W I S A T A N E W S
informasi dunia pariwisata Indonesia

Archive for November, 2008

28
Nov

BERWISATA ALA KOBOI DI SAWAHLUNTO

Posted in Uncategorized, obyek wisata  by wisatanews on November 28th, 2008

INGIN berwisata dengan suasana ala koboi? Nggak perlu jauh-jauh ke negara asalnya di Amerika. Cukup datang ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Karena Pemerintah Daerah (Pemda) sedang menyulap bekas kawasan pertambangan menjadi obyek wisata, yang mirip dengan suasana ala koboi.

Ambisi Pemda untuk menjadikan Sawahlunto sebagai daerah tujuan wisata, memang sangat tepat dan beralasan. Karena sejak penambangan batu bara dihentikan pada tahun 2000, sektor pariwisata yang menjadi andalannya.
Dengan modal bangunan tua peninggalan Belanda serta bekas kota tambang, Sawahlunto dijadikan living museum, berbagai bangunan tua dan bekas pertambangan dijadikan objek wisata.
Sawahlunto memiliki kawasan pertambangan yang unik. Memang dulu, Kota Lama Sawalunto merupakan kota tambang tertua di Indonesia. Dulu memang dikenal sebagai penghasil batu bara, seiring dengan waktu dan persediaan yang sudah mulai berkurang akhirnya julukan tersebut sudah hilang ditelan waktu. Kawasan pertambangan ini yang menjadi andalan utama sebagai tujuan wisata.
Kota ini juga ada peninggalan bangunan Belanda yang kokoh. Cagar budaya sejarah ini masih terpelihara dengan baik. Tak ada pemugaran yang berarti selama ini, sehingga kondisi bangunan masih seperti aslinya.
Bahkan stasiun kereta api dengan relnya yang masih utuh. Stasiun yang dibuat zaman Belanda ini masih terdapat alat pemutar rel kereta api yang sampai kini masih berfungsi. Malah Sawahlunto masih menyimpan gerbong yang terbuat dari kayu, kondisinya masih utuh. Sayangnya, lokomotif uap dengan bunyi sirene dan kepulan asapnya yang pernah melegenda saat pertambangan masih marak, kini tak bisa dipakai lagi. Untuk itu, Pemerintah Daerah mendatangkan lokomotif uap dari Museum Kereta Api Ambawara, yang rencananya akan dikirim pada 2009.
Yang lebih menarik lagi, ada terowongan yang masih layak dimasuki. Terowongan kuno sepanjang 500 meter dari Kota Sawahlunto dengan Muara Kalaban, kondisinya masih bagus bahkan 5 KM rel kereta api juga masih bagus. Sehingga wisatawan akan menikmati perjalanan kereta uap untuk mengenang kejayaan Sawalunto tempo doeloe. Apalagi penumpang berpakaian ala koboi, sehingga menjadi kenangan tersendiri.
Juga ada gelanggang pacuan kuda. Luas lahan arela pacuan mencapai 39,69 Ha dengan sarana track pacuan sepanjang 1.400 meter dan lebar 20 meter dilengkapi kandang kuda dengan kapasitas 200 ekor juga ada Mounting Yard, Saddling Paddock dan Jalan Kuda.
Bahkan gedung pusat kebudayaan yang didirikan pada tahun 1910 masih sempurna. Awalnya gedung ini bernama Gluck Auf, merupakan tempat berkumpul pejabat colonial untuk berdansa dan berpesta, lalu gedung ini bernama gedung Bola berfungsi sebagai arena billiard dan bowling. Gedung ini berfungsi sebagai tempat pertemuan para pejabat colonial. Sejak kemerdekaan, gedung ini digunakan oleh masyarakat untuk pertunjukan seni dan berubah nama menjadi gedung Pertemuan Masyarakat. Dan kini menjadi gedung kesenian dan kebudayaan.
Untuk wisata relegi, ada bangunan masjid kuno yang menarik. Semula bangunan mesjid ini adalah gudang mesiu. Fungsi dan bentuk bangunannya memang sudah berubah dari bangunan semula. Namun cerobong bangunan sudah dirubah digunakan sebagai minerat mesjid yang berupa menara dengan tangga memutar ke dalamnya. Atap bangunannya telah menjadi kubah. Walaupun telah mengalami cukup banyak perubahan mesjid ini merupakan suatu yang menarik dikunjungi.
Ada juga bangunan Gereja peninggala Belanda. Bangunan dengan gaya arsitektur kolonial (art deco) ini mempunyai suatu keunikan tersendiri dan merupakan sala satu elemen yang merupakan satu kesatuan dalam sejarah berdirinya dan tumbuhnya Kota Sawahlunto.
Yang tak kalah asyik dan menariknya, Batu Sandaran yang antik. Batu sandaran ini terletak dikelurahan Balai Batu sandaran yang terletak di jalur lingkar luar Selatan Kota Sawahlunto. Obyek ini berasal dari legenda tentang beberapa sesepuh adat bermusyawarah di tempat tersebut dan bersandar pada jajaran batu yang berbentuk sandaran, yang masih ada sampai saat ini.
Obyek wisata lain yang melengkapi kota Sawahlunto, ada Danau Kandi. Ada ekoswisata. Ada Taman Safari Mini. Ada Waterboom. Ada tempat makam Prof.MR.H Muhammad Yamin merupakan salah seorang putra terbaik bangsa Indonesia yang dilahirkan dan dimakamkan di Talawi kota Sawahlunto. Sawahlunto terus mempercantik diri menjadi kawasan obyek wisata yang pantas dan layak untuk dikunjungi. (endy)

27
Nov

CAGAR BUDAYA KAMPUNG TUGU BUTUH PERHATIAN

Posted in Uncategorized  by wisatanews on November 27th, 2008
Comments Off

MESKI lokasinya di ibukota Jakarta, pusat pemerintahan, pusat perputaran uang, pusat kebudayaan namun soal kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya, nampaknya masih sangat rendah. Buktinya, Kampung Tugu di daerah Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, kurang mendapat perhatian serius.

