WISATA MERAKYAT DI ISTANA RAKYAT
Wisata gratis yang merakyat jadi obat di saat kondisi ekonomi melambat. Sejak akhir Mei 2008, Istana Kepresidenan Jakarta membuka pintu lebar-lebar bagi rakyatnya yang ingin berwisata. Meski dibuka hanya weekend, tapi sambutan rakyat sangat hangat. Apalagi tak dipungut bayaran. Istana Kepresidenan kini jadi Istana Rakyat, pada Sabtu dan Ahad.
Sekat-sekat penghambat masuk ke Istana Negara kini tak ada lagi, setelah Presiden SBY membuka gembok pintu istana, bagi rakyat yang ingin melihat langsung kondisi riil istana. Sekaligus rakyat bisa tahu dan bangga memiliki bangunan warisan bersejarah yang masih tetap berdiri tegak dengan ratusan koleksi benda sejarah, yang terjaga sempurna.
Dalam catatan, pintu istana pernah dibuka pertama kali oleh Presiden KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Namun kembali dilarang setelah adanya penggantian presiden baru. Padahal, di negara lain, Istana Kepresidenan atau kerajaan, seperti Gedung Buckingham Palace, sudah memiliki program tur istana dengan konsep yang jelas, terjadwal, dan kemudahan birokrasi.
Kini rakyat kembali bersyukur, Istana dibuka untuk wisatawan, untuk rakyat, apalagi tak ada pungutan sepeser pun alias gratis. Meski hanya dibuka pada setiap Sabtu dan Minggu, mulai pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB, namun antusias masyarakat Ibukota dan sekitarnya, harus diacungi jempol.
Birokrasi berwisata Istana cukup sederhana. Datang langsung membawa kartu tanda penduduk, berpakaian rapi, tak boleh pakai kaos, tak boleh celena pendek, pakai sepatu, tak boleh bawa kamera, dan bersikap sopan. Wisatawan langsung masuk ke Gedung Sekretaris Negara (Sekneg) dan sudah ada tenda panitia yang menyambut ramah untuk didata identitasnya.
Setelah menunggu giliran pemberangkatan di ruang tunggu, wisatawan bisa melihat-lihat toko cinderamata Istana dengan menjual aneka souvenir seperti kaos, gantungan kunci, topi, korek api, stiker, pulpen, jam, arloji, tremos, cangkir, payung yang semuanya berlogo Istana.
Setelah ada panggilan, setiap rombongan akan diangkut dengan bus kapasitas 20 hingga 25 orang dengan seorang pemandu. Bus melaju ke dalam lingkungan Sekneg dan berhenti di gedung Serba Guna yang disulap mirip gedung bioskop untuk menyaksikan sejarah Istana Merdeka, yang dibangun tahun 1873, pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Louden dan selesai tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Johan Willem van Landsbarge.
Bangunan bergaya arsitektur Yunani Kuno, berdiri di atas tanah seluas 2.400 meter persegi, dirancang arsitek Drossares. Istana ini dikenal dengan Istana Gambir. Karena masa awal pemerintahan RI, istana ini jadi saksi sejarah dilakukannya penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Republik Indonesia Serikat diwakili Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kerajaan Belanda diwakili A.H.J Lovink, Wakil Tinggi Mahkota di Indonesia.
Setelah penandatanganan naskah kedaulatan Republik Indonesia Serikat, bendera merah putih dikibarkan menggantikan bendera Belanda, bersamaan dengan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dan pekik merdeka oleh bangsa Indonesia. Sejak saat itu, nama Istana Gambir diganti menjadi Istana Merdeka.
Setelah 17 menit duduk manis di bioskop nonton film dokumenter, lantas berjalan kaki menuju pintu masuk ke halaman Istana Merdeka, yang sebelumnya melalui alat metal detektor. Wisatawan akan disambut pohon besar yang rindang, teduh dan suasananya begitu sejuk dan bikin ngantuk. Pohon itu diberi nama pohon Ki Hujan. Di lingkungan Istana seluas 6,8 hektar ini ada 84 jenis pohon, bahkan ada pohon yang langka.
