W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for December, 2008

24
Dec

PENGUSAHA WISATA DI PADANG KELUHKAN PUNGUTAN

Posted in PUNGLI  by wisatanews on December 24th, 2008

PENGUSAHA wisata Sumatera Barat mengeluhkan banyaknya pungutan “abu-abu” alias antara resmi dan tak resmi. “Pungutan tersebut tidak hanya dilakukan pemerintah daerah, tetapi juga institusi kepolisian,” kata Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat Maulana Yusran, Rabu (23/12).
Maulana mencontohkan, ketika pihak hotel mengurus izin penyelengaraan musik hidup di hotel kepada kepolisian, mereka dipungut sampai Rp 2,5 juta. Pungutan itu setara dengan harga 30 tiket, padahal tiket yang terjual di hotel-hotel di Kota Padang jumlahnya sedikit.
“Padahal dalam ketentuan izin keramaian itu tidak ada biaya. Karena itu kami meminta pungutan seperti ini ada kejelasannya,” katanya.
Contoh lain yang disampaikan Maulana adalah izin minuman beralkohol yang sebenarnya sudah masuk ke dalam layanan standar hotel berbintang. Namun Pemerintah Kota Padang tidak mengeluarkan izin.
“Lucunya meski tidak punya izin, tetapi Pemerintah Kota Padang selalu mengutip pajak minuman beralkohol hotel dari hotel,” katanya.
Karena tidak ada izin inilah ketika polisi merazia sering terjadi perbedaan pandangan dengan pihak hotel, sebab sudah standar internasional hotel berbintang menyediakan minuman beralkohol dalam kadar tertentu. (ti)

17
Dec

AIR TERJUN NGLIRIP RIWAYATMU KINI….

Posted in wisata air terjun  by wisatanews on December 17th, 2008

INILAH nasib destinasi di Indonesia. Air terjun Nglirip di Desa Mulyoagung Kecamatan Singgahan, Tuban, Jawa Timur, contohnya. Obyek wisata ini, dulu jadi kebanggaan daerah. Promosi digencarkan. Wisatawan domestik banyak yang datang. Masyarakat di sekitar obyek wisata pun merasakan dampak positifnya.
Memang, pemandangan wisata air terjun ini sangat teduh, sejuk, indah dan menawan. Airnya yang jernih, mengalir begitu derasnya. Juga di balik air terjun itu, ada sebuah goa yang cukup besar. Konon goa ini sering dipakai tempat semedi untuk mencari ilmu.
Cerita lain lagi, dulu di dalam goa ini pernah dihuni seorang wanita cantik yang menanti kekasihnya yang pernah kunjung datang. Cerita wanita itu memang misteri dan sampai kini masih menjadi teka-teki, sehingga keberadaan goa itu pun menjadi sebuah misteri.
Namun kondisi saat ini, panorama alam yang menawan dipadu dengan derasnya kucuran air sungai yang turun bebas dari ketinggian 30 meter, hanya tinggal kenangan. Jumlah turis lokal yang datang grafiknya merosot drastis, apalagi wisatawan mancanegara jangan harap akan datang.
Berkurangnya minat berwisata ke air terjun itu, memang banyak penyebabnya. Antara lain, ditutupnya obyek wisata minat khusus, Goa Putri di Desa Nguluhan, Kecamatan Montong Tuban, lantaran kondisi tanah di sekitar goa sangat labil, rawan longsor.
Penutupan goa yang jaraknya hanya sekitar 7 Km dari air terjun ini, pengaruhnya sangat besar. Mengingat, selama ini wisatawan yang datang ke obyek wisata alam Nglirip, pasti mampir ke Goa Putri. Atau sebaliknya.
Penyebab lainnya, air terjun Nglirip kalah bersaing dengan obyek wisata baru yang bermunculan di Tuban, maupun daerah tetangganya, Lamongan yang aktif mempromosikan obyek wisata bahari Tanjung Kodok, Goa Maharani, Kebun Binatang mini dan Makam Sunan Drajat, salah satu dari Sembilan Wali (Walisongo).
Dengan bermunculan destinasi baru itu, Pemda agaknya sudah tak pernah gembor-gembor lagi promosi air Terjun Nglirip dan Goa Putri yang masih alami. Kabarnya, dua destinasi itu sudah tidak menjadi obyek wisata unggulan lagi.
Namun demikian, warga sekitar obyek wisata itu terus berjuang untuk mengembalikan kejayaan air terjun dengan menggratiskan wisatawan yang berwisata di air terjun. Cuma kena jasa uang parkir Rp 3.000 bagi roda empat. Sayangnya, langkah itu tetap kurang diminati wisatawan untuk datang. Siapa yang peduli? (endy/foto:ist))

17
Dec

LASKAR PELANGI TERANGI DESTINASI BELITUNG

Posted in destinasi  by wisatanews on December 17th, 2008

MOMENTUM kesuksesan film Laskar Pelangi, membawa berkah bagi Kabupaten Belitung. Berkah tak hanya mendongkrak popularitas nama daerah, juga berhasil menjunjung pariwisata Belitung. Tak bisa dipungkiri Belitung memang kaya obyek wisata menarik, unik, eksotik punya daya tarik.

