SEBUT saja Ujung Kulon, pasti semua wisatawan domestik (wisdom) maupun mancanegara (wisman) pasti mengenal dan tahu bahwa daerah itu berada paling ujung barat atau kulon dalam bahasa Jawa, di Pulau Jawa. Wisatawan mengenalnya sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum ditetapkan sebagai Taman Nasional Ujung Kulon.
Pesona kawasan hutan dataran rendah ini, memang menjadi daya pikat, daya tarik lantaran kawasan ini memiliki kekayaan keragaman flora, pemandangannya mempesona, keunikan terumbu karang, biota lautnya masih belum tersentuh tangan-tangan jahil, juga maskot badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang sudah tak asing lagi namanya, malah sudah merambah ke penjuru dunia.
Ditambah lagi, kekuatan magis yang oleh sebagian orang bisa begitu kuat dirasakan di sana. Sehinga, daya tarik Ujung Kulon semakin membuat orang penasaran untuk datang melihatnya. Dan memang keajaiban alam itu yang membuat sulit ditemukan di destinasi lainnya.
Sebagai taman nasional, Ujung Kulon selain di kunjungi wisatawan minat khusus seperti yang suka petualangan menyusuri hutan rimba nelantara, juga menjadi tempat favorit bagi para peneliti. Tak hanya peneliti dalam negeri tetapi justru lebih banyak dari negara-negara di Eropa. Ujung Kulon juga layak menjadi tempat pilihan untuk bersantai entah menghabiskan akhir pekan, melepas kepenatan kerja atau berbulan madu pun oke.
Mengingat, potensi Wisata Ujung Kulon yang terletak di Padeglang Banten ini, sangat beragam, sangat lengkap mulai obyek wisata alam, wisata sejarah, wisata bahari, hingga wisata budaya pun ada. Antara lain :
WISATA PANTAI. Pantai Tanjung Lesung ini menjadi tempat wisata andalan karena panorama pantai yang indah, kawasan wisata ini sangat cocok digunakan untuk snorkling, diving, dan jetski. Juga, kondisi air yang tenang dan jernih akan menjauhkan alam pikiran kita dari stres. Pada bagian Utara Tanjung Lesung, terdapat kawasan perbukitan yang tidak begitu curam. Di tempat ini, bisa menyaksikan keindahan bagian laut yang menjorok ke pantai dan membentuk laguna.
TAMAN NASIONAL. Jika kita ingin menyaksikan badak bercula satu, di sinilah tempatnya. Taman Nasional hutan tropis ini, cocok untuk konservasi karena alamnya terindah di dunia. Juga aneka satwa langkah masih tersimpan meski populasinya makin berkurang. Seperti badak jawa, rusa, menjangan, banteng, primate, babi hutan, kucing hutan, lemur, dan berbagai jenis burung.
WISATA BAHARI. Di ujung Kulon juga dikelilingi beberapa pulau kecil yang menakjubkan. Misalnya Pulau Peucang, Handeuleum, Panaitan, dan Gunung Honje. Untuk menuju tempat ini, dapat melalui Desa Panimbangan atau melalui jalan laut dengan perahu menuju pulau Peucang, Handeuleum, atau Pulau Panaitan.
WISATA ALAM. Ujung kulon juga menyimpan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas dan taman laut yang alami.
WISATA SEJARAH. Ternyata di dalam hutan belantara masih ada peninggalan budaya/sejarah, seperti Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan.
WISATA SPIRITUAL. Di dalam taman nasional, juga ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan wisata ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.
Sayang potensi wisata yang sangat banyak, tidak ditunjang kondisi infraktruktur yang memadai. Karena untuk menuju ke sejumlah obyek wisata itu, kondisi jalannya yang rusak, berlubang. Juga, transportasi ke destinasi itu sangat terbatas. Dampaknya, akhir-akhir ini grafik kunjungan wisatawan merosot tajam.
Sebelumnya, setiap tahun rata-rata wisatawan yang berkunjung tidak kurang dari enam ribu orang, namun hingga akhir tahun ini hanya empat ribu orang. “Wisatawan rata-rata mengeluhkan jalannya yang jauh dan rusak serta kurangnya transportasi umum. Padahal, mereka kagum dengan keindahan alam di Ujung Kulon,” ungkap Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Agus Priambudi di Pandeglang, Banten, Jumat (12/12).
Memang, biaya yang dikeluarkan untuk masuk ke dalam kawasan wisata ini nilainya tidak seberapa, hanya dipungut retribusi Rp2.500 setiap orangnya, namun yang memberatkan wisatawan adalah kondisi infrastruktur jalan yang rusak dan langkanya sarana trasnportasi umum menuju kawasan wisata hutan dan pantai.
Kini wisata Ujung Kulon diujung tanduk. Jika tak segera diantisipasi, kunjungan wisatawan akan bertambah merosot tajam. Dampaknya juga dirasakan masyarakat kecil, yang mencari rejeki dengan berjualan makanan dan minuman. (endy)