W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for January, 2009

19
Jan

SAMPAH DI PANTAI KUTA MEMBUAT RISIH WISATAWAN

Posted in berita wisata  by wisatanews on January 19th, 2009

SEBUT saja Pantai Kuta di Denpasar Bali, semua wisatawan asing maupun domestik pasti tahu dan mengenalnya. Pantai ini memang sudah terkenal akan keindahan, kenyamanan, kesejukan bahkan kebebasannya. Saking bebasnya, tak jarang turis asing melepaskan semua pakaiannya untuk berjemur, memamerkan keindahan tubuhnya dan menjadi tontonan bagi turis lokal. Dan ini wajar-wajar saja.
Justru yang tidak wajar, kini tontotan gratis itu sedikit demi sedikit mulai sirna. Bukan lantaran takut kena Undang Undang Pornografi, namun kondisi pantai Kuta yang semakin kotor dengan tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang pantai. Sudah sebulan lebih, sampah itu tak terurus. Meski sudah diurus oleh sukarelawan, namun sampah dari buangan wisatawan maupun kiriman dari laut itu, tetap membuat risih.
Sampah itu ada bekas air minum, kotak rokok, plastik, dahan ranting berukuran besar dan kecil, potongan kayu, akar pohon yang mengering, batang pohon pisang, juga ada sampah bekas sesaji persembayangan bagi warga Bali usia melakukan upacara ritual. Juga ada sampah rumah tangga pun ikut berbau menjadi satu.
Sehingga Pantai Kuta nampak kumuh, kotor, jorok, tak bersih sehingga membuat risih bagi wisatawan. Kondisi ini memang seudah dikeluhkan sejumlah turis asing yang datang ke Pantai Kuta. ”Dulu, Kuta sangat indah. Kini banyak sekali sampah di sana-sini. Kebanyakan sampah plastik yang tidak bisa terurai alami, kami sangat sayangkan ini,” kata Daniel Rosa, warga Australia yang ditemui di Pantai Kuta, Kamis (15/1).
Rosa datang bersama beberapa temannya menghabiskan libur awal tahun di Bali. Rosa dan teman-temannya itu sangat menggemari selancar air di gelombang laut yang menantang seperti di Pantai Kuta, Bali.
Ia mengaku telah tiga kali datang ke Pantai Kuta. “Tetapi sepertinya semakin lama semakin kotor saja. Apakah tidak ada usaha untuk menjaga kebersihan pantai ini? Padahal Pantai Kuta sangat ideal untuk turis seperti kami,” katanya.
Hal yang sama juga dinyatakan Elizabeth O’Connel, warga Inggris yang dijumpai di tepi Pantai Seminyak. “Saya kira Pantai Kuta sudah kelebihan beban karena terlalu banyak sampah di sini. Tetapi, Hawaii yang jauh lebih banyak turisnya bisa tetap bersih dan menarik untuk didatangi,” kata perempuan akuntan publik di Inggris itu.
O’Connel menyatakan telah beberapa kali mencari informasi tentang pantai-pantai eksotik yang bisa dikunjungi untuk berlibur. Kali ini ia datang ke Bali, namun tahun depan mungkin memilih ke Kamboja. “Teman saya pernah ke sana, katanya pantainya bersih sekali dan masih sedikit orang datang. Memang Bali punya kelebihan dalam hal budaya, tetapi kalau kotor lingkungannya, bisa merugikan,” katanya.
Kawasan Kuta menjadi salah satu lumbung pundi dolar bagi Pemerintah Kabupaten Badung selama ini. Tidak terbilang jumlah hotel berbintang kelas dunia hingga penginapan sederhana serta restoran yang dimiliki kawasan yang telah didaulat warga Australia sebagai rumah kedua mereka. (endy)

