W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for June, 2009

29
Jun

DESTINASI MUNA JAUH DARI PUBLIKASI

Posted in destinasi  by wisatanews on June 29th, 2009

INGIN berwisata dengan suasana berbeda, unik, menarik, eksotik, jawabannya hanya ada di Muna. Kota kecil di kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sulteng). Sejumlah destinasi primadona ditawarkan ke wisatawan. Sayang lemahnya promosi dan publikasi, membuat destinasi Muna terpinggirkan, terlupakan dari peta pariwisata Indonesia. Padahal potensinya luar biasa.
 Luar Biasa lantaran obyek wisata di Muna, tidak ditemukan di daerah lain apalagi di belahan dunia. Seperti Gua Liang Kobori atau gua bertulis di Desa Liangkabori Kecamatan Lohia, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari ibukota Muna. Dengan kondisi geografis alamnya yang menantang berupa karang atoll, batuan karst, panorama alam yang masih hijau perawan, ternyata di kawasan ini terdapat 21 gua, yang unik dan menarik.
 Gua Liang Kobori memiliki lebar 30 meter, tinggi 5 meter dengan kedalaman 50 meter ini, menyimpan berbagai misteri peradaban kehidupan manusia zaman dulu, dulu kala. Bahkan kehidupan masa lalu, tergambar jelas di dalam dinding gua yang dihiasi berbagai relief lukisan tangan peninggalan purbakala dari peradaban neolitik. Ada lebih dari 130 goresan  tangan berwarna merah dengan motif perahu, bintang, orang bermain layang-layang, orang menari, orang sedang berburu rusa, seorang menaiki seekor gajah, gambar matahari, gambar pohon kelapa , gambar binatang ternak seperti sapi, kuda dan masih banyak gambar relief lainnya.
 Goresan-goresan itu masih orisinil, utuh, terawat dan terjaga jangan sampai dirusak tangan-tangan jahil. Bahkan, bentuk dan kecemerlangan warnanya  hingga kini masih menjadi misteri, terutama bahan tinta yang digunakan manusia purba dalam melukis di dinding gua. Budayawan Muna, Landoles mencermati lukisan relief itu menggunakan bahan tanah liat dicampur getah pohon, yang melekat di sekitar gua. Kuasnya menggunakan sejenis alang-alang yang diikat menyerupai kuas.
 Daya tarik lain di dalam gua, terdapat terowongan alami sepanjang 20 meter. Didalamnya terdapat stalaktif bahkan tetesan air dari atap gua, yang menetes setiap detik sehingga menimbulkan bunyi dentingan air yang memukau. Warna langit-langit gua  juga khas,  agak kehitam-hitaman bekas mirip bekas perapian manusia purba, untuk mengusir hawa dingin dan tempat memaksa.
 Selain wisata gua, Muna juga punya Danau Laut Napabale yang menakjubkan. Keunikan alam ini karena air laut terjebak cincin karang yang akhirnya membentuk cawan. Air berkubang luas dilingkari bukit-bukit karang yang tinggi dan terjal. Bukit rimbun menghijau nan kokoh seperti benteng penjaga napabale yang mirip lukisan vagina alam. Napabale yang terletak di tebing tinggi Lohia, dekat pantai dengan pemandangan Selat Buton. Dari kejauhan, nampak air laut mengalir lewat gua-gua kecil di kaki bukit karang. Ada tiga karang besar yang ditumbuhi pepohonan liar. Bentuknya seperti tube fallopi, dan tempat ini menjadi lorong jutaan berbagai spesies ikan laut yang hidup di Selat Buton.
