W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for December 12th, 2008

12
Dec

SUMBAWA, KAYA GEOWISATA MISKIN PROMOSI

Posted in obyek wisata  by wisatanews on December 12th, 2008

TANPA dinyana ternyata Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki kekayaan geologi yang luar biasa. Potensi itu kini dikembangkan menjadi obyek wisata minat khusus, geowisata.
Nama geowisata memang masih asing di telinga penduduk Indonesia. Istilah kurang populer, kurang ngetop dibandingkan dengan ekowisata. Padahal di Amerika Serikat, geowisata identik dengan ekowisata.
Bahkan, belahan dunia lain geowisata ditempatkan sebagai bagian dari wisata alam minat khusus yang prinsipnya mengikuti kaedah-kaedah ekowisata dan geowisata, sebagai bagian dari ekowisata harus tunduk pada prinsip-prinsip berwisata yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Apalagi kecenderungan wisata kembali ke alam atau “back to nature” memberikan peluang pemberdayaan potensi fenomena alam geologi sebagai tujuan wisata alternatif. Dan Geowisata sebagai salah satu kegiatan wisata alam merupakan suatu konsep wisata yang ramah lingkungan, menyuguhkan pemahaman proses kebumian yang berhubungan dengan keunikan dan kelangkaan fenomena alam tersebut sebagai sebuah daya tarik wisata.
Memang penyelenggaraan wisata alam geologi ini memerlukan panduan, pengaturan dan pengawasan yang memadai untuk menjamin keselamatan, kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan jenis geowisata ini.
Untuk menggapai itu, Sumbawa kini berjuang keras. Berbagai langkah ditempuh dengan start dari awal yakni melakukan inventarisasi. Hasilnya di Sumbawa terdapat 10 titik lokasi geologi yang memiliki potensi geowisata, yakni Pantai Batugong di Desa Labuan Badas, Kecamatan Badas dan air terjun Aikbeling di Dusun Kuangmo, Desa Sempe, Kecamatan Moyohulu.
Selain itu, geowisata perbukitan Tarakini di Desa Lenangguar, Kecamatan Ropang, Air Terjun Tebamurin di Dusun Brangrea, Desa Lenangguar, Kecamatan Ropang dan obyek wisata Liang (goa) Petang di Desa Batutering, Kecamatan Moyohulu.
Potenasi geologi lainnya adalah Pantai Tanjung Menangis di Dusun Omo, Desa Panyaring, Kecamatan Moyohilir, mataair panas di Dusun Simu, Desa Maronge, Kecamatan Lape Lopok, air terjun Mata Jitu di di Pulau Moyo, Goa Tanjung Pasir dan Goa Aik Manis.
Sayang, kekayaan Geowisata di Sumbawa belum bisa terangkap, dijual ke wisatawan mancanegara yang kini cenderung memegang prinsip berwisata ‘back to nature’. Sayang, Pemda Sumbawa tidak punya dana cukup untuk promosi, publikasi apalagi membikin brosur dan menyebarkan ke kedutaan yang harus ada dana besar. Ibarat pepatah ‘nafsu besar dana kurang’ yang kini menyelimuti pariwisata Sumbawa.
Siapa yang mau membantu, siapa yang peduli. Ternyata teriakan ini sudah diteriakan berulangkali. Sayang nggak ada yang dengar, termasuk pusat yang membawahi pariwisata. Menyedihkan memang. (Endy)

Tags: ,

12
Dec

POPULASI BADAK TERANCAM PUNAH

Posted in Uncategorized  by wisatanews on December 12th, 2008

POPULASI badak di Indonesia mengalami penyusutan bahkan terancam punah. Penyusutan hewan yang dilindungi itu, akibat pemburuan liar yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang motivasinya hanya untuk kepentingan kekayaan pribadi.
Selain ulah pemburu liar yang ‘bermuka badak’, punahnya Badak di Indonesia akibat dari lemahnya petugas dalam melakukan pengawasan, pengamanan dan perlindungan satwa yang dilindungi itu. Juga kepedulian masyarakat di sekitar hutan terhadap hewan ini, kurang mendapat perhatian serius.
Diperkirakan populasi Badak Sumatera kini hanya tinggal antara 250 sampai 300 ekor.  Satwa  bertubuh tambun berkulit keras itu, terkonsentrasi di Taman Nasional Gunung Lauser dan Bukit Barisan.
Padahal, lima tahun lalu jumlah populasi Badak Sumatera yang ada di sejumlah Taman Nasional di Pulau Sumatera mencapai 600 sampai 700 ekor.  Dan penyusutan yang tajam disinyalir setiap bulan terjadi pemburuan illegal sebanyak 40-50 ekor.
Begitu pula Badak Jawa Bercula Satu di Taman Nasional Ujung Kulon diperkirakan populasinya terus menyusut. Padahal tahun 2007, populasi badak bercula satu mencapai 50 ekor. Namun kini jumlah sebanyak itu disinyalir sudah tidak lengkap lagi.
Jika badak Indonesia mengalami kepunahan, menghilang, menyusut jumlahnya, maka kondisi ini jelas berdampak buruk bagi Indonesia, yang dimata duniaakan dianggap sebagai negara yang tidak mampu melindungi satwa yang dilindungi, tidak becus melestarikan satwa yang selalu hidup menyendiri. tidak serius menyelematkan satwa yang selama ini hidup bebas di alam belantara dan tidak awas dalam pengawasan dan pengamanan badak Indonesia.  (endy)