7
Jan

JALAN KE DANAU TOBA RUSAK PARAH

Posted in Uncategorized  by wisatanews on January 7th, 2009

JALAN raya menuju objek wisata Danau Toba-Garoga melalui Sidamanik, Toba Sari hingga Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, rusak parah. Kondisi ini menyebabkan kemacetan arus lalu lintas kendaraan wisatawan yang mengunjungi daerah wisata itu.
Saat rombongan wisatawan lokal dari Medan yang melakukan perjalanan ke Danau Toba melalui jalan darat, dari simpang Sidamanik, melintasi kawasan perkebunan teh Toba Sari hingga Tigaras banyak mendapati lubang-lubang besar.
Kerusakan jalan paling parah menuju objek wisata Danau Toba melalui Garoga hingga puncak Simarjarunjung, mencapai puluhan kilometer dan di kawasan perkebunan teh Toba Sari jalan berlubang bagai kubangan kerbau yang dipenuhi air hingga ketinggian 30 cm.
“Masyarakat setempat yang mungkin merasa kesal dengan pemerintah daerah setempat yang tidak kunjung memperbaiki jalan ke daerah wisata tersebut menanam sejumlah pohon bunga di tengah jalan,” kata Tono dan Sugianto yang membawa keluarganya menikmati libur akhir tahun.
Rombongan wisatawan dari Medan tersebut mengatakan mereka sengaja melakukan perjalanan sebelum menuju Danau Toba, Parapat melalui Sidamanik, Garoga, Tigaras dan puncak tertinggi Simarjarunjung yang udaranya cukup dingin.
Namun, wisatawan lokal yang kemudian menginap di Garoga menyatakan perjalanan mereka terganggu dan letih akibat kerusakan jalan dan hal itu juga dikeluhkan puluhan wisatawan yang mengaku dari Tembung dan Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang.
Salah seorang pemandu wisata di Tigaras, Wati, mengatakan kerusakan jalan raya dari Sidamanik-Garoga-Tigaras-Simarjarunjung pernah beberapa kali diperbaiki, tapi tidak lama rusak lagi dan ini sudah lama sepertinya dibiarkan.
Padahal, menurutnya pemandangan menuju Danau Toba melalui perkebunan teh, perkebunan kopi dan nenas cukup indah dan sejuk sekaligus agrowisata yang menarik.
Justru daerah wisata melalui jalan tersebut banyak didatangi wisatawan mancanegara sebelum mereka menginap di Tigaras, Parapat atau di Pulau Samosir, ujar pemandu wisata lokal tersebut. (An)