Sayang, hanya karena lemahnya promosi, kurangnya publikasi, belum ditangani serius, tak ada lokomotif penggerak ditambah rendahnya investor yang masuk, menyebabkan pariwisata Belitung kurang beruntung.
Untungnya, berkat film layar lebar ‘Laskar Pelangi’ juga video klip Nidji, yang lokasi syuting berlatar belakang destinasi di Belitung, ternyata membawa angin perubahan bagi daerah yang dulu dikenal sebagai penghasil timah dan lada.
Kini Belitung, dengan gagah berani menyambut wisatawan lewat sambutan ‘Selamat Datang di Bumi Laskar Pelangi’. Dampaknya, wisatawan mulai berdatangan. Mereka terbuai keindahan alam yang mempesona. Pantai indah dengan bebatuan yang menawan, pasir putih bersih, pulau-pulau kecil bertebaran dimana-mana, laut yang bebas pencemaran, terumbu karang yang menerawang alami, keanekaragaman flora, fauna serta kekayaan tradisi, budaya yang berbeda.
Yang lebih mengembirakan lagi, jarak antara satu obyek wisata dengan lainnya berdekatan, sehingga wisatawan akan merasa puas. Apalagi jarak tempuh Jakarta - Tanjungpandan hanya ditempuh dalam waktu 50 menit.
Untuk Jalur laut, pelayaran kapal feri cepat (Jet Foil), Pangkal Pinang (Bangka)–Tanjung Pandan (Belitung) dua kali sehari dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Tersedia pula pelayaran dengan kapal cepat angkutan sungai danau dan penyeberangan (ASDP), Belitung–Sunda Kelapa Jakarta.
Dari bandara Hanadjoeddin, bisa city tour lebih dulu di kota Tanjunpandang, menyaksikan Rumah Tuan Kuasa, yakni rumah penguasa timah tempo doeloe, Museum Belitung, Monumen Perjuangan, Kapal Keruk Ceruduk, situs-situs kejayaan tambah timah serta pantai pendam untuk menikmati sunset yang membuat kenangan tersendiri.
Dan, ada pemandian alam “Tirta Merundang Indah” di Desa Air Seruk, Kecamatan Sijuk, 15 km dari Tanjung Pandan. Mudah dicapai dengan berbagai jenis kendaraan, sekitar 30 menit dari Kota Tanjung Pandan. Di Sijuk juga ada pantai terkenal, pantai Tanjung Tinggi.
Pantai ini sangat indah dan unik dengan pasir putih dan susunan bebatuan menawan, yang jarang dijumpai di tempat lain bahkan di Bali sekalipun. Apalagi, pantainya diapit dua semenanjung. Pantai berpasir putih dengan ratusan batu granit besar yang tersebar di kedua semenanjung juga laut di depan pantai.
Ukuran granit mulai dari beberapa meter kubik hingga ratusan meter kubik lebih besar dari sebuah bangunan sebesar rumah. Bentuk dari batu-batu besar juga unik, sebagian membentuk gua, yang dapat digunakan berteduh selama hujan. Batu-batu itu bertumpuk satu sama lain membentuk obyek yang menarik. Batu-batu itu terletak di atas pasir putih. Di antara susunan batu itu terdapat celah-celah yang bisa dilewati manusia. Namun, waspada tetap penting karena di kedalaman air setinggi 40 sentimeter pun dapat ditemukan ubur-ubur bening berkepala sebesar bola basket dengan tentakel panjang.
Pantai Tanjung Tinggi memang indah karena airnya terlihat bening hingga tembus ke dasar dengan gradasi warna biru tua ke biru muda lalu transparan saat menyentuh pasir putih di tepian. Tidak ada ombak sama sekali, hingga permukaan airnya tenang seakan memiliki daya magis yang mampu menarik siapapun membasahkan kaki. Lokasinya hanya berjarak 30 kilometer utara Tanjung Pandan.
Belitung juga banyak memiliki kawasan pantai yang indah. Misalnya Pantai Tanjungkelayang.