Warisan budaya kolonial Portugis yang menjadi salah satu cagar budaya Indonesia, kini kondisinya terawat namun keberadaanya terabaikan dan tidak terjaga dengan baik. Yang menyedihkan lagi, salah satu cagar budaya bangsa Indonesia sudah diambang kepunahan. Menyedihkan memang.

Peninggalan yang masih kokoh sebuah Gereja Tugu yang berusia 260 tahun, yang tetap sesuai aslinya. Juga ada kuburan orang-orang keturunan Portugis, yang juga terabaikan. Selain itu, akses jalan ke kampung Tugu amburadul.

Kampung Tugu sekarang dihuni oleh masyarakat yang heterogen dan warga keturunan Portugis menjadi bagian di dalamnya. Mereka sekarang berada di tengah-tengah permukiman penduduk yang berasal dari berbagai suku dan agama. Tidak terelakkan lagi, saat ini mereka sudah menjadi warga minoritas di kampung sendiri.

Orang Tugu atau warga asli Kampung Tugu, telah menjalani kehidupan lebih dari tiga setengah abad, sejak pertengahan abad ke-17, saat Jakarta disebut Batavia dan menjadi kota pusat kekuasaan perusahaan dagang Belanda di Hindia Timur (VOC).

Nenek moyang orang Tugu adalah orang Portugis dari Malaka. Mereka dibawa ke Batavia sebagai tawanan perang, setelah pasukan VOC merebut kota pelabuhan di Semenanjung Melayu itu dari tangan Portugis pada 1641.

Menurut catatan sejarah, tawanan perang yang diangkut pulang ke Batavia dari Malaka ketika itu berjumlah 23 keluarga atau 150 jiwa. Sebagian besar merupakan orang-orang berdarah campuran, hasil perkawinan lelaki Portugis dengan perempuan lokal asal berbagai daerah koloni Portugis di Asia, seperti Malabar, Kalkuta, Surat, Pantai Koromandel, Goa, dan Ceylon (Sri Lanka), serta dari Malaka sendiri.

Di Batavia, mereka dimukimkan oleh Kompeni Belanda di daerah Tugu, sekiar 20 kilometer sebelah tenggara kota pelabuhan itu. Tugu ketika itu masih berupa kawasan hutan dan rawa-rawa yang merupakan sarang nyamuk malaria dan berbagai sumber penyakit lain. Di sana mereka berusaha bertahan hidup dengan berburu binatang liar, menangkap ikan, dan mengumpulkan hasil hutan.

Setelah memeluk agama Kristen Protestan, agama resmi Kerajaan Belanda, mereka yang awalnya beragama Katolik dibebaskan dari status sebagai tawanan perang. Itu sebabnya, mereka disebut de mardijkers atau orang merdeka. Sebuah gereja dibangun bagi mereka yang bersedia menghapus nama-nama keluarga Portugis, dan menggantinya dengan nama-nama Belanda.

Populasi orang Kampung Tugu kini diperkirakan sekitar 1.200 jiwa. Kurang-lebih separuhnya, yakni 300 orang, masih tinggal dan bekerja di Kampung Tugu, terutama di sekitar gereja tua mereka.

Sekitar 500 orang Tugu lainnya kini tinggal di Belanda. Mereka adalah keturunan orang-orang Tugu yang tahun 1950 melakukan eksodus ke Hollandia (Jayapura, Papua), sebelum kemudian bemigrasi ke Belanda lewat Suriname . Sisanya sekitar 100 orang saat ini bermukim tersebar di berbagai daerah lain di Indonesia, termasuk di Jayapura.

Di mana pun mereka berada, orang-orang Tugu merasa bersaudara satu dengan yang lain. Pertautan darah, kesamaan sejarah, serta ikatan kebudayaan merupakan hal-hal yang selalu dapat menyatukan pikiran dan perasaan mereka.

Masyarakat Kampung Tugu kini ikut menjadi bagian dari masyarakat Jakarta yang majemuk. Warisan kebudayaannya yang khas, termasuk musik kroncongnya, dianggap sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan nasional yang tak ternilai harganya.

Di saat pemerintah sedang gencar-gencarnya menjadikan Indonesia sebagai tempat kunjungan wisata (Visit Indonesia Year), Kampung Tugu yang sering didatangi turis asing, justru terabaikan. Tidak ada iktikad baik dari pemerintah untuk mengembangkan Kampung Tugu sebagai salah satu objek wisata sejarah yang patut dibanggakan. Juga butuh perhatian. Siapa peduli? (endy)

Tags: