W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for March, 2009

17
Mar

OH..YA NASIB GEDUNG TUA DI JAKARTA

Posted in berita wisata  by wisatanews on March 17th, 2009

NASIB gedung-gedung tua peninggalan sejarah yang tersebar di Ibukota, semakin merana. Selain tak terawat dengan baik, kondisinya juga tak sempurna. Yang menyedihkan lagi, satu persatu cagar budaya itu pindah tangan. Di tangan pemilik baru, bangunan asli dibongkar dan dibangun sebuah bangunan gaya modern yang menghilangkan nilai-nilai sejarah, menghilangkan landscap masa lalu, mengilangkan budaya.
Sudah banyak contoh soalnya, salah satunya bangunan rumah tua di kawasan Palmerah, yang bersebelahan dengan Gedung Kompas. Dimana ada sebuah rumah tua milik orang Tionghoa, yang dulu ada papan nama cagar budaya yang dipatok Pemda Jakarta Selatan. Namun kini bangunan dijual dan dibongkar total, lalu dibangun gedung baru dengan nama Gedung Pers Pancasila. Sengaja memakai lebel pers dengan asumsi tak ada yang berani memasalahkannya, mengutik-utiknya. Gila benar.
Begitu juga di kawasan Jalan Hayamwuruk, Gajahmada dan kawasan kota, dimana gedung-gedung tua itu berubah konsep gaya masa lalu. Ada  yang bagian depannya sudah dirombak, ada yang sudah dibongkar, ada yang ditutupi papan reklame, ada yang dibiarkan kumuh, ada yang dipagar seng, ada yang ditempel pengumuman dijual. Ada-ada saja ulah manusia yang tak pernah menghargai peninggalan sejarah, tak pernah memiliki jiwa melestarikan, tak pernah bersyukur dengan era masa lalu.
Keserahkahan, ketamakan, ketidakpedulian, kehilangan jiwa patriotisme memang kini sudah mengangkar kuat di era kapitalisme. Masa lalu sudah dianggap dari bagian perjalanan hidup yang tak berlaku lagi di era masa kini. Indikasi ini memang tak berlebihan malah semakin kuat dengan hilangnya gedung-gedung tua peninggalan sejarah. Lalu siapa yang peduli?
Sejarahwan, hanya bisa komentar tanpa bisa berbuat banyak. Swasta jelas tak diharapkan lagi, kepentingan bisnis diutamakan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan ada posisi tawar menawar yang dikedepankan, menguntungkan atau tidak? Prospek atau proyek buang-buang uang? Pokoknya banyak pertimbangannya lah. Karena itu ya jangan berharap.
Pemerintah, naga-naganya juga susah dengan alasan klasik yakni anggaran terbatas mana mungkin uang negara dibelikan aset bangunan tua yang tak jelas peruntukannya, apalagi hanya untuk melestarikan wah jauh dari harapan. Juga mau ditukar guling, juga gulingnya siapa? karena swasta pasti melihat ada prospeknya nggak, boleh dibongkar nggak, ada nilai hong shuinya yang baik tidak? ya pokoknya banyak pertimbangan.
Jadi, bagaimana melestarikan bangunan peninggalan sejarah itu? mungkin salah satu solusinya ya meringankan pajak bagi pemilik gedung-gedung tua di Ibu Kota. Tujuannya, agar pemilik gedung terdorong melakukan perawatan terhadap gedung-gedung yang tergolong bangunan cagar budaya. Pemilik gedung bisa menyisihkan anggarannya untuk membeli cat, membeli paku, membeli pembersih lantai, membeli pengharum ruangan, membeli setangkai pohon agar tambah hijau, membeli apa sajalah yang untuk melestarikannya.
Keringanan pajak sebagai insentif memang selayaknya sudah diberikan. Memang pernah ada keinginan kuat untuk meringankan beban pajak bagi pemilik bagunan tua. Sayangnyam keinginan itu terkendala UU perpajakan yang belum memungkinkan. Padahal, keringanan pajak itu juga untuk merangsang para pemilik gedung tua untuk melakukan perawatan, sehingga pelestarian bangunan cagar budaya bisa terus dilaksanakan.
Solusi lainnya butuh langkah kreatif, profesional ditambah sentuhan jiwa seni tinggi untuk mengelola bangunan tua menjadi obyek wisata. Juga kepedulian biro perjalanan wisata (BPW) untuk peduli memasarkan obyek wisata peninggalan sejarah.
Di negara kapitalis seperti Singapura, Jerman, Italia, Inggris, Jepang dan negara lain di Eropa, eksestensi bangunan tua cagar budaya benar-benar dilindungi, benar dimanfaatkan untuk menjadi destinasi, benar-benar dilestarikan, benar-benar diatur dengan undang-undang yang sangat ketat. Dan masyarakatnya memiliki kesedaran yang tinggi untuk melindunginya. Bagaimana dengan kita? (endy)