 Danau ini juga ada terowongan alami di bawah kaki bukit yang menghubungkan danau Laut Napabale dengan lautan di Selat Buton. Panjang terowongan kurang lebih 50 Meter dan Lebar sekitar 15 Meter. Untuk melintasi terowongan itu, harus menunggu air laut surut karena jika air pasang, terowongan Napabale tertutup air. Dari terowongan gua karang bisa berjalan kaki sambil menikmati batuan karang stalakmit dan stalaktik yang eksotik. Terowongan itu  menuju tepi pantai yang pemandangannya begitu indah serta hamparan pasir yang bersih alami.
 Obyek wisata lain yang tak kalah menarik, batu berbentuk kapal di Raha.  Menurut cerita batu itu berasal dari kapal Sawerigading yang terdampar dan akhirnya membatu. Selain itu, bagi yang gemar Diving bisa menyelam di laut dalam sambil mencari uang logam, benda antik peninggalan kapal asing yang tenggelam ratusan tahun yang lampau. Destinasi lain, Air Terjun Kalima-lima yang memiliki ketinggian 30 meter. Juga ada Danau Montonuno yang airnya jernih yang dikeliling hutan yang alami.
 Yang tak kalah menarik,  ada layang-layang tradisional peninggalan sejarah yang masih terawat baik. Keunikan layangan ini terbuat dari bahan alami seperti, daun kolope dari tumbuhan ubi hutan, bambu rami dan benang yang terbuat dari serat nanas hutan. Bentuk layang-layang ini mirip dengan relief yang  tergores pada dinding gua liang kobori.
 Selain itu Muna punya atraksi adu kuda. Pogeraha Adara atau adu kekuatan kuda ini sudah lama melekat di masyarakat Muna, sudah menjadi bagian kebudayaan yang tak pernah ditinggalkan. Setiap tahun sedikitnya tiga kali atraksi Adu Kuda digelar di lapangan terbuka Kecamatan Lawa, sekitar 20 km dari Raha, kota Kabupaten Muna.
 Atraksi menarik peninggalan raja-raja Muna di era pergerakan. Masa lalu, adu kuda dipertontonkan oleh Raja-raja Muna jika kedatangan tamu penting dari Jawa atau daerah lain. Pertunjukan adu kuda itu dimaksudkan sebagai penghormatan kepada tamu. Kini digelar secara rutin bertepatan hari-hari besar.
 Atraksi ini dimulai dengan memunculkan kuda-kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan yang berbadan besar dan garang. Di tempat lain, dimunculkan juga seekor kuda jantan yang fisiknya sama besar. Kuda jantan itu akan segera berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina yang ada di tempat terpisah. Sementara kuda jantan yang ditugasi memimpin sejumlah kuda betina, pasti marah jika melihat kuda jantan asing dalam kelompoknya. Dalam posisi seperti itulah peristiwa pertarungan kuda terjadi. Sungguh menarik.
 Jika ingin ke Muna, lebih baik bulan Juni karena Pemerintah Daerah bekerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata akan menggelar Festival Layang-layang Internasional, yang dihadiri pengemar layangan dari penjuru tanah air,  juga mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Amerika Serikat, Jepang, Korea, bahkan Jerman. ”Kami akan terus gencar mempromosikan Muna, karena selama ini obyek wisata Muna belum terpubliksasi. Kewajiban kami untuk menggairahkan destinasi Muna,” kata Suriansyah Siregar, Kasubdit Promisi Tujuan Wisata III Depbudpar (endy poerwanto)