Pohon Ki Hujan atau trembesi sendiri jumlahnya ada sekitar 9 pohon, yang sudah ada sejak tahun 1870, malah pohon itu berdiri kokoh sebelum Istana ini dibangun. Di samping itu, ada pohon sawo manila, kol bandam atmim, kaliandra, tangkolo, mahoni, sawo duren, soga, bungur besar sampai pohon kelapa sawit pun tumbuh. Juga yang tak kalah menariknya ada pohon katus yang dimasukkan dalam dua rumah kaca. Kaktus ini hadiah dari Ratu Monaco Grace Kelly untuk Ibu Tien Soeharto.
Selain merasakan kesejukan saat masuk ke halaman Istana Merdeka, juga kedamaian karena terdapat masjid tua ‘Baiturrahman’, yang dibangun tahun 1958 oleh aritektur Sudarsono, yang juga membangun Wisma Negara, yang dulu diperuntukkan buat penginapan tamu-tamu negara dari penjuru dunia, karena keterbatasan hotel pasca Proklamasi Kemerdekaan
Setelah melihat masjid tua, kaki terus melangkah ke depan Istana Merdeka. Dan seorang fotografi Istana menyapa kedatangan rombongan sekaligus menata rombongan untuk difoto bersama di tangga istana. Hasil jepretan itu nanti dapat dibeli ketika mau meninggalkan Istana.
Tangga depan istana dijaga dua petugas Paspampres, yang berpakaian Merah Putih dengan memegang senjata laras panjang. Mereka berdiri di trap tangga paling atas dengan wajah menatap arah Monas. Tangga itu terbuat dari batu mamer yang jumlahnya 16 tangga dengan panjang 21 meter. Di tangga depan Istana Merdeka ini, biasanya digunakan para menteri untuk potret bersama dengan presiden setelah dilantik menjadi menteri.
Setelah menapaki tangga, di pintu barat Istana Merdeka pasti disambut patung perunggu hulubalang membawa kotak. Sebuah pemandangan menakjubkan ketika kaki menginjak masuk Istana pasti disambut dua lampu kristal besar seberat 500 kg asal Cekoslovakia, yang mengelantung di tengah ruangan. Juga lukisan timbul yang terdapat di langit-langit dan dindingnya. Bahkan, di bawah lampu kristal terhampar karpet buatan tangan asal Persia, yang dikerjakan selama 5 tahun. Karpet ini sudah ada sejak jaman Bung Karno. Saking tuanya, karpet itu hukumnya ‘haram’ diinjak, kecuali saat ada penyambutan tamu negara.
Juga ada sepasang gading gajah warna putih bersih, yang usianya setelah presiden masuk ke Istana Merdeka tahun 1949, setelah lama hidup di pengasingan. Selain itu, puluhan beragam benda-benda koleksi peninggalan Presiden pertama Bung Karno. Ada piring hias porselin. Ada jambangan porselin dari Dinasti Meiji Jepang juga buatan China pada abad XIX. Ada lagi patung perunggu penunggang kuda dari Hongaria. Ada vas bunga dari Korea Utara.
Malah lukisan Pangeran Diponegoro hasil karya Basoeki Abdullah yang dibuat tahun 1949, juga ada lukisan ‘Penangkapan Diponegoro’ yang dilukis pelukis Raden Saleh yang dibuat tahun 1857, yang masih tetap dijaga warnanya dan lukisan ini menjadi saksi sejarah. Karena Raden Saleh melukis saat kuliah di Belanda dan lukisan ini dihadiahkan kepada orang Belanda yang menjadi sahabatnya. Dan 100 tahun kemudian, Desember 1949, saat Belanda mengakui kemerdekaan RI dan menandatangani surat perjanjian di Istana Merdeka, Ratu Yuliana menghadiahkan kembali lukisan itu ke Bung Karno.
Juga ada lukisan Jenderal Sudirman. Ada Lukisan Imam Bonjol karya Harjadi. Ada lukisan Gajahmada yang dibuat Henk Ngantung tahun 1950. Ada lukisan Dr. Cipto Mangunkusomo yang dibuat Sudarno tahun 1951. Dan masih banyak lagi koleksi sejarah yang masih terpelihara.
