W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for December 15th, 2008

15
Dec

DESTINASI BEKAS PERANG DUNIA DI BIAK, RUSAK

Posted in peninggalan sejarah  by wisatanews on December 15th, 2008

MERAWAT itu memang tidak gampang. Buktinya, tugu bersejarah yang sudah dibangun susah-susah oleh tentara negara adidaya, Amerika Serikat pada tahun 1945, kini kondisinya malah memprihatikan. Rusak.
Padahal, di bekas lokasi perang sekutu di Biak, Kabupaten Biak Numfor Papua itu, memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Kemenangan tentara AS bersama sekutu saat melawan bala tentara Jepang pada Perang Dunia Kedua, merupakan simbol sejarah dunia yang tak ternilai harganya.
Sayangnya, simbol kemenangan yang diwujudkan dalam sebuah Tugu Perang kondisinya sudah tak terawat, juga kurang mendapat perhatian. Begitu juga peningalan benda sejarah perang masa lalu itu mengalami nasib yang sama.
Padahal, jika ditangani serius, dirawat dengan baik dan dipelihara secara sukarela, bisa menjadi obyek wisata sejarah yang memiliki nilai yang tak terkira harganya.
Lebih dari itu, tugu itu bisa dipromosikan ke negara adi kuasa dan sekutunya, termasuk negara Jepang yang dilakukan dengan promosi secara rutin, plus propaganda yang menarik dan publikasi yang menyebutkan masih ada peninggalan bekas perang tentara AS dan jepang di Biak. Apalagi, dibumbui informasi menarik serta data pelengkap lainnya, sehingga menimbulkan daya tarik.
Apalagi, di kawasan ini masih banyak tersebar peninggalan sejarah tentara sekutu, Jepang bahkan Belanda seperti bangkai kapal perang, bangkai pesawat terbang juga ada goa Binsari Jepang di Kampung Sumberker, Tugu UNTEA di jalan Hangtuah komplek Pangkalan TNI AL Biak.
Selain itu, ada objek sejarah tugu perang dunia II di Pulau Numfor, monument perang dunia II Paray Distrik Biak Kota, tugu Pepera di Jalan Sriwijaya Ridge Distrik Samofa. Sementara objek sejarah lainnya berupa tugu 14 Maret di Jalan Sorido Distrik Biak Kota sebagai simbol perjuangan pemuda Biak melawan kolonial Belanda.
Nasib tugu perang Pasific di Biak, kini telah rusak. Bagian atasnya pecah dan hilang. Yang menyedihkan lagi, oleh warga sekitar di Jalan Pramuka dipakai untuk menjemur pakaian, menjemur kasur. Menyedihkan memang. Haruskah peninggalan sejarah perang dunia itu, menjadi papan nama.  (endy)

15
Dec

UJUNG KULON DI UJUNG TANDUK

Posted in Uncategorized  by wisatanews on December 15th, 2008

SEBUT saja Ujung Kulon, pasti semua wisatawan domestik (wisdom) maupun mancanegara (wisman) pasti mengenal dan tahu bahwa daerah itu berada paling ujung barat atau kulon dalam bahasa Jawa, di Pulau Jawa. Wisatawan mengenalnya sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum ditetapkan sebagai Taman Nasional Ujung Kulon.
Pesona kawasan hutan dataran rendah ini, memang menjadi daya pikat, daya tarik lantaran kawasan ini memiliki kekayaan keragaman flora, pemandangannya mempesona, keunikan terumbu karang, biota lautnya masih belum tersentuh tangan-tangan jahil, juga maskot badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang sudah tak asing lagi namanya, malah sudah merambah ke penjuru dunia.
Ditambah lagi, kekuatan magis yang oleh sebagian orang bisa begitu kuat dirasakan di sana. Sehinga, daya tarik Ujung Kulon semakin membuat orang penasaran untuk datang melihatnya. Dan memang keajaiban alam itu yang membuat sulit ditemukan di destinasi lainnya.
Sebagai taman nasional, Ujung Kulon selain di kunjungi wisatawan minat khusus seperti yang suka petualangan menyusuri hutan rimba nelantara, juga menjadi tempat favorit bagi para peneliti. Tak hanya peneliti dalam negeri tetapi justru lebih banyak dari negara-negara di Eropa. Ujung Kulon juga layak menjadi tempat pilihan untuk bersantai entah menghabiskan akhir pekan, melepas kepenatan kerja atau berbulan madu pun oke.
Mengingat, potensi Wisata Ujung Kulon yang terletak di Padeglang Banten ini, sangat beragam, sangat lengkap mulai obyek wisata alam, wisata sejarah, wisata bahari, hingga wisata budaya pun ada. Antara lain :
WISATA PANTAI. Pantai Tanjung Lesung ini menjadi tempat wisata andalan karena panorama pantai yang indah, kawasan wisata ini sangat cocok digunakan untuk snorkling, diving, dan jetski. Juga, kondisi air yang tenang dan jernih akan menjauhkan alam pikiran kita dari stres. Pada bagian Utara Tanjung Lesung, terdapat kawasan perbukitan yang tidak begitu curam. Di tempat ini, bisa menyaksikan keindahan bagian laut yang menjorok ke pantai dan membentuk laguna.
TAMAN NASIONAL. Jika kita ingin menyaksikan badak bercula satu, di sinilah tempatnya. Taman Nasional hutan tropis ini, cocok untuk konservasi karena alamnya terindah di dunia. Juga aneka satwa langkah masih tersimpan meski populasinya makin berkurang. Seperti badak jawa, rusa, menjangan, banteng, primate, babi hutan, kucing hutan, lemur, dan berbagai jenis burung.
WISATA BAHARI. Di ujung Kulon juga dikelilingi beberapa pulau kecil yang menakjubkan. Misalnya Pulau Peucang, Handeuleum, Panaitan, dan Gunung Honje. Untuk menuju tempat ini, dapat melalui Desa Panimbangan atau melalui jalan laut dengan perahu menuju pulau Peucang, Handeuleum, atau Pulau Panaitan.
WISATA ALAM. Ujung kulon juga menyimpan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas dan taman laut yang alami.
WISATA SEJARAH. Ternyata di dalam hutan belantara masih ada  peninggalan budaya/sejarah, seperti Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan.
WISATA SPIRITUAL. Di dalam taman nasional, juga ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan wisata ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.
Sayang potensi wisata yang sangat banyak, tidak ditunjang kondisi infraktruktur yang memadai. Karena untuk menuju ke sejumlah obyek wisata itu, kondisi jalannya yang rusak, berlubang. Juga, transportasi ke destinasi itu sangat terbatas. Dampaknya, akhir-akhir ini grafik kunjungan wisatawan merosot tajam.
Sebelumnya, setiap tahun rata-rata wisatawan yang berkunjung tidak kurang dari enam ribu orang, namun hingga akhir tahun ini hanya empat ribu orang. “Wisatawan rata-rata mengeluhkan jalannya yang jauh dan rusak serta kurangnya transportasi umum. Padahal, mereka kagum dengan keindahan alam di Ujung Kulon,” ungkap Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Agus Priambudi di Pandeglang, Banten, Jumat (12/12).
Memang, biaya yang dikeluarkan untuk masuk ke dalam kawasan wisata ini nilainya tidak seberapa, hanya dipungut retribusi Rp2.500 setiap orangnya, namun yang memberatkan wisatawan adalah kondisi infrastruktur jalan yang rusak dan langkanya sarana trasnportasi umum menuju kawasan wisata hutan dan pantai.
Kini wisata Ujung Kulon diujung tanduk. Jika tak segera diantisipasi, kunjungan wisatawan akan bertambah merosot tajam. Dampaknya juga dirasakan masyarakat kecil, yang mencari rejeki dengan berjualan makanan dan minuman. (endy)