Batu Granit

Selain keindahan yang mempesona, pantai yang jaraknya 27 kilometer dari Tanjungpandan, terdapat batu granit berukuran besar. Uniknya, karena terkikis air laut, muncul relief-relief di batu granit. Karena keindahan alamnya, masyarakat Belitung percaya bahwa pulau-pulau merekalah yang dipilih peri-peri kahyangan ketika akan mandi cahaya Bulan.
Keindahan alam juga tampak di Selat Nasik, kecamatan di Pulau Mendanau, sekitar dua jam pelayaran dari Tanjung Pandan ke arah barat. Di sana ada atraksi menarik “Nundak” ikan tenggiri, memancing ikan tenggiri sambil mendayung perahu. Perairan Selat Nasik, potensial budidaya rumput laut dan ikan kerapu.
Karena itu, Kecamatan Selat Nasik ditetapkan sebagai etalase perikanan dan kelautan Kawasan Barat Indonesia oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Selat Nasik punya beberapa macam kesenian tradisional yang terus dilestarikan, musik stambul pajar, permainan lesong panjang dan begubang. Ada rumah tradisional dengan arsitektur yang usianya 100 tahun lebih.
Sedikitnya ada delapan pulau kecil tak berpenghuni yang masuk Desa Tanjung Binga, Kecamatan Sijuk, yang terkenal dengan keindahan alam, pantai, dan bentuk alamiah batu granit yang memesona. Pulau itu adalah Pulau Burung seluas 12 hektar dengan kebun kelapa dan bukit kecil di tengah pulau. Dinamakan Pulau Burung karena di satu sudut pantai terdapat batu granit setinggi 20 meter yang menyerupai burung.
Di Pulau Lengkuas terdapat mercusuar yang dibangun pada masa Belanda tahun 1882. Perairan di sekitar pulau ini banyak terdapat karang laut yang indah sehingga dijadikan objek menyelam oleh wisatawan. Pulau lainnya adalah Pulau Babi, Pegadaran, Lutung, Kera, Jukung, Jenang, Pulau Batu Berlayar dan Pulau Burung.
Di Belitung, wisatawan petualang bisa menikmati ombak laut sambil memancing malam hari dengan perahu bagan nelayan di Selat Gaspar yang memisahkan Pulau Bangka dengan Belitung. Caranya, bisa ikut nelayan atau menyewa bagan berikut awaknya. Memancing di Selat Gaspar adalah obyek wisata eksklusif yang ditawarkan Belitung. Saat ini penduduk Belitung dan orang Jakarta pada akhir pekan memancing di laut dengan kapal sendiri atau menyewa perahu.
Ada pula ekosistem kerangas yang langka, hanya terdapat di sedikit lokasi, satu di antaranya di Belitung. Lantai hutan yang putih pucat dan suhu panas dengan lebih dari satu jenis tumbuhan pemangsa serangga (karnivora), seperti kantong semar yang oleh masyarakat Belitung disebut ketakong atau kemidokan.
Selain keindahan alam, Pulau Belitung juga memiliki daya tarik seni-budaya. Masyarakat suku Sawang di sana memiliki upacara yang disebut buang jong. Upacara yang berlangsung dua hari-dua malam menjelang musim angin barat (sekitar Agustus atau November) ini bertujuan memohon perlindungan kepada Yang Mahakuasa agar terhindar dari bencana ketika mengarungi lautan untuk menangkap ikan. Bentuk acaranya adalah melarung perahu kecil berisi sesajian dan rumah-rumahan ke laut lepas.
Untuk wisata kuliner yang terkenal adalah mie Belitung, sambel serai, sambel lingkongh dan terasi Belitung yang kesohor. Tertarik?  (endy)

16
Dec

PULAU PASIR TIMBUL DESTINASI DADAKAN

Posted in Uncategorized  by wisatanews on December 16th, 2008

PULAU Pasir Timbul memang agak asing bagi para penggemar wisata bahari, namun pulau yang luasnya tersisa hanya sekitar 60 m2 itu, sangat mempesona dengan paparan pasir putihnya di tengah kawasan Teluk Lampung.
Pulau Pasir Timbul memang tidak seterkenal tempat wisata bahari lainnya di Lampung, seperti Pasir Putih dan Gunung Karaktau, namun pesona alam dan baharinya tidak kalah menarik.
Para nelayan yang biasanya menangkap ikan di kawasan Teluk Lampung, termasuk di perairan Pulau Pasir Timbul, menyebutkan pulau itu hanya muncul pada pagi menjelang siang hari, dan akan tenggelam saat pasang naik.
Jadi, pulau yang dipenuhi hamparan pasir itu kadang muncul, kadang tenggelam, sehingga para nelayan setempat menyebutkan namanya Pulau Pasir Timbul. Artinya, hanya paparan pasir putih yang tampak saat pasang air laut surut pada pagi hari.
Pulau itu bisa dijangkau dari Pantai Hanura, Kabupaten Pesawaran, dengan perahu motor selama 20 menit perjalanan.
Sekitar 50 meter menjelang pulau itu, tinggi air laut pada pagi hari hanya sebatas lutut, sehingga pengunjung sering memanfaatkan kondisi itu untuk berjalan berkeliling sekedar melihat terumbu karang atau ikan- ikan kecil dan binatang laut lainnya, seperti bintang laut dan kepiting.
Saat matahari pagi mulai terbit dan kondisi air sedang hangat, banyak pengunjung yang memanfaatkan kesempatan itu untuk berenang dengan menggunakan kacamata khusus untuk melihat ikan- ikan yang berenang di terumbu karang, yang banyak berkembang di sekitar perairan pulau tersebut.
Ikan “Nemo” yang paling banyak diminati anak-anak dan para remaja, karena warnanya yang paling mencolok di antara ikan-ikan lainnya yang terdapat di terumbu karang Pulau Pasir Timbul.
Karena masih belum terkenal, Pulau Pasir Tenggelam tidak ramai dikunjungi orang, sehingga kondisi pasir, terumbu karang dan hewan laut yang ada masih relatif terjamin.
Jika sebagian pengunjung pulau itu “berburu” ikan hanya sekedar menikmati keindahannya saja, di pantai pulau itu ternyata juga terdapat berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi, seperti udang pasir (Thenus orientalis).
Selain udang pasir juga adah udang windu, udang jerbung, udang putih, udang raja, udang kembang, udang dogol, udang api-api, udang pasir dan udang karang (lobster). Memang, populasi udang pasir dan habitat ikan di Teluk Lampung semakin berkurang, karena pencemaran di teluk itu semakin meningkat.
Pencemaran akibat sampah organik dan nonorganik, perusakan terumbu karang, penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak, serta perusakan hutan bakau, merupakan ancaman utama atas seluruh objek wisata bahari di wilayah Provinsi Lampung.
Lebih dari 18 persen terumbu karang di Teluk Lampung dan sekitarnya saat ini telah mati. Antara empat hingga 28 persen terumbu karang di kawasan itu tertutup pasir, sementara 0,6 hingga 45 persennya pecah atau bentuk morfologisnya sudah tidak utuh lagi.
Kawasan hutan bakau di pantai itu juga hampir punah. Data Pemdaprov Lampung, areal hutan bakau di pantai Lampung sepanjang 270 Km, dan kerusakannya mencapai 80 persen tahun 2007.
Seiring kerusakan lingkungan yang semakin besar di pesisir dan kawasan Teluk Lampung, Pulau Pasir Timbul agaknya hanya menunggu waktu untuk lenyap dan menjadi “kenangan semata”, karena pulau itu terus tergerus air laut dan terumbu karangnya semakin rusak. (an)

