Archive for February, 2009
DANAU DENDAM TAK SUDAH TAWARKAN WISATA OLAHRAGA
OBYEK wisata Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) yang terletak di kawasan Cagar Alam Dusun Besar (CADB) di jalan poros Kota Bengkulu-Lubuk Linggau, kini mulai dikembangkan sebagai lokasi wisata menarik di daerah Bengkulu. Pemprov Bengkulu menawarkan wisata olahraga seperti mendayung, diving, snorkling, juga memancing.
Selain itu, juga akan dikembangkan wisata parasailing, dimana wisatawan akan ditarik dengan kapal boot. ”Namun untuk dikembangkan parasailing dibutuhkan dana yang cukup besar dan ini butuh peran investor agar Danau ini semakin semarak dikunjungi wisatawan,” ungkap Ta’in, koordinator pedagang di sekitar DDTS.
Memang, sambun Ta’in, untuk menarik minat wisatawan datang ke DDTS, dibutuhkan kerja keras dan dukungan dari pemerintah dan industri pariwisata. ”Dukungan lain, hendaknya kawasan Danau Dendam Tak Sudah ini harus sering digelar berbagai event wisata olahraga sehingga nama Danau menjadi terkenal dan banyak didatangi wisatawan,” sarannya.
Selama ini pengunjung hanya bisa menikmati keindahan danau dari pinggir jalan raya saja. Mereka tidak bisa melihat sekeliling danau yang lebih mendalam. Memang penduduk sekitar sudah menyediakan rakit, yang tujuannya untuk memudahkan wisatawan berkeliling untuk menikmati pemandangan alam juga bisa untuk olahraga mengayuh rakit.
Memang pemandangan di sekitar danau ini sangat indah. Apalagi, di sekelilingnya terlihat gundukan Bukit Barisan dan aneka flora langka seperti anggrek matahari, bakung, nipah, pulai, embacang rawa, terentang, plawi, brosong, gelam, pakis, dan sikeduduk.
Namun, dari sekian banyak flora langka yang ada di DDTS, belum ada yang mampu mengalahkan keindahan Vanda Hookeriana (anggrek pensil) yang merupakan ratu anggrek dunia yang hanya terdapat di DDTS, ujarnya sedikit berpromosi.
Pada masa penjajahan tentara Inggris dulu, anggrek pensil mampu menawan pemerintah dan masyarakat Inggris sehingga pada 1882 dinobatkan sebagai “Ratu Anggrek” dan mendapat hadiah first class certificate. (endy/FOTO :customness.com )
WISATA ARUNG JERAM BELUM DIGALI
IND
ONESIA memang kaya obyek wisata olahraga. Arung Jeram misalnya, hampir merata di semua daerah di tanah air, yang memiliki sungai. Sayangnya, wisatawan minat khusus ini tidak pernah digarapo serius, bahkan belum digali secara optimal, juga perhatian pemerintah terhadap wisata olahraga sangat kurang. Padahal potensinya sangat terbuka lebar.
Salah satu wisata olahraga arung jeram yang tak pernah mendapat perhatian dari pemerintah yakni yang ada di Puncak Bogor. Sebenarnya, arung jeram pun cukup berpotensi dikembangkan di kawasan ini, seperti aliran sungai Ciliwung yang sangat menantang. Jeram-jeram yang dilalui antara Batu Layang, Puncak, dan Depok berlevel 1 hingga 4.
Lody Korua dari Arus Liar mengatakan, khususnya di jalur sungai antara Bendung Katulampa, Bogor, dan Jembatan Panus, Depok, jika dipersiapkan dengan tepat, cocok untuk rekreasi arung jeram keluarga karena rangkaian jeramnya cukup padat dan berada pada level 1 dan 2. Selain itu, di kanan-kiri sungai, vegetasinya masih cukup rapat dan beberapa hewan, seperti biawak, ikan nila, ikan mujair, hingga ular, sering terlihat.
Sayangnya, potensi wisata arung jeram di Ciliwung belum digali sepenuhnya. Hanya ada satu tempat wisata yang menawarkan wisata olahraga ini, yaitu di Taman Wisata Matahari, Puncak. Namun, karena belum dikembangkan maksimal, wisata ini sering dihapus dari program yang ditawarkan oleh pengelola.