29
Jun

PARIWISATA ACEH BERBENAH DARI CITRA

Posted in destinasi  by wisatanews on June 29th, 2009

 CITRA negatif sebagai daerah tak aman, daerah konflik sempat melekat. Dampaknya, pariwisata Aceh terpuruk. Grafik kunjungan wisatawan ke daerah dengan sebutan titik Kilometer nol Indonesia, benar-benar nol. Kondisi itu diperparah adanya bencana Tsunami, 26 Desember 2004 - yang meluluhlantakan roh kehidupan Aceh. Citra Aceh bertambah parah.
 Ditambah lagi, dulu sempat mendapat julukan daftar hitam - sebagai destinasi yang tak layak dikunjungi, karena daerah itu berada di lempengan bumi penyebab Tsunami, juga isu turis wajib berjilbab dan sweeping KTP bagi mereka yang bukan beragama Islam. Isu seperti ini sengaja dibangun pihak tertentu demi kepentingan politik tertentu. Dan pihak tertentu menginginkan Aceh tidak dimasuki wisatawan asing sehingga kasus pelanggaran HAM, ketidakadilan, kasus lain tetap tertutup bagi dunia internasional.
 Kini, pemerintah provinsi Aceh bersama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) berupaya bangkit dari keterpurukan, dari isu tak jelas sumbernya. Aceh berbenah diri menghilangkan citra buruk. Menggaungkan suara, mengibarkan bendera dan membuka mata dunia bahwa Aceh sebagai destinasi yang layak dan aman untuk dikunjungi. Bahkan menjamin tak ada gangguan dari pengacau keamanan. Situasi damai pasca lahirnya MoU Pemerintah RI-GAM, 15 Agustus 2005, begitu terasa saat ini. Aman, nyaman, damai dan kesan semrawut sudah tak ada lagi.
 ”Saya yang jamin kalau semua daerah di Aceh aman. Saya ini mantan petinggi GAM. Kami sesama anggota GAM bertekad menjaga Aceh dari gangguan keamanan. Juga bertekad memajukan pembangunan Aceh, termasuk pariwisata. Kami ingin memberdayakan potensi wisata di Aceh yang melimpah, yang selama ini terpendam, belum pernah dipromosikan,” ucap Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Irwandi Yusuf.
 Melimpah? Ternyata, kenyataan memang demikian. Aceh memiliki sederetan daftar wisata pantai yang mempesona dan menjadi andalannya. Pantai Dakuta, Pantai Meuraksa Pantai 14,5 7,0 Meraksa Syamt. Bayu, Pantai Iboih, Pantai Klah,
Pantai Ulee Lheue dan Pantai Lhoknga, kedua pantai ini namanya jadi perguncingan dunia karena sebagai pantai yang berhadapan langsung dengan laut lepas yang menjadi sumber utama datangnya tsunami. Namun demikian, kedua pantai ini masih indah dilihat, bahkan tertata secara alami. Bahkan, pantai Ulee Lheue punya sejarah panjang, saat Belanda datang melalui pantai, mencaplok tanah rakyat dan menyatakan perang dengan rakyat Aceh.
 Wisata alam di Aceh juga alami. Ada air terjun Seumirah, pemandian alam Kr. sawang juga Pusat Latihan Gajah (PLG). Juga ada wisata sejarah yang masih terpelihara. Wisatawan dapat menikmati peninggalan rumah Cut Meutia, pahlawan wanita dari Aceh, dan makam para penjajah Belanda yang tertata rapi dengan papan nama orang Belanda yang tewas di Aceh pada masa perjuangan Indonesia. Juga ada kompleks Makam Raja Muhammad, Makam Raja Syuhada Cot plieng, Makam Malikussaleh Dan Keluarga Dan Perdana Menteri, Makam Ratu AL-A’la Binti Malikul Dhahir, yang menunjukkan bahwa Aceh pernah memiliki kerajaan Islam yang besar di tanah air ini.
 Di sisi lain, Aceh memiliki wisata bahari yang terpendam. Tenggok Pulau Rubiah di Sabang yang memiliki pemandangan yang menawan. Bahkan Pulau ini disebut-sebut sebagai Balinya Aceh. Malah lebih dari Bali, karena lingkungan alamnya masih perawan, lautnya sangat tenang sehingga sangat cocok untuk diving, snorkling, swiming dan fishing. Wisata bahari lainnya, Ujung Kareung yang memiliki pemandangan laut yang superindah. Sayanyam masih minim fasilitas sehingga wisatawan harus pindah menginap di Gapang atau Iboh, yang juga mengandalkan wisata pantai.
 Wisata budaya Aceh juga unik, menarik. Kota tanah Rencong ini memiliki tarian budaya yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia, yakni tarian Saman, tarian Seudati dan tari Mesuseukat. Apalagi pakaian Aceh yang khas dan senjata Rencong juga menjadi souvenir yang memikat. Bahkan, Wisata relegi, rohani, spiritual yang kuat dan melekat. Dan Mesjid Raya Baiturrahman. “Jika ke Banda Aceh, belum masuk dan shalat di mesjid ini tentu belum afdhol,” kata Aulia Husni Putra, pejabat di Pemprov NAD.
 Daya tarik wisata lainnya, sisa-sisa keganasan Tsunami kini menjadi primadona obyek wisata baru, yang menarik untuk dikunjungi. Untuk mendatangi objek wisata peninggalan tsunami yang ada di seputaran pantai Banda Aceh ini, cukup mudah. Wisatawan bisa menyewa taksi, atau jika ingin menghemat biaya bisa naik becak motor yang menjadi kendaraan angkutan khas Banda Aceh.