16
Dec

SITUS GOA MLATEN TAK TERURUS

Posted in Uncategorized  by wisatanews on December 16th, 2008

PERHATIAN terhadap situs memang tak pernah serius. Goa Mlaten, contohnya. Padahal, goa yang juga disebut Goa Maling Aguno  di daerah Polaman, Kecamatan Lawang, Malang, Jawa Timur ini, memiliki nilai sejarah. Namun kini merana, terbengkelai, tak terurus dan kondisinya menyedihkan.
Berbau nilai sejarah lantaran konon di masa Kerajaan Singosari, keberadaan Goa ini dipakai jalan tembus oleh Kesatria yang menculik Puteri Ken Dedes. Informasinya juga dipakai sebagai lokasi persembunyian wanita tercantik di masanya itu, yang bertujuan mengamankan sang putri lantaran terjadi kemelut di Kerajaan Singasori.
Bukti sejarah lainnya, di bawah goa ada sumber air, sendang, telaga Polaman, berukuran sedang yang sumber mata airnya sangat bersih, jernih. Bahkan di sendang itu ada ikan berukuran besar yang dulu diyakini oleh penduduk setempat sebagai ikan pemeliharaan sang putri.
Di depan mulut goa, juga ada batu kotak-kotak yang mirip batu candi. Diduga batu itu sebagai tempat persembayangan, pemujaan. Yang unik lagi, untuk masuk ke goa, dulu tidak perlu jongkok atau merayap namun cukup berdiri karena mulut goa setinggi orang dewasa.
Kedalaman goa memiliki lorong sampai 80 meter, ketinggian langit-langit goa mencapai sekitar 1,8 hingga 2 meter. Jika ditelusuri dalam goa kondisinya semakin menarik karena disinyalir goa ini bisa tembus ke wilayah teritorial Kerajaan Singasari. Sayang jalan tembus itu tak pernah dilakukan penelitian sampai detik ini.
Yang lebih sangat disayangkan lagi, kondisi goa makin memprihatinkan. Bibir goa makin sempit. Batu candi sirna. Kedalaman lorong goa makin berkurang. Penyebabnya Bagian atas goa sudah menjadi tempat hunian baru manusia. Juga akibat sedimentasi, setiap musim hujan, sungai yang berada di depan mulut goa mengalirkan lumpur masuk ke dalam goa.
Padahal, jika pemerintah cepat tanggap menanganinya, keberadaan goa Mlaten dengan air sendang yang dulu sangat rindang bisa menjadi obyek wisata sejarah yang menakjubkan. Apalagi, bila wisatawan datang ke lokasi itu diberi bumbu-bumbu tentang sejarah masa lalu, jelas membuat wisatawan semakin tertarik ingin tau. Bukankah kedatangan wisatawan ke daerah yang belum pernah dikunjungi hanya ingin melihat dan mengetahui banyak sejarah masa lalu??? Sayang memang kita nggak pandai mengemasnya. (endy)  foto : bekas pemandian putri Ken Dedes

15
Dec

DESTINASI BEKAS PERANG DUNIA DI BIAK, RUSAK

Posted in peninggalan sejarah  by wisatanews on December 15th, 2008

MERAWAT itu memang tidak gampang. Buktinya, tugu bersejarah yang sudah dibangun susah-susah oleh tentara negara adidaya, Amerika Serikat pada tahun 1945, kini kondisinya malah memprihatikan. Rusak.
Padahal, di bekas lokasi perang sekutu di Biak, Kabupaten Biak Numfor Papua itu, memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Kemenangan tentara AS bersama sekutu saat melawan bala tentara Jepang pada Perang Dunia Kedua, merupakan simbol sejarah dunia yang tak ternilai harganya.
Sayangnya, simbol kemenangan yang diwujudkan dalam sebuah Tugu Perang kondisinya sudah tak terawat, juga kurang mendapat perhatian. Begitu juga peningalan benda sejarah perang masa lalu itu mengalami nasib yang sama.
Padahal, jika ditangani serius, dirawat dengan baik dan dipelihara secara sukarela, bisa menjadi obyek wisata sejarah yang memiliki nilai yang tak terkira harganya.
Lebih dari itu, tugu itu bisa dipromosikan ke negara adi kuasa dan sekutunya, termasuk negara Jepang yang dilakukan dengan promosi secara rutin, plus propaganda yang menarik dan publikasi yang menyebutkan masih ada peninggalan bekas perang tentara AS dan jepang di Biak. Apalagi, dibumbui informasi menarik serta data pelengkap lainnya, sehingga menimbulkan daya tarik.
Apalagi, di kawasan ini masih banyak tersebar peninggalan sejarah tentara sekutu, Jepang bahkan Belanda seperti bangkai kapal perang, bangkai pesawat terbang juga ada goa Binsari Jepang di Kampung Sumberker, Tugu UNTEA di jalan Hangtuah komplek Pangkalan TNI AL Biak.
Selain itu, ada objek sejarah tugu perang dunia II di Pulau Numfor, monument perang dunia II Paray Distrik Biak Kota, tugu Pepera di Jalan Sriwijaya Ridge Distrik Samofa. Sementara objek sejarah lainnya berupa tugu 14 Maret di Jalan Sorido Distrik Biak Kota sebagai simbol perjuangan pemuda Biak melawan kolonial Belanda.
Nasib tugu perang Pasific di Biak, kini telah rusak. Bagian atasnya pecah dan hilang. Yang menyedihkan lagi, oleh warga sekitar di Jalan Pramuka dipakai untuk menjemur pakaian, menjemur kasur. Menyedihkan memang. Haruskah peninggalan sejarah perang dunia itu, menjadi papan nama.  (endy)