Keberadaan Istana Merdeka memang diperuntukkan acara formal kenegaraan seperti tempat peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus, yang pertama kali digelar di Istana Merdeka pada 1950. Dan untuk pagelaran Parade Senja, serta jamuan makan bagi tamu penting lainnya. ”Selain itu, Istana Merdeka untuk upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan Duta Besar negara-negara sahabat,” ucap Fitria, pemandu wisata.
Karena itu, selain hall besar juga ada ruangan tunggu tamu Duta Besar Negara. Ada ruang Kredensial yang digunakan presiden untuk menerima surat kepercayan dari para duta besar. Juga ada ruang resepsi yang ukurannya lebih besar. Ruangan ini digunakan untuk menjamu para tamu negara. Hal menarik lainnya, terdapat satu ruangan di istana yang pantang dimasuki. Bukan karena mistis, penuh rahasia tapi karena ruangan ini menjadi tempat penyimpanan bendera pusaka dan lembaran asli naskah proklamasi sehingga harus dijaga kelembabannya. Ruang penyimpanan bendera ini merupakan bekas kamar tidur Bung Karno.
Puas berada di dalam Istana Merdeka, selanjutnya kita diajak melintasi taman di belakang Istana Merdeka, yang nampak bersih, terawat dan indah karena dihiasi patung-patung kecil yang jumlahnya puluhan dengan berbagai model. Termasuk sebuah patung petapa tua berusia 300 tahun terbuat dari kayu dan tidak dimakan rayap.
Di taman, juga terdengar suara-suara burung yang khas. ”Burung-burung ini dulunya dikandangin, tapi waktu Ibu Mega jadi presiden, burung-burung ini dilepas bebas. Anehnya, mereka enggak kabur, malah berkembang biak,” ungkap Fitria polos.
Di pinggir taman ada gazebo atau dulu di zaman Belanda disebut ”kupal” tempat untuk pemain musik pada pesta kebun. Di era Soekarno, Kupal dipakai tempat belajar atau home schooling bagi anak-anak Presiden, salah satu yang ikut mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Era Susilo Bambang Yudhoyono, Gazebo sering digunakan untuk pertemuan informal.
Saat berjalan melawati taman yang indah, nampak Kantor Kepresidenan, bagian belakang Istana Negara juga wisma negara. Istana Negara kini menjadi tempat Presiden dan Ibu Ani tinggal. Sejarah Istana Negara yang dibangun tahun 1796, semula untuk kediaman pribadi seorang warga negara Belanda J.A van Braam. Tahun 1816 bangunan ini diambil alih pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jendral Belanda. Karenanya pada masa itu istana ini disebut juga sebagai Hotel Gubernur Jendral. Mulanya bangunan yang berarsitektur gaya Yunani kuno itu bertingkat dua, namun pada tahun 1848 bagian atasnya dibongkar, dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang, tanpa perubahan yang berarti. Luas bangunan ini lebih kurang 3.375 meter persegi.
Sesuai fungsi istana ini, pajangan serta hiasannya cenderung memberi suasana sangat resmi. Bahkan kharismatik. Ada dua buah cermin besar peninggalan pemerintah Belanda, disamping hiasan dinding karya pelukis - pelukis besar, seperti Basoeki Abdoellah. Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara. Diantaranya ketika Jendral de Kock menguraikan rencananya kepada Gubernur Jendral Baron van der Capellen untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Juga saat Gubernur Jendral Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Setelah kemerdekaan, tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.
Istana Negara berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, diantaranya menjadi tempat penyelenggaraan acara - acara yang bersifat kenegaraan, seperti pelantikan pejabat - pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah, dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasioal, dan tempat jamuan kenegaraan.
Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih kurang 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Negara sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan Negara.
Dari wisata kepresidenan, memang hanya Istana Negara yang tertutup bagi kunjungan wisatawan. Karena Istana Negara menjadi tempat tinggal Presiden. Memang dari enam presiden yang memimpin Negara ini, hanya tiga presiden yang mendiami Istana, yakni Presiden Sukarno, Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Inilah rumah rakyat, rumah bangsa yang kini menjadi tujuan wisata. (endy)