W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for December 4th, 2008

4
Dec

ATRAKSI WISATA MAKIN DIJAUHI WISATAWAN

Posted in atraksi wisata  by wisatanews on December 4th, 2008

BERBAGAI atraksi wisata yang digelar di berbagai daerah penjuru tanah air, terancam tidak akan digelar ulang malah akan berantakan dan bisa jadi terpasang di kalender event wisata nasional namun tak jelas kapan pelaksanaanya.

Pasalnya, atraksi wisata yang diharapkan menyedot wisatawan lokal, nasional sekaligus mengharapkan kedatangan wisatawan internasional, ternyata berubah seratus delapan puluh derajat.

Jumlah pengunjung atau wisatawan lokal yang datang menyaksikan atraksi itu terus berkurang, kurang memuaskan dari sisi pengunjungnya. Begitu juga wisatawan nasional pun tak kelihatan batang hidungnya dan jika ada paling-paling undangan panitia yang mendapatkan fasilitas. Apalagi wisatawan mancanegaranya jangan harap datang. Menyedihkan memang.

Pantauan Wisatanews selama tahun 2008, seperti Festival Krakatau di Lampung, Festival Musi di Palembang, Gebyar Wisata Banten di Tanggerang, Festival Singkawang Kalimantan Barat dan terakhir Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci di Jambi, kondisinya memprihatinkan dari sisi pengunjung, wisatawan.

Meski atraksi digelar secara gratis, namun tidak semarak lagi dari sisi pengunjungnya. Sepi. Tak ada perhatian, apakah sudah dijauhi masyarakat yang kategori wisatawan lokal? Memang itulah kondisi yang ada di masyarakat kita sekarang ini.

Sepinya pengunjung wisatawan lokal, terjadi karena berbagai alasan. Umumnya atraksi wisata itu terkesan monoton, membosankan, menjenuhkan karena tidak ada variasi sajian yang menarik. Juga, tak ada atraksi yang membuat ketertarikan orang untuk ketagihan datang.

Monoton lantaran atraksi yang disajikan tahun ini, seperti penyajian tahun-tahun sebelumnya bahkan malah lebih jelek lagi. Membosankan karena sebelum atraksi wisata digelar, sambutan panitia, kepala daerah sampai menteri yang dinilai sangat panjang dan makan waktu. ”Ini atraksi wisata atau kampanye pejabat mendekati pemilu,” celetuk seorang pengunjung saat menyaksikan pembukaan Festival Krakatau di Lampung.

Menjenuhkan lantaran atraksi wisata ya itu-itu saja. Buktinya, pada Festival Krakatau tarian yang ditampilkan semuanya hampir tari topeng, apa tak ada tarian lain. Padahal bisa saja Pemda Lampung mendatangkan tarian Barongsai, Reog Ponorogo, drum band tradisional ala Bali dan kesenian daerah lain kan masih banyak!.

Begitu juga, saat menghadiri Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci di Jambi yang dulu sangat dielu-elukan wisatawan lokal. Tahun 2007, antusias masyarakat untuk menyaksikan pagelaran budaya daerah itu cukup tinggi. Selama sepekan berlangsung acara atraksi itu selalu dipadati pengunjung. Namun kata padat itu, untuk tahun 2008 jangan harap ada lagi.

Di sisi wisatawan nasional dan turis asing yang tak datang, ya karena promosinya nggak ada bagaimana bisa menarik kunjungan turis. Promosi, publikasi sekali dua kali itu jelas tak akan membekas, tak akan mengingatkan wisatawan. Apalagi promosi itu cuma dilakukan di tingkat daerah atau propinsi, maka jangan harap mendapat lebih.

Seharusnya, promosi itu dilakukan setahun sebelum atraksi wisata digelar kemudian dilanjutkan sebulan sekali dengan menampilan informasi berbeda tentang perkembangan atraksi wisata itu. Memang yang terjadi selama ini, sebulan sebelum atraksi wisata digelar panitia daerah sibuk tak jelas apa yang dikerjakan. Jadi bagaimana mencitpakan image event itu.