Kalau saat ini hasrat berarung jeram masih menggebu, ada pilihan tempat untuk menyalurkannya. Tidak terlalu jauh dari Jakarta, tepatnya di Sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat. Citarik tak lagi asing bagi sebagian warga Jakarta. Obyek wisata arung jeram di kawasan ini telah dibuka sejak 15 tahun lalu.
”Biasa melihat ibu-ibu berarung jeram di sini dan mereka datang membawa anak-anaknya, seluruh keluarganya. Kalau anaknya berusia 10 tahun ke atas, boleh ikut berarung jeram. Kalau usia belum cukup, bisa bermain-main saja di sekitar sini. Ada beberapa permainan lain, seperti flying fox menyeberangi sungai. Faktor keamanan, tentu amat dijaga di sini,” kata Malik, Manajer Operasional Caldera, salah satu operator di Citarik.
Selain Caldera, Arus Liar dan satu operator lain dapat membantu wisatawan mengarungi jeram Citarik. Setiap operator rata-rata menyediakan lima macam paket arung jeram, yang panjang ”lintasannya” 5 sampai 17 kilometer. Menyusur dari hulu sampai hilir sungai di dekat Pelabuhan Ratu.
Waktu tempuhnya satu sampai lima jam. Harga yang harus dibayar setiap orang untuk sekali turun sungai mulai dari sekitar Rp 170.000 sampai tiga kali lipatnya. Sebelum berarung jeram, pemandu akan menerangkan tata cara dan teknik aman menaklukkan jeram. Selain didampingi pemandu, ada satu perahu khusus berisi tim penyelamat yang mengikuti perjalanan wisatawan.
Di sepanjang perjalanan menyusur sungai terlihat kehidupan masyarakat pedesaan yang sederhana, seperti para laki-laki yang sedang memancing atau menjaring ikan, serta kincir-kincir air kecil di tepi sungai sebagai pembangkit listrik untuk kebutuhan rumah warga.
Lelah berarung jeram, silakan bersantap dan menginap di Citarik. Hampir setiap operator menyediakan restoran dan penginapan berbentuk rumah panggung di tepi sungai. Setiap rumah, pondok, atau saung bisa dihuni 5 sampai 30 orang. (kmp)
BIOSKOP DI BANDUNG, WISATA HIBURAN ‘BERSEJARAH’
FILM dan bioskop muncul pertama kali pada dekade-dekade aw
al abad ke-20, yang merupakan ikon modern dari seni hiburan. Tak lama dari proses pengenalannya, bioskop kemudian segera merambah ke segenap penjuru dunia, mengisi waktu luang orang-orang kota saat itu. Ikon modernitas hiburan tersebut kemudian sampai di salah satu kota yang kita kenal punya segudang kreatifitas, Bandung, 100 tahun lalu, sekitar tahun 1907.
Saat itu dua bioskop pertama berdiri di Alun-alun Bandung dalam bangunan tenda semi permanen yang cukup besar. Bioskop-bioskop tersebut adalah ‘De Crown Bioscoop’ milik seorang bernama Helant dan ‘Oranje Electro Bioscoop’ milik Michel.
Pertunjukan perdana bioskop-bioskop tersebut berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan. De Crown Bioscoop adalah yang tampil lebih dulu. Oranje Electro Bioscoop menyusul tepat seminggu kemudian dengan pertunjukan perdananya pada Sabtu malam, 1 Desember 1907.
Tenda-tenda bioskop tersebut dihias sedemikian rupa dengan dekorasi bendera dan umbul-umbul. Pada salah satu sisi bagian dalam tenda terpampang sebuah layar besar di mana gambar diproyeksikan. Sisi-sisi lainnya ditempeli poster-poster film unggulan yang akan diputar. Lantai tenda tersebut dilapisi vloer dan alas semacam tikar. Walau sarana pertunjukan film terbilang masih sederhana, tenda bioskop ini tampil cukup menghebohkan untuk ukuran seabad lalu.