17
Mar

PESONA DANAU SINGKARAK YANG MAKIN SEMARAK

Posted in Uncategorized  by wisatanews on March 17th, 2009

INGIN menikmati perpaduan panorama keindahan alam yang alami, yang menarik, yang mempesona? Danau Singkarak di provinsi Sumatera Barat (Sumbar) salah satu jawabannya. Karena di beberapa sudut danau Singkarak, masih bisa terlihat kecantikan alam yang tersembunyi. Dan sebuah keindahan panorama yang masih terkubur.

Memang tak bisa dipungkiri, pemandangan di sekitar obyek wisata alam ini begitu menawan. Begitu fantastis. Mata ini tak bosan melihat hamparan air kebiruan yang jernih dengan riak-riak kecil mengiringinya. Juga, butiran pasir halus yang membentang di bibir danau. Di tengah danau, perahu kecil milik nelayan sedang mengarungi danau yang tenang, tempat bersemayam aneka jenis ikan. Juga hilir mudik perahu motor atau becak danau yang disewakan bagi wisatawan.
Pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang tepian danau menjadi pembatas antara daratan dan air. Bahkan beberapa sudut ada areal persawahan yang menghijau, membuat suasana semakin tentram. Apalagi, hamparan Bukit Barisan melatarbelakanginya tanpa batas, dan dari kejahuan bisa disaksikan Gunung Singgalang dan  Marapi yang berdiri gagah seolah menjaga ketenangan danau ini.
Lingkungan yang asri, hawanya yang sejuk, suasananya yang tenang, damai, aman dan nyaman menjadi pesona bagi yang mengunjunginya. Pesona Danau Singkarak, memang tak pernah habis kalau diceritakan. Karenanya danau terbesar kedua di Sumatera, setelah danau Toba menjadi primadona bagi Sumbar menjadi daerah tujuan wisata unggulan, sekaligus menjadi destinasi pelengkap bagi wisatawan yang berwisata ke provinsi.
Pelengkap? Ya, memang Sumbar kaya obyek wisata seperti Danau Maninjau, Danau Diatas dan Dibawah, Danau Talang,  Lembah Anai, Panorama Ngarai Sianok, Benteng Fort de Kock, Jam Gadang, Pantai Air Manis, Pantai Muaro, Pantai Caroline, Harau, Gunuang Merah Putih, Sulit Air dan lainnya. Sehingga, Danau Singkarak menjadi tempat persingahan maupun center point bagi wisatawan untuk tamasya ke destinasi lain di wilayah ini.
Lokasi Danau seluas 129.70 Km2 ini juga sangat strategis, berada di pinggir jalan antara Kabupaten Tanah Datar dan Solok. Lantaran lokasinya mudah dijangkau, sehingga wisatawan dapat menikmati pemandangan dari sisi yang dikehendaki di pinggir danau yang berliku-liku. Bahkan wisatawan yang datang menggunakan kendaraan pribadi bisa menikmati keindahannya dari atas mobilnya.
Dari Bandara Minangkabau Padang ditempuh hanya sekitar 1,5 jam-2 jam dengan angkutan umum yang tarifnya sekitar Rp 25.000 sampai Rp 30.000. Juga, jika berkereta dari Padang melalui simpang tiga pekan Solok, pasti melewati danau ini. Dan bila menyusur dari Bukittinggi yang telaknya hanya sekitar 36 Km dari Bukittinggi, akan melewati banjaran gunung yang terbungkam di sebelah kiri jalan. Di kaki gunung, suasana petak-petak sawah dipenuhi anak-anak padi yang terliuk-liuk dihembus sang bayu.
Selain tempat berwisata yang mengasyikkan, Danau Singkarak juga digunakan sebagai tempat olahraga (sport tourism) seperti di darat bisa untuk jalan santai, jogging, senam. Di danau untuk olahraga berenang, fishing, dayung dan olahraga udara seperti paragliding, terjun bebas, parasailing, paralayang yang melayang di udara bebas dengan pemandangan yang indah. Apalagi, Danau yang terletak pada ketinggian 36,5 meter dengan suasana berbukit maka sangat cocok untuk paralayang.
Memang kini, aktivitas Danau Singkarak semakin semarak. Apalagi, berbagai event nasional dan internasional mulai digelar di kawasan danau ini. Bahkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) bekerjasama Pemprov Sumbar menggelar lomba balap sepeda pertama kali di kawasan Danau Singkarak bertitel ‘Tour of Singkarak 2009′, yang akan digelar 30 April hingga 3 Mei 2009.
Tour Singkarak ini, terdiri lima etape didahului dengan mengelilingi kota Padang, etape II adalah Padang-Bukittinggi sejauh 92,3 km, Bukittinggi-Sawahlunto sejauh 85,1 km, Sawahlunto-Danau Singkarak 90,2 km dan terakhir adalah etape V Danau Singkarak-Danau kembar (danau atas dan bawah) lalu kembali ke Danau Singkarak sepanjang 188 km.
Dirjen Pemasaran Depbudpar Sapta Nirwandar menilai Danau Singkarak memang menarik sekali. Dengan dipopulerkannya potensi danau itu melalui ajang balapan sepeda Tour of Singkarak, pada saatnya nanti daerah wisata Danau Singkarak akan menjadi perhatian wisatawan dunia. Tour of Singkarak yang mengambil rute mengelilingi kota-kota wisata dan sejumlah danau di Sumbar, diikuti 15 tim pembalap nasional dan internasional.
Selain pemandangan yang indah, Danau Singkarak juga memiliki keistimewaan yang lebih dibandingkan danau lainnya di dunia. Mengingat, Danau air tawar ini terdapat 19 jenis ikan-ikan seperti ikan asang, piyek, balingka, baung, dan ikan Sasau, yang konon dapat mencapai ukuran berat hingga 8 kg. Juga ada spesies ikan langka yang mungkin hanya satu-satunya di dunia. Spesies ini bernama ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis).
Ikan ini hanya hidup di Danau Singkarak, tidak dapat dibudidayakan di luar habitat aslinya, apalagi di akuarium, kolam, bahkan dalam jala terapung yang ada di Danau Singkarak sekalipun. Bentuk ikan bilih mirip teri, namun hidup di air tawar. Karenannya, ikan Bilih menjadi salah satu makanan khas Sumatera Barat. Biasanya ikan Bilih digoreng kering dan dicocol dengan sambal hijau.
Oleh warga sekitar, ikan ini menjadi sumber mata pencarian. Namun, karena ikannya makin langka, harganya pun lumayan bervariasi. Para nelayan di Danau Singkarak, ikan itu dijual dengan harga Rp 15.000 per kilogram. Akan tetapi, kalau sudah masuk ke pasar, harganya meningkat menjadi Rp 50.000 per kilogram. Anda dapat pula menikmati hidangan di sekitar Danau Singkarak, karena ada warga yang membuka rumah makan dengan menu andalan ikan bilih.
Mau menuju ke Danau Singkarak, tak akan mengalami kesulitan dalam transportasi darat. Apalagi setelah Padang memiliki Bandara yang baru. Bandara Minangkabau bertaraf internasional dioperasikan sejak 22 Juli 2005, memiliki desain arsitektur tradisional Minangkabau. Ciri khas Bagonjong atau atap berbentuk tanduk, interior terminal penumpang yang dihiasi ukiran Minangkabau tradisional, begitu kuat dan melekat menghiasi bandara ini
Bandara Minangkabau terletak 23 km dari pusat Kota Padang, kini sudah disinggagi sekitar 14 pesawat terbang setiap harinya dengan rute yang menghubungan Padang dengan Jakarta, Medan, Batam dan Pekanbaru untuk domestik, sedangkan untuk pelayanan transportasi udara ke luar negeri (internasional) yaitu Singapura dan Kuala Lumpur.
Hingga kini, tercatat sepuluh maskapai penerbangan nasional dan dua maskapai penerbangan asing beroperasi di Bandara Internasional Minangkabau, yang dapat menampung pesawat berbadan lebar seperti A 330 atau MD 11.
Sebagai bandara internasional, sudah dilengkapi berbagai fasilitas seperti landasan pacu (runway) 2.750  x  45 m2, Landasan penghubung (taxiway) 2 x 30 m2  dan 1 x 23 m2, Apron pesawat penumpang 315 x 120 m2 (8 bh pesawat B 737), Apron perawatan pesawat udara dan      PKP-PK dengan Category IX. Juga Garbarata (Aviobridge) sebanyak 2 buah. (endy/artikel ini juga saya muat di AVIASI, tabloid penerbangan)