Terus terang, atraksi wisata itu mengeluarkan dana yang cukup besar. Sayangnya pengeluaran anggaran besar itu tidak diimbangi dengan feedback yang besar pula. Malah event atraksi wisata yang digelar saat ini terkesan hanya menghambur-hamburkan dana. Kalau ini yang terjadi, menyedihkan sekali.

Bagaimana di tingkat pusat, yakni Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang menangani, memonitor kemajuan pariwisata se Indonesia nampaknya juga kurang giat, kurang aktif, kurang peduli dalam ikut membantu promosi atraksi wisata di daerah. Kalau sudah demikian, bagaimana pariwisata Indonesia bisa maju? (endy poerwanto)

4
Dec

BIDADARI ITU TERANCAM

Posted in satwa  by wisatanews on December 4th, 2008

INDONESIA memang kaya flora dan fauna. Sayang kekayaan itu tidak dijaga, dilestarikan secara serius. Buktinya, burung Bidadari (semioptera wallacei) yang ada di belantara rimba Halmahera dan Pulau Bacan Maluku, kini terancam punah.

Diperkirakan, burung yang ditemukan ilmuwan asal Inggris, Alfred Russel Wallace kini tinggal sekitar 50 sampai 100 ekor. Jumlah ini terus menyusut setiap tahunnya lantaran diburu untuk dijual, bahkan habitatnya tergeser oleh maraknya ekplorasi pertambangan dan penebangan hutan secara ilegal.

Populasi Bidadari kini banyak didominasi jenis jantan. Penyebaran burung ini, hanya tersisa di beberapa lokasi, salah satunya di kawasan hutan Batu Putih Domato, Sidangoli, kecamatan Jailolo Selatan, kabupaten Halmahera Barat.

Selain di kawasan tersebut, Bidadari Halmahera juga bisa ditemui di kawasan hutan Wasiley (Halmahera Tengah), gunung Sibela, Bacan (Halmahera Selatan), dan kaki gunung Gamkonora (Halmahera Utara). Keunikan burung ini yakni hanya muncul di pagi hari sekitar pukul enam hingga sembilan pagi.

Nama burung bidadari itu, diberikan oleh Wallace saat melakukan ekspedisi di Maluku tahun 1858. Wallace terkagum-kagum saat melihat keindahan warnanya yang didominasi hijau dan kecantikan yang seindah bidadari.

Saat itu semua orang tahu bahwa burung cenderawasih hanya ada di Papua, tetapi ternyata Ali, anak Melayu asisten Wallace menemukan sejenis cenderawasih di Pulau Bacan, Halmahera, yang berukuran 25 sampai 30 sentimeter, dengan spesifikasi tubuh yang menarik, juga warnanya yang menakjubkan.

Dalam The Malay Archipelago: The Land of The Orang-utan and The Birds of Paradise (1869) yang ditulisnya setelah menjelajah Nusantara selama delapan tahun (1854-1862), Wallace melukiskan, sebenarnya keseluruhan bulu burung bidadari tergolong biasa dan sederhana. cuma warnanya sehijau daun zaitun, dengan sedikit keungu-unguan di ujung dekat ekornya.

Kepalanya seperti memakai mahkota karena dihiasi bulu ungu muda berkilat. Leher dan dadanya berwarna hijau mengkilat. Semakin ke bawah, bulu-bulunya seperti terpisah menjadi dua bagian, masing-masing ke arah sayap kanan dan kiri. Kakinya berwarna kuning kemerahan, paruhnya berwarna seperti tanduk, dan matanya hijau seperti buah zaitun.

Namun, empat helai bulu panjang berwarna putih susu yang keluar dari pangkal sayapnya betul-betul membuatnya memiliki karakter unik. Bulu itu tidak lebar, tetapi sangat lembut dan seperti teranyam pada sayapnya. Bulu setiap helainya sepanjang sekitar enam inci itu menjulur hanya pada saat-saat tertentu yang diinginkan burung.

Yang pasti, antena putih susu itu hanya dimiliki oleh burung jantan. Bulu indah itu terjulur terutama pada saat fajar menyingsing, saat bidadari jantan beratraksi di ketinggian pohon untuk menarik perhatian pasangannya. (e)