15
Dec

IKON WISATA PALEMBANG MAKIN TAK BERSIH

Posted in Uncategorized  by wisatanews on December 15th, 2008

SUNGAI Musi dan jembatan Ampera, sudah menjadi ikon pariwisata Kota Palembang. Suasana di sekitar jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1962, semakin bersih dan tertata rapi. Sayangnya kerapian itu harus dibayar mahal dengan kondisi sungai yang tidak bersih lagi. Sayang memang.
Enceng gondok kini tumbuh subur, makmur dan tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan yang memiliki kepedulian tinggi untuk membersihkannya. Sampah plastik dan botol minuman - yang dibuang seenaknya oleh orang-orang yang kurang peduli lingkungan, telah ngambang dengan tenang di permukaan sungai.
Kondisi itu diperparah dengan bkeberadaan sampah rumah tangga bahkan industri yang menghiasi riak-riak kecil air Musi. Ditambah lagi, ranting pohon dan kayu besar yang hanyut bebas tanpa batas. Agaknya, aspek kebersihan sungai yang penuh kenangan, penuh sejarah, benar-benar belum terjaga kebersihannya.
Kotornya sungai Musi itu, kalau dibiarkan tidak hanya mengurangi keindahan sungai, tetapi dapat menghalangi aktivitas transportasi air di kawasan yang menjadi jalur lintas menuju pedalaman Sumatera Selatan. Lebih dari itu, menganggu pandangan mata wisatawan yang sedang menikmati panorama Sungai Musi.
Sungai Musi, tempat aktifitas segala kehidupan. Sungai Musi punya daya tarik sehingga banyak dikunjungi. Sungai Musi sudah menjadi ikon pariwisata. Apalagi untuk mendukung obyek wisata itu, ada Jembatan Ampera, ada benteng Kuto Baru, ada Museum, ada Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), ada kapal wisata, ada wisata bahari Pulau Kemarau, ada wisata alam Bukit Siguntang,  ada kawah Tengkurep, ada atraksi wisata.
Sejak diluncurkan Program Visit Musi awal tahun 2007 lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumsel mengembirakan. Secara umum, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara ke Sumsel pada tahun 2008, mencapai dua juta orang. Tahun 2007 lalu, hanya 1,3 juta orang.
Mereka yang berwisata, kebanyakan wisatawan nusantara, sementara turis asing masih relatif sedikit. Wisatawan mancanegara yang datang ke Sumsel sekitar 12.000-an orang, dari Malaysia dan Thailand. Harapan agar turis asing terus bertambah, memang bukan sekedar isapan jempol belaka.
Untuk itu, berbagai promosi, publikasi sudah disiarkan. Berbagai travel mart di tingkal nasional dan internasional sudah digencarkan. Target kunjungan wisatawan asing tahun 2009 pun ditetapkan dengan mengalami kenaikan sekitar 20-25 persen. Namun target itu bisa kacau dan gagal diraih, jika masalah-masalah kecil diabaikan, ya seperti Sungai Musi yang tidak bersih. Bukankah kemajuan pariwisata itu berkaitan dengan keamanan, kenyamanan, kebersihan. Kalau tak bersih gimana? (endy)