15
Dec

UJUNG KULON DI UJUNG TANDUK

Posted in Uncategorized  by wisatanews on December 15th, 2008

SEBUT saja Ujung Kulon, pasti semua wisatawan domestik (wisdom) maupun mancanegara (wisman) pasti mengenal dan tahu bahwa daerah itu berada paling ujung barat atau kulon dalam bahasa Jawa, di Pulau Jawa. Wisatawan mengenalnya sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum ditetapkan sebagai Taman Nasional Ujung Kulon.
Pesona kawasan hutan dataran rendah ini, memang menjadi daya pikat, daya tarik lantaran kawasan ini memiliki kekayaan keragaman flora, pemandangannya mempesona, keunikan terumbu karang, biota lautnya masih belum tersentuh tangan-tangan jahil, juga maskot badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang sudah tak asing lagi namanya, malah sudah merambah ke penjuru dunia.
Ditambah lagi, kekuatan magis yang oleh sebagian orang bisa begitu kuat dirasakan di sana. Sehinga, daya tarik Ujung Kulon semakin membuat orang penasaran untuk datang melihatnya. Dan memang keajaiban alam itu yang membuat sulit ditemukan di destinasi lainnya.
Sebagai taman nasional, Ujung Kulon selain di kunjungi wisatawan minat khusus seperti yang suka petualangan menyusuri hutan rimba nelantara, juga menjadi tempat favorit bagi para peneliti. Tak hanya peneliti dalam negeri tetapi justru lebih banyak dari negara-negara di Eropa. Ujung Kulon juga layak menjadi tempat pilihan untuk bersantai entah menghabiskan akhir pekan, melepas kepenatan kerja atau berbulan madu pun oke.
Mengingat, potensi Wisata Ujung Kulon yang terletak di Padeglang Banten ini, sangat beragam, sangat lengkap mulai obyek wisata alam, wisata sejarah, wisata bahari, hingga wisata budaya pun ada. Antara lain :
WISATA PANTAI. Pantai Tanjung Lesung ini menjadi tempat wisata andalan karena panorama pantai yang indah, kawasan wisata ini sangat cocok digunakan untuk snorkling, diving, dan jetski. Juga, kondisi air yang tenang dan jernih akan menjauhkan alam pikiran kita dari stres. Pada bagian Utara Tanjung Lesung, terdapat kawasan perbukitan yang tidak begitu curam. Di tempat ini, bisa menyaksikan keindahan bagian laut yang menjorok ke pantai dan membentuk laguna.
TAMAN NASIONAL. Jika kita ingin menyaksikan badak bercula satu, di sinilah tempatnya. Taman Nasional hutan tropis ini, cocok untuk konservasi karena alamnya terindah di dunia. Juga aneka satwa langkah masih tersimpan meski populasinya makin berkurang. Seperti badak jawa, rusa, menjangan, banteng, primate, babi hutan, kucing hutan, lemur, dan berbagai jenis burung.
WISATA BAHARI. Di ujung Kulon juga dikelilingi beberapa pulau kecil yang menakjubkan. Misalnya Pulau Peucang, Handeuleum, Panaitan, dan Gunung Honje. Untuk menuju tempat ini, dapat melalui Desa Panimbangan atau melalui jalan laut dengan perahu menuju pulau Peucang, Handeuleum, atau Pulau Panaitan.
WISATA ALAM. Ujung kulon juga menyimpan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas dan taman laut yang alami.
WISATA SEJARAH. Ternyata di dalam hutan belantara masih ada  peninggalan budaya/sejarah, seperti Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan.
WISATA SPIRITUAL. Di dalam taman nasional, juga ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan wisata ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.
Sayang potensi wisata yang sangat banyak, tidak ditunjang kondisi infraktruktur yang memadai. Karena untuk menuju ke sejumlah obyek wisata itu, kondisi jalannya yang rusak, berlubang. Juga, transportasi ke destinasi itu sangat terbatas. Dampaknya, akhir-akhir ini grafik kunjungan wisatawan merosot tajam.
Sebelumnya, setiap tahun rata-rata wisatawan yang berkunjung tidak kurang dari enam ribu orang, namun hingga akhir tahun ini hanya empat ribu orang. “Wisatawan rata-rata mengeluhkan jalannya yang jauh dan rusak serta kurangnya transportasi umum. Padahal, mereka kagum dengan keindahan alam di Ujung Kulon,” ungkap Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Agus Priambudi di Pandeglang, Banten, Jumat (12/12).
Memang, biaya yang dikeluarkan untuk masuk ke dalam kawasan wisata ini nilainya tidak seberapa, hanya dipungut retribusi Rp2.500 setiap orangnya, namun yang memberatkan wisatawan adalah kondisi infrastruktur jalan yang rusak dan langkanya sarana trasnportasi umum menuju kawasan wisata hutan dan pantai.
Kini wisata Ujung Kulon diujung tanduk. Jika tak segera diantisipasi, kunjungan wisatawan akan bertambah merosot tajam. Dampaknya juga dirasakan masyarakat kecil, yang mencari rejeki dengan berjualan makanan dan minuman. (endy)