7
Jan

2009, PERTUMBUHAN WISMAN MENYEDIHKAN

Posted in Uncategorized  by wisatanews on January 7th, 2009

PERKEMBANGAN kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari tahun 1997 sampai 2008, mengalami fluktuasi. Citra destinasi sempat menurun ketika Indonesia dilanda isu negatif mengenai keamanan, bencana alam, dan wabah penyakit.
Kerusuhan 1998, bom di Bali 2002, disusul bom di Jakarta 2003, dan wabah SARS 2003, tsunami di Aceh 2004, lagi bom di Kedubes Australia Jakarta 2004, Flu Burung 2005, bom Bali II 2005, gempa Yogya dan Pangandaran 2006, semuanya memperlambat pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia.
Kinerja pariwisata dalam perekonomian nasional bahkan tumbuh menggembirakan. Buktinya, seperti diumumkan Biro Pusat Statistik baru-baru ini, akibat kerja keras semua pihak selama tahun 2007, kepariwisataan Indonesia berhasil memperbaiki citra Indonesia di mata dunia internasional.
Jumlah kunjungan wisman tahun 2007, mencapai 5,5 juta orang. Sebuah prestasi besar yang menggembirakan, setelah tahun-tahun sebelumnya — di era reformasi — wisman yang berkunjung ke Indonesia susah mencapai angka di atas 5 juta orang. Toh, berkat kerja keras dan tekad yang bulat untuk menyukseskan program Visit Indonesia Year, tahun 2008 jumlah kedatangan wisman meningkat tajam menjadi 6,433.507 juta orang.
Juga, pertumbuhan wisatawan Nusantara (wisnus) tahun 2008 mengalami lonjakan sangat drastis. Kalau pada 2007 pergerakan wisatawan Nusantara hanya mencapai 211 juta perjalanan, maka selama tahun 2008 meningkat lagi menjadi 223 juta perjalanan.
Lantas, bagaimana pertumbuhan wisatawan mancanegara di Indonesia tahun depan? Menurut prediksi sejumlah praktisi kepariwisataan, akibat langsung dari krisis perekonomian dunia yang juga berimbas ke industri pariwisata Indonesia, tahun 2009 bisa dibilang tahun suram pertumbuhan wisatawan mancanegara di Indonesia.
“Ada banyak indikasi yang menyebabkan pertumbuhan wisman di Indonesia suram sepanjang tahun depan,” ujar Direktur Lembaga Pengembangan Informasi Pariwisata (Lepita), Diyak Mulahela.
Menurut Diyak, anjloknya nilai rupiah terhadap dolar Amerika sebenarnya bisa berdampak positif bagi kepariwisataan Indonesia. Mereka bisa makin leluasa membelanjakan dolarnya di Indonesia. Tetapi, wisatawan asing asal negara-negara Eropa dan Amerika Serikat saat ini sedang dihinggapi perasaan takut yang luar biasa membelanjakan uangnya untuk melancong ke Asia, termasuk ke Indonesia.
Mereka, para wisatawan mancanegara itu, menurut Diyak, bahkan takut menyimpan uangnya di bank. Mereka memilih menyimpan dengan caranya sendiri atas uang mereka yang baru diambil di bank. Mereka lakukan itu menyusul bangkrutnya beberapa bank kepercayaan publik di Amerika Serikat dan Eropa.
Akibatnya, Indonesia jangan berharap banyak wisman akan membelanjakan dolarnya ke Bali, Yogyakarta, Bandung atau kota-kota wisata lainnya di Indonesia selama 2009. Betul, tahun 2006 dan 2007 jumlah wisman asal Eropa dan Amerika Serikat termasuk turis terbanyak yang membelanjakan dolarnya di Bali, Yogyakarta dan Bandung. “Tapi tahun depan, kita nggak bisa lagi berharap seperti itu. Krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini harus membuat siapa pun wisman asal Eropa dan Ameria waspada membelanjakan uangnya,” ujar Diyak lagi.
Prediksi serupa juga diungkapkan Djoko Santoso, anggota DPR dari Partai Amanat Nasional. Ketika dihubungi kemarin, politisi kelahiran Probolinggo itu menilai tahun 2009 saatnya Depbudpar memprioritaskan perhatiannya untuk mendongkrak laju pertumbuhan wisatawan Nusantara.
“Simpel saja, saya melihat lesunya laju pertumbuhan wisman tahun depan. Semua orang kan tahu bahwa Eropa, Amerika dan negara maju lainnya sedang sangat hati-hati membelanjakan uangnya di era krisis global saat ini. Indonesia juga harus begitu. Jadi, kalau wisman tahun depan turun drastis ke Indonesia, itu normal. Organisasi perdagangan dunia (WTO) juga sudah mengumumkan pertumbuhan industri kepariwisataan dunia tahun depan hanya dua digit. Itu artinya kita tak bisa berharap banyak dari program kedatangan wisman. Sebaliknya, program wisnus harus digenjot agar hasilnya benar-benar bisa mengimbangi anjloknya kedatangan wisman,” ujar Djoko.
Di tempat terpisah, Menbudpar Jero Wacik menyatakan, tidak akan mematok target tinggi kedatangan wisman ke Indonesia pada 2009. Itu karena disadari kondisi perekonomian dunia sedang tidak sehat.
Tetapi Jero Wacik tetap meminta seluruh jajarannya optimistis dan bekerja keras sehingga jumlah kedatangan wisman tahun depan tidak terlalu anjlok. Target kedatangan wisman tahun depan dipatok maksimal 6,5 juta orang. Hanya turun 500 orang dari target tahun lalu sebanyak 7 juta orang yang ternyata hingga 23 Desember lalu sudah terealisasi 6,43 juta wisman.
Agar target 6,5 juta wisman itu terwujud, Menbudpar minta semua jajarannya selain bekerja keras juga mencari terobosan-terobosan baru sehingga wisman dari Jepang, Korea dan China tetap banyak datang ke Indonesia. Kegiatan-kegiatan yang memungkinkan datangnya wisman asal Jepang, Korea dan China ke Indonesia juga akan digelar secara berkelanjutan.
Menbudpar sepakat, tahun depan adalah saat yang tepat menggenjot jumlah kegiatan wisatawan Nusantara. Meski tahun depan Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi, yaitu pemilihan umum (pemilu), Depbudpar melihat kenyataan itu bukan sebagai halangan untuk meningkatkan laju kegiatan berwisata masyarakat Indonesia.
Partai-partai yang mengikuti pemilu tahun depan, menurut Dirjen Pemasaran, Depbudpar, Sapta Nirwandar, pasti akan menyelenggarakan rapat-rapat akbar di hotel berbintang dan bahkan menyelenggarakan rapat-rapat terbuka di berbagai daerah. (sk)