Saat itu film yang diputar tentu masih bisu. Karena itu, Michel sang pemilik bioskop menyediakan sebuah orgel-elektrik yang besar sebagai instrumen pengiring gambar-gambar bisu yang ditampilkan. Pertunjukan film dimulai pukul tujuh malam. Namun, beberapa waktu sebelumnya, suara musik dari orgel Oranje Electro Bioscoop telah terdengar meramaikan atmosfer alun-alun. Musik dari orgel tersebut segera menarik perhatian publik untuk datang ke Oranje Electro Bioscoop.
Ruang pertunjukan di bioskop zaman itu dibagi menjadi beberapa kelas dengan harga karcis yang bervariasi. Karcis kelas I yang dijual lebih mahal tentu, diperuntukkan bagi orang Eropa atau mungkin pribumi dari kalangan menak, kelas II, untuk kalangan Timur asing dan pribumi dari kalangan menengah, dan kelas III atau IV untuk kalangan menengah bawah. Pilihan lain untuk menonton film dengan tarif jauh lebih murah adalah di ‘feesterrein’ (taman hiburan rakyat).
Dari Tenda ke Gedung
Tahun-tahun berikutnya, bioskop di Bandung berkembang dari bentuk tenda semipermanen, lantas beralih ke bangunan permanen yang juga masih sangat sederhana. Bioskop-bioskop permanen yang kemudian muncul di antaranya adalah Elita Biograph, Varia Park, dan Oriental Show di Alun-alun Timur; Alhambra Bioscoop di Kompa-Suniaraja; Orion Bioscoop di Kebonjati; Vogelpoel Bioscoop di Braga-Naripan; serta Deca Bioscoop yang bertempat tepat di belakang kantor pos pusat, Banceuy.
Saat itu bioskop-bioskop lazim tampil sebagai bagian dari sebuah gedung kesenian atau yang saat itu dikenal sebagai ‘roemah koemedie’. Film dalam bioskop adalah salah satu bentuk pertunjukan yang ditawarkan di suatu ‘roemah koemedie’, di samping pertunjukan-pertunjukan konvensional seperti ‘koemedie stamboel’, tonil, konser orkes musik, dan sebagainya.
Menjelang akhir dasawarsa 1910-an, bioskop-bioskop di Bandung mulai dibangun dengan bangunan khusus yang dirancang sebagai gedung bioskop. Di Alun-alun Timur, Elita Biograph dan Oriental Show dirombak menjadi bangunan yang jauh lebih memadai dan tampil utuh dengan bentuk standar sebuah gedung bioskop zaman itu.
Bioskop-bioskop terus berkembang dari jumlah dan fasilitasnya. Pada pertengahan 1920-an, di Braga yang saat itu merupakan pemusatan hiburan kalangan Eropa, dibangun Concordia Bioscoop (populer sebagai Majestic Theater), bioskop elite berstandardisasi Eropa.
Masa Kejayaan
Dalam era film bersuara pada 1930-an, bioskop-bioskop di Bandung makin mengalami kemajuan. saat itu bioskop-bioskop di Bandung dikuasai satu jaringan besar Elita Concern yang dikelola seorang ‘Raja Bioskop’ bernama F.F.A. Buse.
Pada masa itu gedung-gedung bioskop baru yang megah dengan arsitektur yang khas, lengkap dengan fasilitas mutakhir, gencar didirikan oleh F.F.A. Buse. Elita Biograph dan Oriental Show di Alun-alun Timur dibangun ulang dalam rupa gedung besar yang modern dengan corak art-deco yang kental.
Dengan bangunan barunya, Elita Biograph bahkan dikenal sebagai salah satu dari dua bioskop terbaik di negeri ini saat itu. Pembaruan fasilitas dan daya tarik dilakukan pula pada bioskop-bioskop Elita Concern lainnya.
Bioskop baru pun terus dibangun. Di kawasan Pecinan muncul Roxy Theater, Oranje Bioscoop, dan Oranje Park. Sementara di wilayah timur muncul Rivoli Theater di Kosambi dan Liberty Bioscoop di Cicadas.