15
Dec

IKON WISATA PALEMBANG MAKIN TAK BERSIH

Posted in Uncategorized  by wisatanews on December 15th, 2008

SUNGAI Musi dan jembatan Ampera, sudah menjadi ikon pariwisata Kota Palembang. Suasana di sekitar jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1962, semakin bersih dan tertata rapi. Sayangnya kerapian itu harus dibayar mahal dengan kondisi sungai yang tidak bersih lagi. Sayang memang.
Enceng gondok kini tumbuh subur, makmur dan tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan yang memiliki kepedulian tinggi untuk membersihkannya. Sampah plastik dan botol minuman - yang dibuang seenaknya oleh orang-orang yang kurang peduli lingkungan, telah ngambang dengan tenang di permukaan sungai.
Kondisi itu diperparah dengan bkeberadaan sampah rumah tangga bahkan industri yang menghiasi riak-riak kecil air Musi. Ditambah lagi, ranting pohon dan kayu besar yang hanyut bebas tanpa batas. Agaknya, aspek kebersihan sungai yang penuh kenangan, penuh sejarah, benar-benar belum terjaga kebersihannya.
Kotornya sungai Musi itu, kalau dibiarkan tidak hanya mengurangi keindahan sungai, tetapi dapat menghalangi aktivitas transportasi air di kawasan yang menjadi jalur lintas menuju pedalaman Sumatera Selatan. Lebih dari itu, menganggu pandangan mata wisatawan yang sedang menikmati panorama Sungai Musi.
Sungai Musi, tempat aktifitas segala kehidupan. Sungai Musi punya daya tarik sehingga banyak dikunjungi. Sungai Musi sudah menjadi ikon pariwisata. Apalagi untuk mendukung obyek wisata itu, ada Jembatan Ampera, ada benteng Kuto Baru, ada Museum, ada Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), ada kapal wisata, ada wisata bahari Pulau Kemarau, ada wisata alam Bukit Siguntang,  ada kawah Tengkurep, ada atraksi wisata.
Sejak diluncurkan Program Visit Musi awal tahun 2007 lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumsel mengembirakan. Secara umum, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara ke Sumsel pada tahun 2008, mencapai dua juta orang. Tahun 2007 lalu, hanya 1,3 juta orang.
Mereka yang berwisata, kebanyakan wisatawan nusantara, sementara turis asing masih relatif sedikit. Wisatawan mancanegara yang datang ke Sumsel sekitar 12.000-an orang, dari Malaysia dan Thailand. Harapan agar turis asing terus bertambah, memang bukan sekedar isapan jempol belaka.
Untuk itu, berbagai promosi, publikasi sudah disiarkan. Berbagai travel mart di tingkal nasional dan internasional sudah digencarkan. Target kunjungan wisatawan asing tahun 2009 pun ditetapkan dengan mengalami kenaikan sekitar 20-25 persen. Namun target itu bisa kacau dan gagal diraih, jika masalah-masalah kecil diabaikan, ya seperti Sungai Musi yang tidak bersih. Bukankah kemajuan pariwisata itu berkaitan dengan keamanan, kenyamanan, kebersihan. Kalau tak bersih gimana? (endy)

