatkan untuk pengamatan, penelitian dan pelastarian hutan bakau.

Padahal, kawasan ini merupakan area yang dilindungi. Sayangnya, perlindungan yang dilakukan pemerintah sangat rendah. Juga kesadaran warga Jakarta terhadap kebersihan sampah jauh dari harapan. warga masih seenaknya membuang sampah sembarangan. Kondisi ini diperparah dengan pembuangan limbah industri yang membuang limbah seenaknya. Pemda sendiri juga diam. acuh tak acuh terhadap industri yang mencemari kali di Jakarta.

Memang, upaya penanggulangan dengan pemasangan jaring di muara Kali Adem untuk menahan sampah, sudah diterapkan. Namun jaring itu, tidak mampu menahan serbuan sampah yang terus melimpah. Akibatnya, mengancam kelestarian ekosistem di Taman Suaka Margasatwa ini.

Masyarakat Jakarta yang ingin beriwisata murah, gratis dengan menikmati pemandangan alami di Taman Margasatwa ini, mengaku kecewa setelah datang dan melihat banyak sampah memenuhi kawasan itu. ”Di Jakarta, mencari tempat wisata sudah susah juga mahal. Masuk ke Ancol saja harganya sudah mencekik dan yang berkantong tebal aja yang bisa masuk,” ungkap Ibu Romleh, warga Penjaringan Jakarta, kemarin.

Karena itu, janda beranak dua ini datang berlibur ke Taman Suaka Margasatwa ini, sayangnya kedatangannya harus dibayar mahal, lantaran kecewa setelah melihat kondisi taman suaka yang memprihatinkan.

Satria Narodho, petugas pembersih sampah menilai sampah-sampah yang masuk ke taman suaka ini, melalui Kali Adem setelah terdorong arus dari laut saat terjadi rob (laut pasang). “Saat air surut, sampah-sampah itu kemudian tertahan oleh akar-akar bakau dan tanaman lainnya sehingga menumpuk,” paparnya.

Selain itu, lanjut Satria yang mantan pemulung ini, pencemaran berat yang melanda Teluk Jakarta juga ikut mengancam ekosistem di kawasan tersebut. Sebab,  pencemaran tersebut akan memengaruhi ekosistem tanah dan mematikan pohon-pohon di suaka tersebut. Sebagai bukti, ia menunjukkan banyak upaya penghijauan dan penanaman bakau yang selama ini dilakukan oleh sejumlah aktivis lingkungan tidak memberikan hasil.

Tumpukan sampah di kawasan hutan suaka tersebut sudah bisa terlihat dari pintu masuk di kawasan Pantai Indah Kapuk. Meski telah dilakukan pembersihan, sampah-sampah tersebut masih banyak terlihat . Kondisi itu semakin diperparah dengan air hitam pekat di rawa-rawa kawasan itu maupun di Kali Adem. (endy/marcapada@yahoo.com)

 