2
Jan

MONUMEN HIDUP HUTAN TROPIS

Posted in wisata hutan  by wisatanews on January 2nd, 2009

BERJARAK sekitar satu kilometer dari pinggir Jalan Lintas Kalimantan pada poros utara yang membelah Taman Nasional Kutai (TNK), Kalimantan Timur, terdapat sebuah kawasan menakjubkan, sebuah pohon ulin berusia 1.000 tahun yang masih hidup, berdiri tegak menyapa setiap wisatawan.
Bayangan semula, pohon raksasa itu akan menjulang tinggi mencapai 50-60 meter. Namun, ternyata hanya setinggi 25 meter karena batangnya terpotong oleh sambaran petir pada 1920-an.
Kawasan itu kini dikembangkan oleh Balai Taman Nasional Kutai sebagai kawasan obyek wisata alam. Pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) tua, memang layak dijadikan tujuan wisata untuk mengingatkan pentingnya merawat lingkungan.
Pohon tua itu bukan sembarang kayu ulin atau dikenal kayu besi karena ukurannya mencapai 3-4 kali batang pohon ulin biasa. Keberadaan pohon ulin raksasa itu sepertinya menjadi “monumen hidup” tentang nasib hutan tropis di Kalimantan Timur dan kelestarian kayu besi di Indonesia.
Kian langkanya kayu ulin di Kaltim khususnya dan wilayah Kalimantan umumnya terlihat dari keberadaan di pasaran, terutama pada kios bangunan.
Dari luas kawasan hutan/lahan Kalimantan Timur yang diperkirakan mencapai 17 juta hektare, sekitar tiga juta hektare mengalami kerusakan parah. Data Departemen Kehutanan menyebutkan laju kerusakan hutan di Kaltim sekitar 250 ribu hektare per tahun.
Data Lembaga Swadaya Masyarakat yang merujuk kepada foto satelit lembaga peneliti asing menyebutkan angka lebih besar. Data kerusakan hutan yang dirilis kalangan LSM lebih besar dari data Departemen Kehutanan.
Misalnya, Departemen Kehutanan menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia sekitar dua juta hektare per tahun, sementara Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) merilis angka 3,5 juta hektare per tahun.
Terlepas dari silang pendapat itu, kenyataannya kayu ulin serta berbagai jenis kayu tropis ekonomis tinggi seperti kapur dan tengkawang kini kian langka dan mahal harganya.
“Salah satu faktor penyebab kerusakan hutan selain oleh industri kehutanan baik resmi maupun gelap (illegal logging) adalah kebakaran hutan, lagi-lagi faktor manusia yang dominan,” kata Iman Suramanggala, pemerhati bidang kehutanan.
Pendiri LSM bidang penelitian dan pengkajian kehutanan “Pioner” itu mengatakan perlu langkah nyata menyelamatkan hutan tropis dengan pengawasan ketat terhadap pembalakan liar serta rehabilitasi dan reboisasi.
“Upaya penyelamatan hutan melalui reboisasi dan rehabilitasi belum seimbang dengan kerusakan hutan. Laju kerusakan hutan mencapai jutaan hektare per tahun namun upaya pemulihan kembali hanya puluhan ribu hektare per tahun yang benar-benar berhasil,” kata dia.
Harga yang mahal serta permintaan yang tinggi menyebabkan kayu ulin terus diburu. Di Taman Nasional Kutai, kondisinya kini seperti “meregang maut” karena jumlah peladang liar serta penjarah hutan kian menjadi-jadi.
Data Balai Taman Nasional Kutai menyebutkan sedikitnya 700 warga merambah kawasan di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur itu. Warga yang diduga berasal dari Kutai Barat, Samarinda, dan Kutai Kartanegara itu merambah kawasan yang diperkirakan mencapai 600 hektare.
Mitra Taman Nasional Kutai yang terdiri atas sejumlah perusahaan perkayuan, migas dan batu bara sempat membangun pagar besi sebagai pembatas. Namun, pagar besi itu tidak terlihat lagi.
Balai Taman Nasional Kutai bersama mitranya juga melakukan berbagai program rehabilitasi dan reboisasi kawasan di pinggir jalan raya yang gundul itu. Namun, para perambah juga membabat pohon penghijauan dan reboisasi untuk merabilitasi lahan-lahan kritis pada pinggir jalan tersebut.
Keberadaan kawasan konservasi itu sudah ditetapkan sejak zaman Kesultanan Kutai, dilanjutkan sampai sekarang sesuai Surat Keputusan Menteri Pertanian No 736/1982 dengan luas 200 ribu hektare. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 325/1995 menyebutkan luas taman itu menjadi 198.629 hektare.
Perusakan kawasan itu menjadi-jadi sejak masa otonomi daerah pada 2000 sampai kini. Bahkan, untuk satu tahun terakhir diperkirakan bebannya kian berat menghadapi ulah para perambah dan peladang yang masuk ke kawasan itu.
Balai Taman Nasional Kutai mengaku tidak berdaya menghadapi para perambah dan peladang karena personelnya terbatas sementara jumlah “pendatang haram” terus bertambah sehingga butuh dukungan politik Pemda Kutai Timur.
Data Balai Taman Nasional Kutai menyebutkan, sampai 2004 kebakaran akibat kelalaian manusia telah merusak sekitar 146.080 hektare atau 80 persen luas kawasan itu. Kerusakan itu diperparah oleh pembalakan liar dan perambahan, terbukti selama 2001-2004 jumlah kayu ilegal yang disita mencapai 246.082 meter kubik.
Balai memperkirakan kerugian negara mencapai Rp271,6 miliar. Data ini belum termasuk kasus pada 2007-2008. Padahal, pengembangbiakan kayu ulin sangat sulit dan butuh perlakukan khusus karena pohon ini tidak bisa tumbuh pada semua kawasan hutan Biasanya tumbuh pada dataran tinggi dengan tanah berpasir.
Pengembangbiakan benih sangat sulit. Buah pohon ini sama kerasnya dengan kayu ulin sehingga untuk membelahnya hanya bisa digergaji karena mata kampak yang tajam pun akan mental. Sehingga pengembangiakannya hanya dengan cara indukan.
Apabila perusakan hutan terus terjadi tanpa diimbangi upaya serius penyelamatan, ulin raksasa di Taman Nasional Kutai akan menjadi “monumen hidup” yang tersisa. (a/foto ist)