Dalam mengagumi kemegahan gedung serta standar kualitas bioskop-bioskop di Bandung, Gravin de Réthy, seorang bangsawan Belgia yang berkunjung ke kota ini pada 1930-an sempat bertutur, ‘Zoo’n welverzorgd theater moest Brussel hebben’ (Bioskop-bioskop seperti ini sepantasnya ada di Brussel). Komentar Gravin de Réthy menggambarkan bahwa kemajuan bioskop-bioskop di Bandung paling tidak telah menyentuh standar kualitas bioskop di kota-kota besar dunia, seperti Brussel.
Kegemerlapan gedung-gedung bioskop Elita Concern, berimbang dengan animo masyarakat Bandung. Pada masa Hindia Belanda dulu, bioskop dan ‘feesterrein’ di Bandung tidak pernah sepi pengunjung. Pada akhir pekan bahkan orang harus berebut agar tidak kehabisan karcis.
Lain Dulu Lain Sekarang
Sebagian besar artefak sisa kejayaan bioskop di Bandung masa Hindia Belanda telah punah berganti menjadi bangunan-bangunan baru. Sedikit sisa yang masih bisa kita temukan saat ini adalah bangunan bekas Majestic Theater (sempat bernama Gedung AACC) di Jalan Braga, yang pada masa pasca-kemerdekaan sempat bertahan sebagai bioskop dengan nama Bioskop Dewi.
Saat ini Jalan Braga sendiri tengah di renovasi oleh Pemda Bandung, demi menjaga peninggalan wisata masa lalunya. Di Kosambi masih berdiri pula bangunan bekas Rivoli Teater, yang sekarang digunakan sebagai gedung kesenian Rumentang Siang. Sementara di Alun-alun Selatan masih berdiri bangunan bekas bioskop Radio City milik J.F.W. de Kort yang beroperasi sejak awal 1940-an.
Berbeda dengan dulu, di masa sekarang bioskop seolah memang tidak lagi bisa dikenali melalui rupa fisiknya. Bioskop-bioskop masa kini lazim tampil sebagai bagian dari bangunan besar pusat belanja. Rupa dari sebuah bioskop kini menjadi pelengkap dalam kompleks ‘town square’, mal atau plaza. Tak ada lagi bioskop dalam ‘gedung bioskop’. Tak ada lagi penanda jejak zaman yang dibuat dalam rupa gedung bioskop. (kapanlagi.com)
PESONA WAHANA DANAU MEKARSARI
WAHANA Danau Mekarsari atau Danau Cipicung di area Taman Wisata Mekarasi Cibubur, yang menyajikan berbagai permainan dan hiburan yang kreatif, ternyata banyak diminati wisatawan nusantara yang berwisata dalam mengisi Liburan Puasa, terutama pada Sabtu dan Minggu.
”Bahkan saat Liburan Lebaran pun banyak wisatawan yang menikmati fasilitas yang menjadi andalan wisata di Mekarsari,” ungkap Public Relations Mekarsari Catherina W. Day.
Dijelaskan berbagai permainan modern yang penuh andrenalin dan tantangan di air, seperti Floating Donat, Giant Bubble, Kano, Becak Air, Aqua Bike dan berbagai sarana hiburan air lainnya, selalu menjadi sasaran utama bagi pengunjung, setelah berkeliling menikmati wisata kebun di Mekarsari.
”Memang wahana danau Mekarsari saat ini menjadi salah satu andalan wisata di Mekarsari. Dan ke depan terus dilakukan perubahan-perubahan agar wisatawan yang datang tidak merasa bosan dengan permainan air yang ada,” tambahnya.
Danau seluas lebih 27 hektar dengan kedalaman 25-30 meter ini memiliki potensi pengembangan yang luar biasa secara sosial, ekonomi dan ekologi. Saat ini saja, kata Chaterina, dengan pemanfaatan yang belum mencapai 5 persen, Danau Mekarsari mampu menyedot perhatian pengunjung yang ingin menikmati permainan air.