19
Jan

SAMPAH DI PANTAI KUTA MEMBUAT RISIH WISATAWAN

Posted in berita wisata  by wisatanews on January 19th, 2009

SEBUT saja Pantai Kuta di Denpasar Bali, semua wisatawan asing maupun domestik pasti tahu dan mengenalnya. Pantai ini memang sudah terkenal akan keindahan, kenyamanan, kesejukan bahkan kebebasannya. Saking bebasnya, tak jarang turis asing melepaskan semua pakaiannya untuk berjemur, memamerkan keindahan tubuhnya dan menjadi tontonan bagi turis lokal. Dan ini wajar-wajar saja.
Justru yang tidak wajar, kini tontotan gratis itu sedikit demi sedikit mulai sirna. Bukan lantaran takut kena Undang Undang Pornografi, namun kondisi pantai Kuta yang semakin kotor dengan tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang pantai. Sudah sebulan lebih, sampah itu tak terurus. Meski sudah diurus oleh sukarelawan, namun sampah dari buangan wisatawan maupun kiriman dari laut itu, tetap membuat risih.
Sampah itu ada bekas air minum, kotak rokok, plastik, dahan ranting berukuran besar dan kecil, potongan kayu, akar pohon yang mengering, batang pohon pisang, juga ada sampah bekas sesaji persembayangan bagi warga Bali usia melakukan upacara ritual. Juga ada sampah rumah tangga pun ikut berbau menjadi satu.
Sehingga Pantai Kuta nampak kumuh, kotor, jorok, tak bersih sehingga membuat risih bagi wisatawan. Kondisi ini memang seudah dikeluhkan sejumlah turis asing yang datang ke Pantai Kuta. ”Dulu, Kuta sangat indah. Kini banyak sekali sampah di sana-sini. Kebanyakan sampah plastik yang tidak bisa terurai alami, kami sangat sayangkan ini,” kata Daniel Rosa, warga Australia yang ditemui di Pantai Kuta, Kamis (15/1).
Rosa datang bersama beberapa temannya menghabiskan libur awal tahun di Bali. Rosa dan teman-temannya itu sangat menggemari selancar air di gelombang laut yang menantang seperti di Pantai Kuta, Bali.
Ia mengaku telah tiga kali datang ke Pantai Kuta. “Tetapi sepertinya semakin lama semakin kotor saja. Apakah tidak ada usaha untuk menjaga kebersihan pantai ini? Padahal Pantai Kuta sangat ideal untuk turis seperti kami,” katanya.
Hal yang sama juga dinyatakan Elizabeth O’Connel, warga Inggris yang dijumpai di tepi Pantai Seminyak. “Saya kira Pantai Kuta sudah kelebihan beban karena terlalu banyak sampah di sini. Tetapi, Hawaii yang jauh lebih banyak turisnya bisa tetap bersih dan menarik untuk didatangi,” kata perempuan akuntan publik di Inggris itu.
O’Connel menyatakan telah beberapa kali mencari informasi tentang pantai-pantai eksotik yang bisa dikunjungi untuk berlibur. Kali ini ia datang ke Bali, namun tahun depan mungkin memilih ke Kamboja. “Teman saya pernah ke sana, katanya pantainya bersih sekali dan masih sedikit orang datang. Memang Bali punya kelebihan dalam hal budaya, tetapi kalau kotor lingkungannya, bisa merugikan,” katanya.
Kawasan Kuta menjadi salah satu lumbung pundi dolar bagi Pemerintah Kabupaten Badung selama ini. Tidak terbilang jumlah hotel berbintang kelas dunia hingga penginapan sederhana serta restoran yang dimiliki kawasan yang telah didaulat warga Australia sebagai rumah kedua mereka. (endy)

2
Jan

TURIS CHINA KHAWATIRKAN RABIES DI BALI

Posted in berita wisata  by wisatanews on January 2nd, 2009

SEJUMLAH wisatawan asal China khawatir dengan kasus rabies yang melanda Bali mengingat pulau tersebut selama ini menjadi salah satu primadona tujuan wisata apabila berkunjung ke Indonesia.
“Kasus merebaknya rabies yang disebabkan anjing yang banyak berkeliaran memang menjadi perhatian utama bagi wisatawan asal China,” kata Manajer Umum Garuda Beijing Pikri Ilham K, di Beijing, Jumat.
Menurutnya, Bali selama ini memang merupakan tujuan favorit bagi wisatawan China yang ingin berlibur ke Indonesia sehingga adanya kabar yang tidak nyaman tersebut membuat kunjungan wisatawan asal China ke pulau itu bisa terganggu.
Meskipun sempat terjadi pembatalan keberangkatan oleh sejumlah wisatawan yang akan berkunjung ke Bali selama 2008, kata Pikri, namun hal itu secara umum belum terlalu mengganggu keinginan wisatawan China ke Indonesia, khususnya Bali.
“Memang ada beberapa wisatawan China yang membatalkan kunjungan ke Bali setelah mendengar merebaknya wabah rabies di Bali sekalipun jumlahnya memang tidak terlalu banyak,” katanya.
Namun demikian, ia mengharapkan pemerintah daerah Bali sebaiknya segera menyelesaikan kasus rabies di wilayahnya karena hal itu diyakini akan bisa memberikan kesan positif bagi kenyamanan industri wisata di pulau itu.
Pihaknya yakin bahwa pemerintah daerah Bali tentunya telah berupaya mengambil langkah cepat dan konkrit dalam menanggulangi wabah rabies tersebut, sehingga kedatangan wisatawan mancanegara tidak terganggu.
Pikri mengatakan, selama ini pemerintah China juga belum mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk berhati-hati berkunjung ke Bali terkait adanya wabah tersebut.
“Tapi saya optimis bahwa pemerintah setempat menyadari masalah itu dan segera bisa menanggulangi wabah itu. Kalau itu terlaksana maka minat warga China datang ke Bali akan pulih kembali,” katanya, seperti dikutip dari antara.
Untuk meyakinkan bahwa Bali saat ini sudah cukup aman dari wabah rabies, pihak Garuda Indonesia Beijing pada akhir Desember 2008 memberangkatkan sekitar 150 agen perjalanan China ke Pulau Dewata untuk bisa langsung mengenai kondisi Bali sesungguhnya.
Keberangkatan agen perjalanan China tersebut diharapkan bisa menyampaikan informasi kepada wisatawan China mengenai kondisi Bali terkini sehingga keinginan warga China mengunjungi Indonesia, khususnya ke pulau itu bisa normal kembali. (e)