 Obyek wisata itu, Masjid Ulee Lheue yang masih utuh digempur tsunami. Kapal PLTD Apung yang terdorong ke daratan dan sampai kini masih berada di atas rumah penduduk Gampong Punge Blang Cut, jaraknya sejauh 4 Km dari Pelabuhan Ulee Lheue. Di kapal apung yang sudah tidak difungsikan ini, wisatawan bisa naik ke atas geladak setinggi lebih kurang 20 meter, karena di sisi tongkang sudah dibuat tangga besi lengkap dengan pagar hingga ke geladak untuk memudahkan wisatawan menaikinya.
 Dari atas geladak kapal, wisatawan bisa menyaksikan pemandangan luas ke berbagai belahan kota di Banda Aceh. Tampak jelas, betapa jauhnya jarak pantai dengan lokasi kapal apung terdampar. Wisatawan juga bisa membayangkan betapa berbahayanya gelombang tsunami. Bahkan, di sekitar kapal terdampar di atap rumah ini, masih terlihat jelas sisa-sisa dinding dan atap bangunan milik warga yang hancur diterjang gelombang dasyat.
 Kapal nelayan di atas rumah sisa tsunami lainnya yang juga banyak dikunjungi yakni kapal di atas rumah yang berlokasi di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam. Wisatawan bisa menyaksikan akibat dari gelombang tsunami yang melanda daerah itu. Kapal nelayan yang pada awalnya ditambatkan di dermaga pantai Aceh, terbawa arus hingga lebih kurang tiga kilometer ke daratan. Sewaktu terjadi tsunami, 165 orang selamat dari terjangan gelombang karena menyelamatkan diri ke atas kapal. Kini, di depan rumah tempat kapal ini bertengger sudah dibangun sebuah jembatan layang agar wisatawan bisa menyaksikan dari dekat kondisi kapal nelayan.
 Juga ada Monumen Tsunami dibangun di atas lahan seluas 7,8 hektare, yang lokasinya di pinggir Jalan Banda Aceh-Meulaboh, Aceh Barat. Monumen ini memiliki struktur khas, tinggi dan besar, bentuk ukuran tugu mengikuti pola angka “26-12-2004″. Angka 26 menunjukkan banyaknya garis lengkung di dasar tugu, 12 adalah banyaknya ombak pada tugu, dan 2004, banyaknya riak kecil dari keseluruhan ombak pada tugu.
 Dan yang tak kalah menariknya, ada kuburan massal Meuraxa dan Labaru yang mengubur sedikitnya 46.800 jenazah korban tsunami. Lokasi kuburan yang menjdi saksi bisu tsunami ini sekitar enam kilometer dari pusat kota Banda Aceh atau beberapa ratus meter dari bibir Pantai Ulle Lheue. Inilah destinasi yang paling menyayat hati.  Negeri Serambi Mekkah juga akan mengembangkan wisata gerilya. Beberapa lokasi menarik bekas perjalanan para gerilya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dijual ke wisatawan. Selama turis bergerilya akan menikmati panorama pemandangan alam yang indah. Gua-gua tempat persembunyian gerilyawan yang masih terpelihara. Menerobos hutan rimba yang menakjubkan. Menyusuri sungai yang alami. Dan menyaksian pohon buah-buahan, yang selama konflik dipakai sebagai menu pengisi perut bagi para gerilyawan
 ”Saya harapkan tahun ini, wisata gerilya sudah mulai dibuka untuk wisatawan. Wisata gerilya juga dikembangkan di daerah-daerah di Aceh, dan akan menjadi wisata unggulan. Karena wisatawan pasti akan tertarik sekaligus akan merasakan masa-masa sulit yang terjadi pada masa lalu,” ungkap Gubernur bertitel dokter dan terampil menerbangkan pesawat terbang.
 Mengembangkan wisata gerilya tidak malah membuat wisatawan takut? ”Saya jamin pasti aman. Tidak perlu ada rasa takut bagi wisatawan untuk datang. Aceh sekarang bukan Aceh yang dulu. Kini sudah berubah total seratus delapan puluh derajat, tak percaya buktikan saja,” tambah Gubernur serius sambil membutikan di Aceh sejak musibah tsunami kini masih ada 7.000 relawan (NGO) dari 150 negara yang membantu rakyat Aceh, dan mereka aman-aman saja.
 Keberadaan relawan asing diharapkan menjadi duta promosi gratis bagi pariwisata Aceh. Harapan ini memang tak berlebihan, mengingat mereka sudah paham, tahu kondisi dan potensi pariwisata di Aceh. Juga, sudah mengetahui adat istidat, budaya, sopan santun dan rasa hormat warga Aceh saat menerima tamu dari negara lain.
 Memang pariwisata Aceh bangkit, namun sayang kebangkitan itu masih terganjal dengan lemahnya promosi, dan penyampaian informasi yang terbatas karena anggaran untuk itu sangat kecil. Hambatan lainnya, masih adanya larangan orang asing mengunjungi Aceh berdasarkan peraturan darurat militer yang dibuat tahun 2003, yang hingga kini belum dicabut. Sehingga orang mengira Aceh masih tidak aman. Padahal Aceh sekarang sudah pulih, sudah damai.
 Persoalan lain, perlunya penerbangan pesawat asing langsung ke Aceh. Dan penambahan jumlah penerbangan nasional dari penjuru kota besar untuk menyinggahi Aceh. Untuk itu, regulasi atau izin dari pemerintah pusat agar memberikan kebebasan, jangan malah memasungnya. Sebuah kata harapan klasik, jika promosi dan izin penerbangan langsung ke Aceh dibuka, jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh pasti grafiknya naik. Namun kapan? (endy poerwanto)