Sejak dibuka pada tahun 1995 oleh presiden Soeharto, Taman Wisata Mekarsari yang dikelola PT Mekar Unggul Sari telah banyak mengalami metamorfosis. Taman Wisata yang dulu dikenal dengan nama Taman Buah Mekarsari ini sempat diperkirakan ditutup karena berbagai persoalan. Namun, setelah berbaikan manajemen dipengelolaannya sedikit demi sedikit Mekarsari mengalami perubahan menuju perbaikan.
Sejak masa Kulminasi (2004), Taman Wisata Mekarsari mengacu pada konsep 4Si, yakni Konservasi, Reboisasi, Edukasi dan Rekreasi. Sikap konsistensi ini membawa hasil berupa peingkatan jumlah pengunjung dari tahun ke tahun yang berkisar 30 persen. Bahkan pada masa liburan sekolah dan week end jumlha itu naik menjadi 50 persen.
Pastinya Taman Wisata Mekarsari sedang berbenah dan terus melakukan perkembangan sehingga kepuasan pengunjung dalam belajar dan bermain di Mekarsari bisa optimal. (endy)
SUAKA MARGATSATWA MUARA ANGKE MENYEDIHKAN
Kondisi obyek wisata Taman Suaka Margasatwa Muara Angke di Jakarta Utara, menyedihkan. Aneka macam sampah organik, limbah industri apalagi sampah kiriman banjir, memenuhi kawasan ekowisata yang selama ini dimanfaatkan untuk pengamatan, penelitian dan pelastarian hutan bakau.
Padahal, kawasan ini merupakan area yang dilindungi. Sayangnya, perlindungan yang dilakukan pemerintah sangat rendah. Juga kesadaran warga Jakarta terhadap kebersihan sampah jauh dari harapan. warga masih seenaknya membuang sampah sembarangan. Kondisi ini diperparah dengan pembuangan limbah industri yang membuang limbah seenaknya. Pemda sendiri juga diam. acuh tak acuh terhadap industri yang mencemari kali di Jakarta.
Memang, upaya penanggulangan dengan pemasangan jaring di muara Kali Adem untuk menahan sampah, sudah diterapkan. Namun jaring itu, tidak mampu menahan serbuan sampah yang terus melimpah. Akibatnya, mengancam kelestarian ekosistem di Taman Suaka Margasatwa ini.
Masyarakat Jakarta yang ingin beriwisata murah, gratis dengan menikmati pemandangan alami di Taman Margasatwa ini, mengaku kecewa setelah datang dan melihat banyak sampah memenuhi kawasan itu. ”Di Jakarta, mencari tempat wisata sudah susah juga mahal. Masuk ke Ancol saja harganya sudah mencekik dan yang berkantong tebal aja yang bisa masuk,” ungkap Ibu Romleh, warga Penjaringan Jakarta, kemarin.
Karena itu, janda beranak dua ini datang berlibur ke Taman Suaka Margasatwa ini, sayangnya kedatangannya harus dibayar mahal, lantaran kecewa setelah melihat kondisi taman suaka yang memprihatinkan.
Satria Narodho, petugas pembersih sampah menilai sampah-sampah yang masuk ke taman suaka ini, melalui Kali Adem setelah terdorong arus dari laut saat terjadi rob (laut pasang). “Saat air surut, sampah-sampah itu kemudian tertahan oleh akar-akar bakau dan tanaman lainnya sehingga menumpuk,” paparnya.
Selain itu, lanjut Satria yang mantan pemulung ini, pencemaran berat yang melanda Teluk Jakarta juga ikut mengancam ekosistem di kawasan tersebut. Sebab, pencemaran tersebut akan memengaruhi ekosistem tanah dan mematikan pohon-pohon di suaka tersebut. Sebagai bukti, ia menunjukkan banyak upaya penghijauan dan penanaman bakau yang selama ini dilakukan oleh sejumlah aktivis lingkungan tidak memberikan hasil.
Tumpukan sampah di kawasan hutan suaka tersebut sudah bisa terlihat dari pintu masuk di kawasan Pantai Indah Kapuk. Meski telah dilakukan pembersihan, sampah-sampah tersebut masih banyak terlihat . Kondisi itu semakin diperparah dengan air hitam pekat di rawa-rawa kawasan itu maupun di Kali Adem. (endy/marcapada@yahoo.com)