2
Jan

TURIS CHINA KHAWATIRKAN RABIES DI BALI

Posted in berita wisata  by wisatanews on January 2nd, 2009

SEJUMLAH wisatawan asal China khawatir dengan kasus rabies yang melanda Bali mengingat pulau tersebut selama ini menjadi salah satu primadona tujuan wisata apabila berkunjung ke Indonesia.
“Kasus merebaknya rabies yang disebabkan anjing yang banyak berkeliaran memang menjadi perhatian utama bagi wisatawan asal China,” kata Manajer Umum Garuda Beijing Pikri Ilham K, di Beijing, Jumat.
Menurutnya, Bali selama ini memang merupakan tujuan favorit bagi wisatawan China yang ingin berlibur ke Indonesia sehingga adanya kabar yang tidak nyaman tersebut membuat kunjungan wisatawan asal China ke pulau itu bisa terganggu.
Meskipun sempat terjadi pembatalan keberangkatan oleh sejumlah wisatawan yang akan berkunjung ke Bali selama 2008, kata Pikri, namun hal itu secara umum belum terlalu mengganggu keinginan wisatawan China ke Indonesia, khususnya Bali.
“Memang ada beberapa wisatawan China yang membatalkan kunjungan ke Bali setelah mendengar merebaknya wabah rabies di Bali sekalipun jumlahnya memang tidak terlalu banyak,” katanya.
Namun demikian, ia mengharapkan pemerintah daerah Bali sebaiknya segera menyelesaikan kasus rabies di wilayahnya karena hal itu diyakini akan bisa memberikan kesan positif bagi kenyamanan industri wisata di pulau itu.
Pihaknya yakin bahwa pemerintah daerah Bali tentunya telah berupaya mengambil langkah cepat dan konkrit dalam menanggulangi wabah rabies tersebut, sehingga kedatangan wisatawan mancanegara tidak terganggu.
Pikri mengatakan, selama ini pemerintah China juga belum mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk berhati-hati berkunjung ke Bali terkait adanya wabah tersebut.
“Tapi saya optimis bahwa pemerintah setempat menyadari masalah itu dan segera bisa menanggulangi wabah itu. Kalau itu terlaksana maka minat warga China datang ke Bali akan pulih kembali,” katanya, seperti dikutip dari antara.
Untuk meyakinkan bahwa Bali saat ini sudah cukup aman dari wabah rabies, pihak Garuda Indonesia Beijing pada akhir Desember 2008 memberangkatkan sekitar 150 agen perjalanan China ke Pulau Dewata untuk bisa langsung mengenai kondisi Bali sesungguhnya.
Keberangkatan agen perjalanan China tersebut diharapkan bisa menyampaikan informasi kepada wisatawan China mengenai kondisi Bali terkini sehingga keinginan warga China mengunjungi Indonesia, khususnya ke pulau itu bisa normal kembali. (e)