29
Jun

GROBOGAN, KAYA OBYEK MISKIN WISATAWAN

Posted in berita wisata  by wisatanews on June 29th, 2009

 JANGAN tanya soal obyek wisata di Grobogan. Karena kota kabupaten di Jawa Tengah ini, memang kaya dengan obyek. tervata ada sembilan destinasi yang cukup potensi untuk dikunjungi. Sayang meski kaya obyek, namun jumlah kunjungan wisatawan masih sangat miskin. Yang lebih miskin lagi, hingga kini belum ada investor yang mau menanamkan modalnya di wilayah ini.
 ”Kami menyadari dengan banyaknya wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) yang datang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengurangi pengangguran dan nama Grobogan akan diperhitungkan di tingkat nasional,” ungkap Sastro Wibowo, tokoh masyarakat Grobogan.
 Saat ini Pemda Grobogan terus aktif menjual obyek wisatanya dengan melakukan promosi secara gencar melalui publikasi di media, ikut pameran wisata, juga membuat profil obyek wisata melalui video visual dalam bentuk VCD dan DVD. Selain itu, daya tarik wisata Grobogan ditawarkan kepada investor nasional, untung-untung jika investor asing sehingga bisa untuk menggairahkan pertumbuhan ekonomi di daerah. ”Terus terang saat ini ada hotel namun belum ada hotel berbintang yang memadai, juga belum ada restorant skala nasional,” tandasnya.
     Sembilan objek wisata di Grobogan yang potensial antara lain Bledug Kuwu, Waduk Kedung Ombo, Goa Macan dan Goa Lawa, air terjun Widuri, Api Abadi Mrapen, Makam Ki Ageng Selo, Ki Ageng Joko Tarub, dan Ki Ageng Lembu Peteng. Kawasan objek wisata Bledug Kuwu di Kradenan seluas 6 hektare ini memiliki keunikan, karena letupan lumpur setinggi delapan meter dan mengandung air garam bisa bermanfaat untuk bahan pembuatan garam dengan kualitas yang baik.
     Bahkan, konon ceritanya adanya Bledug Kuwu disebabkan lobang yang menghubungkan tempat Bledug Kuwu dengan Samudra Selatan, karena zaman dahulu Joko Linglung anak dari Aji Soko yang berujud ular naga melakukan perjalanan dari Laut Selatan menuju kerajaan Modang Kamolan melalui bawah tanah, sehingga muncul lumpur di Kerajaan Modang Kamolan tersebut.
     Objek wisata itu cukup menarik apabila dikelola profesional. Untuk itu, ia berharap ada investor yang tertarik menanamkan modalnya mengelola objek wisata di Grobogan, kendati saat ini pendapatan sektor pariwisata masih minim,
     Ia menyebutkan, pendapatan sektor pariwisata tahun 2004 hanya mampu menghasilkan Rp50 juta, tahun 2005 meningkat menjadi Rp63 juta dan tahun 2006 menghimpun masukan Rp65 juta. Padahal, setiap tahun melalui APBD Kabupaten Grobogan dianggarkan dana sekitar Rp100 juta untuk merawat objek wisata. Tertarik Investasi? (endy)