SAMPAH DI PANTAI KUTA MEMBUAT RISIH WISATAWAN
SEBUT saja Pantai Kuta di Denpasar Bali, semua wisatawan asing maupun domestik pasti tahu dan mengenalnya. Pantai ini memang sudah terkenal akan keindahan, kenyamanan, kesejukan bahkan kebebasannya. Saking bebasnya, tak jarang turis asing melepaskan semua pakaiannya untuk berjemur, memamerkan keindahan tubuhnya dan menjadi tontonan bagi turis lokal. Dan ini wajar-wajar saja.
Justru yang tidak wajar, kini tontotan gratis itu sedikit demi sedikit mulai sirna. Bukan lantaran takut kena Undang Undang Pornografi, namun kondisi pantai Kuta yang semakin kotor dengan tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang pantai. Sudah sebulan lebih, sampah itu tak terurus. Meski sudah diurus oleh sukarelawan, namun sampah dari buangan wisatawan maupun kiriman dari laut itu, tetap membuat risih.
Sampah itu ada bekas air minum, kotak rokok, plastik, dahan ranting berukuran besar dan kecil, potongan kayu, akar pohon yang mengering, batang pohon pisang, juga ada sampah bekas sesaji persembayangan bagi warga Bali usia melakukan upacara ritual. Juga ada sampah rumah tangga pun ikut berbau menjadi satu.
Sehingga Pantai Kuta nampak kumuh, kotor, jorok, tak bersih sehingga membuat risih bagi wisatawan. Kondisi ini memang seudah dikeluhkan sejumlah turis asing yang datang ke Pantai Kuta. ”Dulu, Kuta sangat indah. Kini banyak sekali sampah di sana-sini. Kebanyakan sampah plastik yang tidak bisa terurai alami, kami sangat sayangkan ini,” kata Daniel Rosa, warga Australia yang ditemui di Pantai Kuta, Kamis (15/1).
Rosa datang bersama beberapa temannya menghabiskan libur awal tahun di Bali. Rosa dan teman-temannya itu sangat menggemari selancar air di gelombang laut yang menantang seperti di Pantai Kuta, Bali.
Ia mengaku telah tiga kali datang ke Pantai Kuta. “Tetapi sepertinya semakin lama semakin kotor saja. Apakah tidak ada usaha untuk menjaga kebersihan pantai ini? Padahal Pantai Kuta sangat ideal untuk turis seperti kami,” katanya.
Hal yang sama juga dinyatakan Elizabeth O’Connel, warga Inggris yang dijumpai di tepi Pantai Seminyak. “Saya kira Pantai Kuta sudah kelebihan beban karena terlalu banyak sampah di sini. Tetapi, Hawaii yang jauh lebih banyak turisnya bisa tetap bersih dan menarik untuk didatangi,” kata perempuan akuntan publik di Inggris itu.
O’Connel menyatakan telah beberapa kali mencari informasi tentang pantai-pantai eksotik yang bisa dikunjungi untuk berlibur. Kali ini ia datang ke Bali, namun tahun depan mungkin memilih ke Kamboja. “Teman saya pernah ke sana, katanya pantainya bersih sekali dan masih sedikit orang datang. Memang Bali punya kelebihan dalam hal budaya, tetapi kalau kotor lingkungannya, bisa merugikan,” katanya.
Kawasan Kuta menjadi salah satu lumbung pundi dolar bagi Pemerintah Kabupaten Badung selama ini. Tidak terbilang jumlah hotel berbintang kelas dunia hingga penginapan sederhana serta restoran yang dimiliki kawasan yang telah didaulat warga Australia sebagai rumah kedua mereka. (endy)