12
Dec

SUMBAWA, KAYA GEOWISATA MISKIN PROMOSI

Posted in obyek wisata  by wisatanews on December 12th, 2008

TANPA dinyana ternyata Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki kekayaan geologi yang luar biasa. Potensi itu kini dikembangkan menjadi obyek wisata minat khusus, geowisata.
Nama geowisata memang masih asing di telinga penduduk Indonesia. Istilah kurang populer, kurang ngetop dibandingkan dengan ekowisata. Padahal di Amerika Serikat, geowisata identik dengan ekowisata.
Bahkan, belahan dunia lain geowisata ditempatkan sebagai bagian dari wisata alam minat khusus yang prinsipnya mengikuti kaedah-kaedah ekowisata dan geowisata, sebagai bagian dari ekowisata harus tunduk pada prinsip-prinsip berwisata yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Apalagi kecenderungan wisata kembali ke alam atau “back to nature” memberikan peluang pemberdayaan potensi fenomena alam geologi sebagai tujuan wisata alternatif. Dan Geowisata sebagai salah satu kegiatan wisata alam merupakan suatu konsep wisata yang ramah lingkungan, menyuguhkan pemahaman proses kebumian yang berhubungan dengan keunikan dan kelangkaan fenomena alam tersebut sebagai sebuah daya tarik wisata.
Memang penyelenggaraan wisata alam geologi ini memerlukan panduan, pengaturan dan pengawasan yang memadai untuk menjamin keselamatan, kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan jenis geowisata ini.
Untuk menggapai itu, Sumbawa kini berjuang keras. Berbagai langkah ditempuh dengan start dari awal yakni melakukan inventarisasi. Hasilnya di Sumbawa terdapat 10 titik lokasi geologi yang memiliki potensi geowisata, yakni Pantai Batugong di Desa Labuan Badas, Kecamatan Badas dan air terjun Aikbeling di Dusun Kuangmo, Desa Sempe, Kecamatan Moyohulu.
Selain itu, geowisata perbukitan Tarakini di Desa Lenangguar, Kecamatan Ropang, Air Terjun Tebamurin di Dusun Brangrea, Desa Lenangguar, Kecamatan Ropang dan obyek wisata Liang (goa) Petang di Desa Batutering, Kecamatan Moyohulu.
Potenasi geologi lainnya adalah Pantai Tanjung Menangis di Dusun Omo, Desa Panyaring, Kecamatan Moyohilir, mataair panas di Dusun Simu, Desa Maronge, Kecamatan Lape Lopok, air terjun Mata Jitu di di Pulau Moyo, Goa Tanjung Pasir dan Goa Aik Manis.
Sayang, kekayaan Geowisata di Sumbawa belum bisa terangkap, dijual ke wisatawan mancanegara yang kini cenderung memegang prinsip berwisata ‘back to nature’. Sayang, Pemda Sumbawa tidak punya dana cukup untuk promosi, publikasi apalagi membikin brosur dan menyebarkan ke kedutaan yang harus ada dana besar. Ibarat pepatah ‘nafsu besar dana kurang’ yang kini menyelimuti pariwisata Sumbawa.
Siapa yang mau membantu, siapa yang peduli. Ternyata teriakan ini sudah diteriakan berulangkali. Sayang nggak ada yang dengar, termasuk pusat yang membawahi pariwisata. Menyedihkan memang. (Endy)

Tags: ,

12
Dec

POPULASI BADAK TERANCAM PUNAH

Posted in Uncategorized  by wisatanews on December 12th, 2008

POPULASI badak di Indonesia mengalami penyusutan bahkan terancam punah. Penyusutan hewan yang dilindungi itu, akibat pemburuan liar yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang motivasinya hanya untuk kepentingan kekayaan pribadi.
Selain ulah pemburu liar yang ‘bermuka badak’, punahnya Badak di Indonesia akibat dari lemahnya petugas dalam melakukan pengawasan, pengamanan dan perlindungan satwa yang dilindungi itu. Juga kepedulian masyarakat di sekitar hutan terhadap hewan ini, kurang mendapat perhatian serius.
Diperkirakan populasi Badak Sumatera kini hanya tinggal antara 250 sampai 300 ekor.  Satwa  bertubuh tambun berkulit keras itu, terkonsentrasi di Taman Nasional Gunung Lauser dan Bukit Barisan.
Padahal, lima tahun lalu jumlah populasi Badak Sumatera yang ada di sejumlah Taman Nasional di Pulau Sumatera mencapai 600 sampai 700 ekor.  Dan penyusutan yang tajam disinyalir setiap bulan terjadi pemburuan illegal sebanyak 40-50 ekor.
Begitu pula Badak Jawa Bercula Satu di Taman Nasional Ujung Kulon diperkirakan populasinya terus menyusut. Padahal tahun 2007, populasi badak bercula satu mencapai 50 ekor. Namun kini jumlah sebanyak itu disinyalir sudah tidak lengkap lagi.
Jika badak Indonesia mengalami kepunahan, menghilang, menyusut jumlahnya, maka kondisi ini jelas berdampak buruk bagi Indonesia, yang dimata duniaakan dianggap sebagai negara yang tidak mampu melindungi satwa yang dilindungi, tidak becus melestarikan satwa yang selalu hidup menyendiri. tidak serius menyelematkan satwa yang selama ini hidup bebas di alam belantara dan tidak awas dalam pengawasan dan pengamanan badak Indonesia.  (endy)