17
Mar

Posted in Uncategorized  by wisatanews on March 17th, 2009

17
Mar

WOC TANDINGAN DIGELAR LSM

Posted in berita wisata  by wisatanews on March 17th, 2009

SEJUMLAH Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi-organisasi nelayan nasional dan internasional akan membuat pertemuan tandingan untuk membahas isu-isu yang tidak diagendakan dalam Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC).
Pertemuan tandingan ini sangat penting untuk mendesakkan agenda-agenda rakyat yang cenderung dilupakan dan diabaikan dalam WOC. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertama WOC yang akan berlangsung di Manado, Sulawesi Utara, tanggal 11-15 Mei 2009
Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nahdian Furqan di Jakarta, Senin (16/3), mengatakan, Pemerintah Indonesia cenderung mengabaikan substansi dari permasalahan sesungguhnya di sektor kelautan, seperti kerusakan ekosistem pesisir dan terumbu karang, dan lebih diarahkan untuk pembangunan skema pendanaan bagi isu penyelamatan perubahan iklim melalui sektor kelautan.
Kerusakan ekosistem pesisir dan terumbu karang, kata Berry, lebih banyak disebabkan perbuatan manusia, seperti dampak dari proyek-proyek reklamasi pantai, pencemaran industri, limbah pertambangan, eksploitasi sumber daya kelautan yang berlebihan, dan pencurian ikan penggunaan bahan peledak, di mana semuanya itu tidak mendapat tindakan tegas dari pemerintah.
Berry mengatakan, sebagai tuan rumah, Indonesia mesti mampu menggiring perundingan-perundingan WOIC yang menguntungkan bagi Indonesia, bagi penyelamatan wilayah pesisir dan kelautan yang lebih konkret dan riil bagi keselamatan kehidupan rakyat, dan keberlanjutan jasa pelayanan lingkungan .
Walhi bersama jaringan LSM yang mengusung isu pesisir dan kelautan lainnya, organisasi-organisasi nelayan nasional dan internasional, akan membuat pertemuan tandingan untuk mendesakkan agenda-agenda rakyat yang tidak diagendakan dalam pertemuan WOC nanti.
Sebelumnya, Koordinator Program Adaptasi Perubahan Iklim dan Energi WWF Indonesia Ari Muhammad mengatakan, Indonesia dinilai masih belum siap menghadapi negosiasi terhadap sejumlah isu-isu perubahan iklim yang berhubungan dengan kelautan dengan negara-negara lainnya.
Alasannya, Pemerintah Indonesia hingga saat ini belum memiliki data kajian ilmiah yang resmi seputar dampak perubahan iklim di sektor kelautan. Dia mencontohkan, saat ini belum ada hitung-hitungan yang pasti, berapa tingkat penyerapan karbon dioksida (CO2) oleh laut Indonesia, kemudian ancaman kenaikan permukaan air laut terhadap eksistensi pulau-pulau di Tanah Air. (SP)